Nyala Seni Tari Tak Pernah Padam

Dilihat 1304 kali
Tari Jayapurusa Sariwahana

Pada setiap tanggal 29  April setiap tahunnya,  sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Hari Tari Sedunia diselenggarakan dengan cukup meriah di beberapa daerah.


Perhelatan 24 jam menari tersebut, banyak disemarakkan oleh penari lintas generasi, mulai dari  penari usia dini, pelajar, mahasiswa, hingga para maestro seni tari dari berbagai daerah di Indonesia. 


Namun untuk tahun ini, tentunya penyelenggaraannya akan  berbeda. Dikarenakan ada kebijakan pemerintah untuk semua kegiatan harus menaati pembatasan sosial dan pembatasan fisik guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Walaupun begitu, tentunya kegiatan bisa dilangsungkan di rumah masing-masing yang tidak meninggalkan spirit perayaan tersebut dengan kegiatan secara virtual.


Memberi pencerahan


Perayaan Hari Tari Sedunia diperingati tiap tahunnya karena adanya kesadaran bahwa seni tari dapat memberi pencerahan dan menjadi bingkai kohesi sosial. Bila ditelisik lebih jauh, Hari Tari Sedunia selalu diperingati untuk untuk mengenang kelahiran Jean-Georges Noverre (1727-1810), seorang pencipta tari balet modern berkebangsaan Perancis.


Noverre dikenal dengan karya fenomenalnya berjudul Lettres sur la danse et les ballets yang diterbitkan pada 1760 dalam usia 33 tahun.


Setiap tahun, seorang koreografer atau penari terkemuka diundang untuk menyampaikan Pesan Hari Tari Internasional yang lantas dikirim ke penjuru dunia. Pemilihan siapa yang mendapat kehormatan itu    dilakukan Komite Tari Internasional sebagai penggagas Hari Tari Sedunia.


Sedangkan Peringatan Hari Tari Sedunia pertama kali diperkenalkan pada 1982 oleh Komite Tari Internasional dari Institut Teater Internasional (ITI). Lembaga ini merupakan LSM mitra dari Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan UNESCO (https://www.kompasiana.com).


Sudah lebih dari satu dasawarsa, perayaan hari tari selalu diisi dengan menari selama 24 jam. Bentuk ini tidak sekadar memberi ruang berekspresi kepada seniman, tetapi lebih menjalin relasi persaudaraan di antara perbedaan. Terlebih lagi Indonesia dengan berbagai ragam potensi seni tari yang dimiliki, dapat menumbuhkan magnet komunikasi yang langsung menyentuh intuisi.


Sebagai bentuk seni pertunjukan, kehadiran seni tari tengah-tengah komunitas tidak bersifat independen. Di dalamnya bisa diamati dari perspektif tekstual dan kontekstual. Secara tekstual, seni tari dapat dipahami dari bentuk dan teknik berkaitan dengan komposisinya.  Adapun secara kontekstual, akan bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu baik sosiologi maupun antropologi yang merupakan bagian integral dengan dinamika sosio-kultural masyarakat (Sal Murgiyanto, 2018).


Namun realitanya asumsi sebagian besar masyarakat masih menganggap seni tari itu hanya sekadar  santapan estetis. Padahal di dalamnya sarat nilai humaniora yang banyak memberi tuntunan hidup.


Media Refleksi


Di tengah situasi dan kondisi yang masih dicekam oleh Covid-19 ini, harusnya para seniman atau pekerja seni  tidak terjebak dalam kepanikan dan kecemasan. Seyogianya cobaan ini malahan bisa menjadi media refleksi untuk bangkit dan terus melakukan proses kreatif dengan berbagai terobosan. Regulasi pembatasan sosial dan fisik tidak menutup terus berkarya walau hanya dari rumah.


Koreografer Eko Supriyanto dari Solo tahun lalu mengawali kegiatan pertunjukan virtual berbagi seni koreografi yang menuai sukses. Seni pertunjukan  virtual yang digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud ini bisa menjadi alternatif hiburan sekaligus media belajar di rumah selama pandemi Covid-19. 


Yayasan Swargaloka Jakarta di akhir bulan Januari 2021 sampai pertengahan Maret 2021 dengan koreografer Batara Saverigadi Devandoro berhasil menciptakan Tari Ksatria untuk ajang kompetensi tari kelompok secara virtual berskala intersional.


Sedangkan Disparpora Kabupaten Magelang pada awal Februari 2021 telah membuka pentas seni budaya virtual yang mengakomodasi para seniman tari dalam melakukan proses kreatifnya. 


Dengan demikian, dalam situasi pandemi seperti ini,  Perayaan Hari Tari Sedunia tetap bisa dilaksanakan walau hanya dari rumah masing-masing. Setiap tanggal 29 April semua komunitas tari yang berminat bisa melaksanakan kegiatan menari di rumah sesuai  tingkat kemampuan masing-masing. Akan lebih optimal bila kegiatan bisa diunggah ke channel youtube.

 

Dengan melaksanakan perayaan Hari Tari Sedunia di rumah, sudah merupakan bagian dari kontribusi besar agar seni tari tetap dapat survive  walaupun situasi negara sedang mengalami cobaan berat. Justru ketika melaksanakan kegiatan menari di rumah, spiritnya lebih mendalam ketimbang di dalam ingar bingar suatu perhelatan spektakuler.

 

Karena kalau disadari seorang yang menari pada dasarnya bukanlah orang yang sekadar menggerakkan badannya untuk bergerak dalam pola gerakan-gerakan tertentu. Menari sesungguhnya sedang meniti rasa,  menjalani pencarian dan penemuan tentang jati dirinya. Bila dilakukan secara intensif, penari akan memukan roh pola dan karakter tari yang sesungguhnya. Bukan hanya bentuk roh pola dan karakter gerakan manusia, tapi juga nilai budaya yang mempengaruhi. Pencarian tersebut merupakan pengalaman berharga yang bisa dibagikan dengan  penonton.


Dengan tetap merayakan Hari Tari Sedunia, tentunya  akan terwujud ikatan solidaritas yang kuat antar seniman seni tari. Solidaritas nantinya akan mewujud pada kekuatan jejaring di antara mereka, sehingga ikatan emosionalnya untuk merajut komunikasi   semakin membumi.


Walaupun dunia kesenian dikepung Covid-19, namun nyala seni tari tetap berkobar dengan berbagai ide kreatif para senimannya untuk tetap berkarya.


Selamat Hari Tari  Sedunia tahun 2021.


(Penulis: Ch. Dwi  Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar