BERITAMAGELANG.ID - Di lereng perbukitan Desa Tirto, Kecamatan Grabag, pagi selalu datang lebih awal. Sejak fajar masih saput tanah, penduduk kampung sudah turun ke sawah dan ladang.
Dari kejauhan di tengah kebun, samar terdengar ketukan ritme orang menderes. Selain memanen hasil ladang, secara turun-temurun warga Tirto hidup dari menyadap getah tandan bunga aren.
Berada di kaki Gunung Andong dan Telomoyo, kontur tanah Desa Tirto cocok menjadi tempat hidup aren. Tanaman ini dapat tumbuh ideal pada ketinggian 500 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.
Aren berkembang subur pada tanah gembur, tanah vulkanis, dan lahan berpasir di tepian sungai. Akar aren dikenal kuat menahan air sehingga cocok dijadikan tanaman pencegah kekeringan dan longsor.
Di sela-sela pokok aren yang menjulang di Desa Tirto, Kabul Asrori (56 tahun), penyuluh swadaya sekaligus petani, memandangi batang-batang lirang yang ia tanam sejak 2008.
"Dulu tuk (mata air) di Dusun Kudusan tidak bisa dimanfaatkan karena debit airnya terlalu kecil. Sekarang sudah bisa dipakai warga menyalurkan air lewat pipa sampai ke rumah-rumah," kata Kabul Asrori.
Akar aren yang mampu penyimpan air, baru satu dari sekian banyak kegunaan tanaman ini. Pohon yang memiliki beragam sebutan, dari bak juk kata orang Aceh, bargot di Mandailing, atau moke di Flores ini, dikenal sebagai tanaman banyak fungsi.
Buahnya dipanen menjadi kolang-kaling, hasil sadapan tangkai bunganya diolah menjadi gula aren, sedangkan batangnya diproses menjadi pati.
Nilai Hidup Petani
Jauh sebelum program konservasi populer, Kabul Asrori sudah menanam apa saja yang bisa tumbuh di tanah desa. Dari tanaman keras, kopi, buah-buahan, hingga aren.
Kabul Asrori lahir dan tumbuh dari keluarga petani yang mengajarinya prinsip hidup sederhana untuk menanam sekarang dan menikmati hasil panen kemudian.
"Bapak saya itu petani. Dia nanam kelapa, kayu, kopi. Panennya setelah tua. Prinsip hidup itu yang terus saya bawa. Dulu tidak langsung terpikir untuk konservasi," lanjutnya.
Kabul mulai rajin blusukan ke pelosok kampung untuk menanam aren sejak 2008. Bibit pertamanya didapat dari pemberian mahasiswa KKN.
Jenis aren yang ditanam berbeda dari aren lokal. Jika bibit aren lokal baru panen pada usia tanam 20 tahun, aren jenis baru sudah bisa diambil niranya pada usia 16 tahun.
"Menanam pohon itu sudah jadi keseharian saya. Kebiasaan yang saya warisi dari bapak. Setelah tahu ada manfaatnya juga untuk kelestarian alam, saya semakin semangat menanam aren bahkan sampai ke desa-desa tetangga," terangnya.
Merintis Komunitas Lingkungan
Tahun 2010 Kabul Asrori menggagas komunitas Menjaga Telomoyo dan Andong Tetap Lestari Mentari atau Mentari. Paguyuban ini beranggotakan gabungan warga Kecamatan Grabag, Ngablak, dan Pakis yang punya perhatian khusus menjaga alam.
Warga ketiga kecamatan itu tinggal pada irisan wilayah tangkapan air dari Gunung Telomoyo dan Andong. Mereka punya kepentingan untuk menjaga ketersediaan air di wilayahnya.
"Paling tidak dari segi ekonomi, kami mendapatkan hasil dari panen aren. Kemudian dari hasil hutan terutama ketersediaan air bisa lebih terjaga," ujar Kabul Asrori.
Dari hasil pendataan terakhir di Desa Tirto saat ini sedikitnya terdapat 9.300 pohon aren. Hampir semua pohon saat ini sudah bisa dipanen.
Menurut Kabul Asrori, rata-rata warga Desa Tirto memiliki pohon aren yang siap produksi. Pemerintah Desa Tirto sendiri memiliki 600 pohon aren hasil adopsi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang.
"Saya yakin jumlahnya lebih banyak lagi. Waktu mendata kami sampai kewalahan. Para kadus hanya mendata pohon yang rata-rata tingginya lebih dari 3 meter. Yang kecil-kecil itu lebih banyak lagi," sebutnya.
Mengerek Nilai Ekonomi
Dampak paling terasa dari penanaman aren adalah diversifikasi pendapatan petani. Jika sebelumnya mereka hanya mengandalkan panen padi dan jagung, sekarang petani juga memanen nira, menjual ijuk, dan menjajakan kolang-kaling.
"Hampir tidak ada bagian pohon aren yang terbuang. Bahkan batang aren yang mati busuk di tanah pun bisa menyuburkan lahan," kata Kabul Asrori.
Sejak 2019, warga Desa Tirto membudidayakan kopi sebagai tanaman tumpang sari aren. Warga membentuk kelompok usaha bersama untuk memasarkan kopi yang mereka beri label Andong Tretes.
Luas kebun kopi di Desa Tirto mencapai 35 hektare. Kopi Tretes dinilai memiliki karakter rasa yang kuat karena tumbuh berdampingan dengan aren.
"Kami sudah panen beberapa kali. Kopi Tretes ini rasanya lebih punya kualitas dibanding kopi Temanggung. Mungkin karena perpaduan sari pati aren dan kopi itu bisa menyatu."
Pemerintah Kabupaten Magelang menilai upaya Kabul Asrori mempelopori penanaman ribuan pohon aren di Desa Tirto berdampak besar pada kelestarian lingkungan.
Sebagai penghargaan atas perjuangan tersebut, Pemkab Magelang menganugerahinya Bupati Awards 2025 untuk kategori pelopor Komunitas Peduli Lingkungan.
Tidak hanya berjuang sendirian, Kabul Asrori dinilai berhasil melibatkan warga hingga merintis komunitas pelestari lingkungan yang berkelanjutan. Mengambil nilai ekonomi dari alam tanpa perlu merusaknya.
"Kita itu yang penting berbuat baik. Apapun nanti hasilnya dikemudian hari yang penting sudah melakukan yang terbaik. Saya tidak pernah mengira mendapat penghargaan itu," ujar Kabul Asrori.

0 Komentar