Perpustakaan Muda Bhakti, Lahirkan Budaya Literasi Warga Lereng Merapi

Dilihat 2370 kali
Asisten Administrasi Umum Setda Magelang, Endra Wacana (kanan) didampingi Camat Srumubung, Taufik Hidayat (kiri) dan Kasi Perpustakaan Muda Bhakti, Kasihan (tengah), membaca koleksi buku, Senin (12/03)

BERITAMAGELANG.ID - Membaca buku bagi sebagian orang mungkin adalah hal yang membosankan. Namun tidak demikian bagi warga Dusun Purwosari, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Membaca telah menjadi budaya bagi warga. Dengan sekuat tenaga, mereka mempertahankan tradisi literasi di antara bahaya erupsi Gunung Merapi. Lokasi Gedung Perpustakaan Muda Bhakti kini berdiri megah di antara rumah warga Dusun Purwosari, atau 700 meter dari Pos pemantauan Gunung Merapi.

 

"Perpustakaan Muda Bhakti dirintis oleh Muhadi, seorang guru SD sekitar tahun 2000 silam dan secara swadaya menumpang di gedung Karang Taruna," ujar Kasihan, Kasi Perpustakaan Muda Bhakti saat ditemui BeritaMagelang.id, Senin (12/03).

 

Awal dirintis, sambung Kasihan, Perpustakaan Muda Bhakti hanya memiliki 400 koleksi buku hasil dari sumbangan warga setempat. Seiring berjalannya waktu, kerja keras pengurus perustakaan dan Karang Taruna mengajak warga untuk gemar membaca di perpustakaan mulai membuahkan hasil, warga mulai sering berkunjung ke perpustakan.


"Perpustakaan Bhakti Muda sempat mengalami dua kali pergantian pengurus pada tahun 2004, dan tahun 2016 mulai eksis kembali. Pada tahun 2004, perpustakaan Muda Bhakti berhasil meraih Juara 1 Lomba Perpustakaan pada tingkat Kabupaten Magelang, dan meraih Juara Harapan 2 di tingkat provinsi," papar Kasihan.


Hampir setiap hari sepulang jam sekolah, atau bakda sholat ashar dan hari libur, perpustakaan saat itu selalu ramai dikunjungi anak-anak dan orang tua. Melihat kenyataan itu pengurus perpustakaan dan Karang Taruna mulai menghimpun koleksi buku tambahan dari berbagai pihak. 


Tapi Gunung Merapi tak pernah ingkar janji, erupsi besar tahun 2010 terjadi, perpustakaan Bhakti Muda seakan mengalami mati suri akibat buku dan ruang baca yang sudah tua rusak akibat terjangan lahar dingin.


Perpustakaan milik desa ini mulai menggeliat lagi sekitar tahun 2013, dan hingga saat ini koleksi buku sudah mencapai 1.200 judul dari donasi berbagai pihak dan pemerintah. Atas kesepakatan warga setempat, dilakukan pembangunan gedung perpustakaan pada tahun 2017 di tanah kas desa setempat dengan luas 42 meter persegi.

 

"Gedung perpustakaan baru kini memiliki dua lantai yang dapat menampung sekitar 50 orang. Lantai dasar digunakan untuk ruang baca perpustakaan dan lantai dua adalah ruang audio visual untuk pemutaran film," terang Kepala Desa Ngablak, Ahmad Farihin.

 

Ahmad mengatakan, perpustakaan Muda Bhakti memiliki program inovatif untuk meningkatkan minat baca masyarakat, yakni dengan membangun kafe baca lengkap dengan fasiltas internet dan membentuk kader baca keluarga guna menghadapi era digital.

 

"Tujuannya agar para ibu-ibu bisa memberikan pendidikan melalui cerita pada anak-anaknya, dari buku-buku yang mereka baca di perpustakaan ini. Selain itu, juga sebagai salah satu upaya untuk mengikis cara mendidik anak dengan menggunakan gadget," ungkapnya.

 

Hingga saat ini, lanjut Ahmad, dari 7 Dusun atau sekitar 2.474 jiwa warga Desa Ngablak sudah terbentuk 15 kader baca keluarga yang aktif, terdiri dari para ibu-ibu rumah tangga yang memiliki anak-anak. 

 

Hal itu dilakukan guna menarik minat baca masyarakat. Perpustakaan Muda Bhakti terus menggencarkan program inovasinya yang mereka sebut dengan Kafe Baca dan Suluh Pustaka, guna menarik minat baca masyarakat untuk mempraktekkan buku yang mereka baca.

 

Camat Srumbung, Taufik Hidayat mengungkapan, dari 17 desa di Kecamatan Srumbung, sudah ada tiga desa yang memiliki perpustakaan mandiri, yakni Desa Bringin, Sudimoro, dan Ngablak. 

 

"Pembangunan perpustakaan desa masih terkendala dengan inisiatif pengelolaan APBDES dimana masing-masing desa tidak sama dalam kebutuhannya," ungkap Taufik. 

 

Sementara Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Magelang, Endra Endah Wacana saat berkunjung ke perpustakaan tersebut, mengapresiasi apa yang dilakukan masyarakat dan Pemerintah Desa Ngablak dalam upaya membangun budaya gemar membaca berserta kegiatan positifnya, seperti angklung dan outbond.

 

"Pemerintah Kabupaten Magelang mendukung seluruh desa menganggarkan dana desanya untuk pengembangan program perpustakaan seperti di Desa Ngablak Srumbung ini. Ke depan  pemerintah akan mengarahkan semua perpustakaan desa dari konvensional ke perpustakaan digital mengikuti perkembangan jaman," jelasnya.

 

Lebih lanjut diungkapkan, di Kabupaten Magelang terdapat 372 desa dan 21 Kecamatan, saat ini baru ada 166 desa yang memiliki perpustakaan, atau kisaran 40 persen. 

 

"Guna mendukung program tersebut, Pemerintah menganggarkan Rp 18 milyar untuk mendukung pembangunan infrastruktur, termasuk penyediaan fasilitas bagi kaum difabel dan fasilitas penunjang perpustakaan, seperti jaringan internet dan rak-rak buku," pungkas Endra.

 

Untuk meningkatkan budaya literasi ini, Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Magelang juga melakukan jemput bola ke masyarakat dengan mobil perpustakaan keliling dan program rak buku agar dapat menjangkau semua lapisan masyarakat di pelosok daerah di Kabupaten Magelang.

 


Editor Fany Rachma

1 Komentar

?? 13 Maret 2018 08:53
Salam literasi ^_^

Tambahkan Komentar