Pendidik Kreatif Siap Mengimplementasi Kurikulum Merdeka

Dilihat 1037 kali
Dalam kreativitas, ada unsur imajinasi, kecerdasan, intuisi, terobosan, tantangan, semangat, fokus, dan temuan.

Oleh: P. Budi Winarto, S.Pd*)


SEPERTI apa pendidik kreatif itu? Kata kreatif bermakna memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan (KBBI, 2016). Kalau yang diciptakan itu berupa ide, ide kreatif itu hendaknya memiliki tiga komponen, yaitu ide itu harus menunjukkan sesuatu yang berbeda, baru, atau inovatif; ide itu harus sungguh berkualitas, dan ide itu harus sesuai dengan tugas yang dihadapi (Kaufman dan Sternberg, 2007 dalam Jeffrey K and Lisa F. Smith, 2010). Sementara itu, kalau berupa produk kreatif, produk yang diciptakan hendaknya memiliki dua karakter pokok yaitu originality dan meaningfulness to others (Richards, 2007 ibid). Jadi, kreativitas merujuk pada unsur daya cipta sesuatu yang baru dan berbeda dari yang sudah ada, yang asli berupa temuan atau telah diinovasi, yang bermutu, dan bermakna bagi orang lain.

Dalam kreativitas, ada unsur imajinasi, kecerdasan, intuisi, terobosan, tantangan, semangat, fokus, dan temuan. Orang kreatif memiliki intuisi yang kuat dan mampu berimajinasi untuk melakukan terobosan-terobosan baru sehingga muncul temuan-temuan baru. Mereka ini cerdas, memiliki gagasan cemerlang, penuh semangat, suka tantangan, dan fokus dalam melakukan sesuatu. Kreativitas seseorang tidak akan habis. Semakin sering diasah, semakin banyak kreativitas yang muncul “You can’t use uap creativity;the more you use, the more you have” (Maya Angelou).

Sementara itu, terkait dengan karakteristik guru kreatif, Theresa Cremin (2015) dalam artikel yang berjudul “Creative Teachers and Creative Teaching” mengutip pendapat beberapa ahli (Torrance, 1965; Stein, 1974; Beetlestone, 1998; Jones dan Wyse, 2004; grainger et, al.,2004) mengenai karakter personal guru kreatif (Cretive teacher). Beberapa karakter itu di antaranya adalah guru kreatif memeiliki rasa ingin tahu yang besar, kemandirian dalam berpikir dan membuat keputusan, intuisi idealisme, kemampuan mengemban tugas-tugas, ketekunan dan ketegasan, keahlian dibidangnya, dan tidak konvensional. Guru juga harus memiliki rasa percaya diri, semangat dan komitmen.

Rasa ingin tahu (curiousity) yang besar mendorong guru untuk terus belajar dengan mengembangkan diri (self continuing professional development), baik melalui usaha belajar mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar, melalui usaha belajar dari orang lain dengan bertanya dan menimba pengetahuan serta keterampilan, maupun mengikuti aneka pendidikan dan pelatihan. Dampaknya, guru akan semakin ahli di bidangnya (expert) dan membuat guru semakin percaya diri (confident).

Sikap penuh semangat (enthusiastic) serta komitmen kuat sebagai guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka sangat berdampak pada pelaksanaan proses pembelajaran sehingga siswa terdorong juga untuk bersemangat, bersungguh-sungguh, dan fokus dalam belajar. Sikap ini juga tercermin dalam tekad dan tanggung jawab melaksanakan tugas-tugas yang harus diemban dengan sepenuh hati. Ada idealisme sebagai guru sehingga guru tidak akan mengajar sekadar untuk memenuhi kewajiban tetapi mengajar menjadi perwujudan tanggung jawab moral untuk memenuhi panggilan sebagai guru.

Sikap mandiri (independent) guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka akan tampak saat memilih dan mengembangkan materi ajar, menerapkan berbagai metode pembelajaran, menggunakan aneka media pembelajaran, dan melakukan evaluasi proses pembelajaran. Dalam upaya ini, sebagai guru harus memiliki kemandirian untuk meng-update dan meng-upgrade pengetahuan dan kemampuan sehingga tidak konvensional. Sebaliknya, guru juga harus mampu untuk beradaptasi dengan tuntutan zaman dan menyesuaikan (fleksibel) dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sikap tekun (persistent) guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka akan tercermin dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaannya, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, sampai evaluasi pembelajaran. Guru juga akan dengan tekun mengikuti perkembangan setiap siswa sehingga berbagai kendala dan hambatan dalam belajar siswa saat dimulainya implementasi kurikulum merdeka ini dapat diatasi dengan baik. Untuk itu, sebagai guru sangat perlu mengenali satu persatu siswa secara mendalam. Di masa peralihan dari kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka ini, supaya guru dapat lebih mengenal secara mendalam siswa-siswi saya, setiap saat guru juga perlu berkeliling mengunjungi rumah siswa-siswinya, sekaligus untuk memantau dan mencari tahu kendala-kendala dan hambatan-hambatan apa yang dialami siswa-siswi saya dalam belajar di masa peralihan ini.

Selain hal-hal tersebut, sebagai seorang guru juga perlu membangun nilai-nilai sosial (Jeffry & Craft, 2006 dan Woods, 1995 dalam Ayob, Hussain, dan Majid, 2013). Kegiatan dalam pembelajaran dirancang dengan mengedepankan keterlibatan siswa, misalnya melalui group work, cooperative atau collaborative learning, prject-based learning yang mengkondisikan siswa untuk saling berinteraksi, berdiskusi, mencari solusi bersama, bekerjasama, berkolaborasi sehingga mereka belajar sekaligus menerapkan nilai-nilai sosial untuk saling mendengarkan, saling menghargai, saling membantu, saling bertanggung jawab dan saling berbagi. Hal demikian akan sangat berguna untuk membentuk karakter siswa agar tidak egois. Sebaliknya sikap peduli, tenggang rasa, dan gotong-royong sebagai anggota komunitas dapat terbangun, lebih-lebih di masa peralihan kurikulum ini.

Kreativitas Sebagai Guru

Dengan mendasarkan pada kompetensi yang harus dicapai siswa, sebagai guru juga harus menciptakan atau berinovasi dengan materi yang diajarkan, metode pembelajaran yang diterapkan, media pembelajaran yang digunakan, model evaluasi yang diterapkan untuk mengukur ketercapaian kompetensi.

Untuk itu, guru diharapkan selalu mengajak siswa-siswi untuk berdialog dan membuat kesepakatan dalam menentukan media dan metode pembelajaran yang cocok dan paling memungkinkan untuk dijalankan. Hal ini, tentu dengan mempertimbangkan dari berbagai kendala dan keterbatasan yang dihadapi siswa.

Selanjutnya, guru juga harus selalu meminta pendapat siswa ketika media dan metode yang telah disepakati itu dijalankan; apakah dengan metode itu, mereka mampu memahami materi dengan baik; apakah dengan media itu mereka merasa nyaman; guru juga harus selalu membuka usulan dari siswa bagaimana membuat proses pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan mudah diikuti.

Selain itu, guru juga harus terbuka dengan sesama guru untuk saling belajar (peer learning) agar bisa saling memperkaya, baik wawasan pengetahuan baru, kemampuan menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maupun pengalaman menerapkan metode pengajaran. Dengan begitu, sebagai guru akan dengan kreatif mampu mengubah, menyesuaikan, berinovasi, atau menciptakan materi ajar, media pengajaran, dan metode pengajaran yang berkualitas. Harapannya tentu guru akan semakin mampu menyelenggarakan pembelajaran yang kreatif untuk memfasilitasi peserta didik mencapai kompetensi dengan baik dengan proses belajar yang menyenangkan di masa peralihan kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka. Semoga.


Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar