Wayang Berbasis Relief Candi Borobudur

Dilihat 1647 kali
Seniman Kelik dari Bale Mijil Candirejo Borobudur memberikan pelatihan wayang berbasis relief kepada salah satu peserta pelatihan, Tri Wahyuni Mahasiswi Adimistrasi Negara Untidar Magelang. Candi Borobudur dapat menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering untuk digali melalui berbagai media, termasuk seni pertunjukan.

Sebagai suatu bentuk seni pertunjukan, wayang merupakan media komunikasi yang sudah berjalan dalam kurun waktu cukup lama. Sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha seperti Kediri, Jenggala, sampai Majapahit, wayang sudah menjadi bahasa komunikasi untuk memberikan pencerahan kepada publik, terutama terkait dengan nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya. Bahkan ketika masa-masa kerajaan Islam berjaya di Nusantara, oleh para wali, wayang dipakai sebagai media komunikasi efektif untuk melakukan syiar agama.


Sampai saat ini pentas seni pertunjukan wayang, baik itu wayang kulit, wayang orang, wayang topeng, dan berbagai jenis wayang lainnya masih tetap berlangsung dengan segala dinamikanya. Pagelaran wayang tersebut dapat dikatakan mengandung nilai hidup serta kehidupan luhur yang dalam setiap akhir cerita selalu memenangkan nilai-nilai kebaikan dan mengalahkan kejahatan.


Hal tersebut menandakan, suatu ajaran moral bahwa perbuatan baik akan selalu unggul, sedangkan perbuatan jahat akan selalu menerima kekalahannya. Begitu besarnya peran seni pertunjukan wayang dalam kehidupan berbudaya di dalam masyarakat, maka tidak berlebihan dapat dikatakan bahwa wayang merupakan suatu identitas utama yang mengandung nilai keteladanan dalam kehidupan komunitas.


Dalam korelasinya dengan keteladanan yang mengandung nilai keutamaan tersebut, sampai sekarang wayang masih menjadi pijakan atau konsep dalam meniti kehidupan manusia. Banyak keluarga-keluarga yang memberi nama anaknya dengan tokoh-tokoh wayang, seperti Suryaputra dengan harapan anaknya memilkiki prinsip yang konsisten dalam memegang janji kesetiaannya terhadap negara. Ada juga yang memberi nama Kresna yang berharap nanti anaknya memiliki kecerdasan dalam mengarungi samudera kehidupan. Termasuk juga nama-nama tokoh wayang lainnya yang dapat menjadi lambaran nilai kehidupan yang diyakini (Purwadi, 2006).


Ide Inspiratif


Merujuk bahwa seni pertunjukan wayang merupakan seni pertunjukan yang bukan sekadar tontonan namun juga mengandung tuntunan hidup, terlebih UNESCO sudah menetapkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya-karya Agung Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia), maka diperlukan ide inspiratif agar dapat komunikatif dan pesannya tersampaikan kepada publik.


Bale Mijil Dusun Brangkal Desa Candirejo Borobudur Kabupaten Magelang berusaha mewujudkan ide inspiratif tersebut dengan menyelenggarakan pelatihan wayang kulit bagi komunitas umum, baik itu aspek seni pertunjukan maupun seni kriyanya. Latihan yang berlangsung setiap hari Sabtu dan Minggu sore tersebut banyak diminati oleh berbagai kalangan, karena ceritanya mengambil dari relief-relief Candi Borobudur.


Untuk sementara yang dipelajari adalah cerita Kelinci di Bulan, karena ceritanya sudah banyak dikenal, pendek, komunikatif, serta sarat akan tuntunan moral. Cerita tersebut berada di lantai 1, timur luar-atas, pada panel 23-25. Mengisahkan Bodhisattwa lahir kembali sebagai seekor kelinci. Hewan kelinci dan tiga sahabatnya yaitu berang-berang, kera, dan serigala bertekad memberi derma kepada pertapa. Adapun pesan moralnya adalah kesungguhan hati untuk memberikan yang terbaik.


Di samping itu, komunikasi dalam pelatihan tersebut menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris agar lebih komunikatif. Tujuan ke depannya, Borobudur sebagai destinasi wisata memiliki produk wayang berbasis relief yang nantinya dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung, belajar, dan juga mengonsumsi wayangnya.


Kelik sebagai instruktur pelatihan wayang di Bale Mijil yang juga warga asli Borobudur memiliki komitmen untuk menularkan kemampuannya. Peserta pelatihan di samping mendapatkan pengetahun sabet (memainkan wayang) juga mendapatkan pengetahuan komunikasi pariwisata budaya, karena Kelik sampai saat ini juga di samping seniman juga berprofesi sebagai pemandu wisata.


Bila dikaji lebih jauh, Candi Borobudur merupakan perpustakaan kehidupan yang tak pernah kering untuk digali sampai kedalamannya. Detail dari setiap guratan reliefnya menyimpan beragam cerita kebajikan luar biasa dan tak habis untuk digali sebagai sumber inpirasi. Di dalamnya juga menyimpan oase serta nafas kehidupan yang menjadi pemantik setiap orang untuk selalu belajar menggali setiap kandungan ilmu baik yang tersirat maupun tersurat.


Spektakuler dan kebesaran Candi Borobudur menjadi sangat istimewa karena memiliki 2.672 panel relief yang terdiri dari 1.212 panel relief dekoratif dan 1.460 panel relief naratif. Dalam panel naratif tersebut termuat begitu banyak cerita, di antaranya cerita Jataka. Cerita ini mengisahkan perwujudan Boddhisattva dalam berbagai wujud manusia maupun hewan dalam beberapa cerita kehidupan. 


Cerita-cerita tersebut bersumber dari Kitab Jatakamala, pada umumnya banyak disukai karena sifatnya yang memikat dan empati yang dibangkitkan dalam cerita tersebut merupakan refleksi juga perjuangan mereka sendiri yang tercermin dalam kehidupan Bodhisattwa. Sosok yang menuju pada pencerahan hidup, yang telah melewati semua tahapan, serta dinamika kehidupan beragam (Anandajoti Bhikku, 2020).

 

Kontribusi Tulus


Sebagamana yang telah dilakukan oleh Bale Mijil Candirejo dengan melakukan pelatihan rutin seni pertunjukan wayang, baik dari sisi teknis maupun non teknis tersebut merupakan kontribusi tulus yang dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa Candi Borobudur nilai-nilai etika dan estetikanya bisa diekspresikan melalui berbagai cabang seni.


Di samping itu, perlu menjadi pemahaman bersama, bahwa Candi Borobudur merupakan pusaka dunia yang di dalamnya mengandung nilai-nilai ajaran kehidupan. Seyogianya pengunjung datang ke Borobudur tidak hanya sekadar mengagumi kemegahan dan keindahan bangunan fisiknya saja, namun perlu juga memahami kandungan nilai-nilai kehidupan yang terdapat di balik bangunan fisiknya.


Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, bahwa objek pemajuan kebudayaan tersebut tidak hanya terevitalisasi dalam kehidupan komunitas, namun juga terlukis pada pahatan relief Candi Borobudur, seperti Karmawibangga, Lalitawistara, Jataka, Avadana, serta Gandavyuha. Dalam pahatan relief tersebut tercermin berbagai nilai-nilai ajaran kehidupan universal.


Dengan demikian, peran berbagai komponen masyarakat sangat diharapkan untuk dapat menggali nilai-nilai universal tersebut melalui berbagai media, termasuk seni pertunjukan. Semakin banyak partisipasi masyarakat yang terlibat dan peduli secara nyata dalam tindakan praksis, menandakan bahwa dinamika berpikir untuk memberikan kontribusi pada pemajuan kebudayaan dapat terealisasikan secara faktual, bukan hanya sekadar obsesi saja.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar