Hipertensi Sering Jadi Penyebab "Silent Killer"

Dilihat 33 kali
dr. Antonius Prio Hartono, Sp.PD., Spesialis Penyakit Dalam pada RSUD Merah Putih Kabupaten Magelang saat menjadi narasumber dalam program talkshow "Jamus Gemilang" (Jagongan Lan Musyawarah) di LPPL Radio Gemilang, Senin(25/5/2026).

BERITAMAGELANG.ID - Hipertensi bukanlah persoalan medis yang bisa dipandang sebelah mata. Penyakit ini secara global telah menjangkiti lebih dari 1 miliar orang dan menjadi dalang di balik hilangnya 8 juta nyawa setiap tahunnya di seluruh dunia. Bahkan penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi kini kian marak menyerang berbagai lapisan usia.

Hal tersebut diungkapkan dr. Antonius Prio Hartono, Sp.PD., Spesialis Penyakit Dalam pada RSUD Merah Putih Kabupaten Magelang dalam program talkshow "Jamus Gemilang" (Jagongan Lan Musyawarah) di LPPL Radio Gemilang, Senin (25/5/2026). 

"Hipertensi kerap kali dijuluki sebagai si silent killer atau pembunuh senyap karena sebagian besar penderitanya sama sekali tidak merasakan gejala di fase awal. Tubuh mereka terlihat bugar dan bisa beraktivitas normal, namun di dalam tubuh, tekanan darah yang tinggi diam-diam merusak dinding pembuluh darah serta organ vital," ujar dr. Priyo, sapaan akrabnya.

Seseorang secara resmi didiagnosis mengidap hipertensi apabila hasil pengukuran tekanan darah di fasilitas kesehatan menunjukkan angka di atas 140/90 mmHg. Namun, dr. Priyo meluruskan bahwa diagnosis tersebut tidak bisa diambil hanya dari satu kali pemeriksaan secara acak, melainkan membutuhkan minimal dua kali pengukuran dengan jeda waktu serta dalam kondisi pasien yang benar-benar rileks dan tenang.

"Meskipun kerap datang tanpa tanda, masyarakat diimbau untuk peka terhadap sinyal-sinyal alarm yang diberikan oleh tubuh saat hipertensi mulai memicu komplikasi kronis.

"Gejala yang patut diwaspadai antara lain nyeri kepala hebat atau pusing di bagian tengkuk leher belakang, jantung berdebar-debar, sesak napas, nyeri dada, tubuh mudah lelah, penglihatan mendadak kabur, hingga munculnya pembengkakan di bagian kaki maupun wajah," jelas dr. Priyo.

Faktor risiko penyakit ini dibagi atas dalam dua kategori. Pertama, faktor yang tidak dapat diubah, seperti riwayat keturunan (genetik), pertambahan usia, dan jenis kelamin.

"Laki-laki tercatat memiliki kecenderungan lebih tinggi," ungkapnya.

Kedua, faktor yang dapat dimodifikasi atau diubah, yang sangat berkaitan erat dengan gaya hidup modern seperti kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik (mager), obesitas, stres, serta tingginya konsumsi makanan asin (tinggi garam) dan berlemak.

Guna menekan angka prevalensi komplikasi yang mematikan, seperti stroke, serangan jantung koroner, kebutaan, hingga gagal ginjal kronis yang mengharuskan tindakan cuci darah, Kementerian Kesehatan gencar mengkampanyekan gerakan hidup sehat lewat program "CERDIK".

Jurus penanganan mandiri tersebut meliputi:

- C (Cek kesehatan berkala): Melakukan skrining tekanan darah secara rutin sejak usia 18 tahun ke atas.

- E (Enyahkan asap rokok): Berhenti merokok demi menjaga elastisitas dan kesehatan pembuluh darah.

- R (Rajin aktivitas fisik): Melakukan olahraga aerobik ringan hingga sedang (seperti jalan kaki, jogging, atau bersepeda) minimal 30 menit per hari, sebanyak 3 hingga 5 kali dalam seminggu.

- D (Diet seimbang): Membatasi asupan garam dapur maksimal 1 sendok teh per hari, memangkas makanan berlemak, serta memperbanyak porsi sayur dan buah-buahan.

- I (Istirahat cukup): Memenuhi kuantitas tidur malam yang ideal selama 7 hingga 8 jam guna mengistirahatkan sistem sirkulasi tubuh.

- K (Kelola stres): Bijak menghadapi problematika kehidupan melalui relaksasi atau mengubah pola pikir agar tidak berdampak buruk pada kesehatan fisik.

Terkait aturan pengobatan bagi penderita yang sudah resmi terdiagnosis, dr. Priyo menegaskan, penanganan medis hipertensi umumnya bersifat jangka panjang dan membutuhkan kedisiplinan yang tinggi. Ia meminta masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah mitos keliru yang menyebutkan bahwa konsumsi obat penurun tensi setiap hari dapat merusak ginjal.

"Faktanya justru terbalik. Obat yang diresepkan oleh dokter berfungsi secara khusus untuk menstabilkan tekanan darah, sehingga organ jantung dan ginjal penderita justru terlindungi dari kerusakan parah. Kegagalan fungsi ginjal justru terjadi akibat tekanan darah yang dibiarkan melonjak tinggi tanpa kontrol obat," tegasnya.

Melalui edukasi interaktif ini, RSUD Merah Putih Kabupaten Magelang berharap warga kian sadar akan pentingnya deteksi dini di fasilitas kesehatan terdekat.

"Masyarakat diminta tidak lagi menunggu munculnya rasa sakit untuk melakukan pemeriksaan tensi, demi mewujudkan generasi yang lebih sehat dan terhindar dari ancaman fatal komplikasi pembunuh senyap," pungkasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Dalam rangka Waisak 2570 BE, bakti sosial pengobatan gratis WALUBI kembali hadir di Candi Borobudur. Melibatkan ribuan tenaga medis lintas agama, tradisi selama 30 tahun ini terus berlanjut demi meringankan beban sesama. Selamat Hari Raya Waisak 2026. #waisak #vesak #borobudur #magelang24jam ♬ original sound - kominfomagelang