BERITAMAGELANG.ID - Ibadah puasa Ramadan seringkali menjadi momok bagi penderita gangguan lambung. Keluhan dada terasa terbakar hingga sesak napas sering membuat penderita was-was. Namun, penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan nyaman asalkan memahami manajemen pola makan dan gaya hidup.
Hal tersebut dijelaskan dr. Noviana Fitri Wulandari, dokter umum RSUD Muntilan saat menjadi narasumber dalam program talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang, Kamis (5/3).
Perbedaan mendasar antara maag biasa dengan GERD yakn,i jika maag atau dispepsia umumnya berfokus pada peradangan di lambung dengan gejala nyeri ulu hati, GERD terjadi karena melemahnya katup kerongkongan bawah. Hal ini menyebabkan asam lambung naik kembali ke kerongkongan (reflux), yang seringkali menimbulkan sensasi panas terbakar di dada atau heartburn.
"GERD bukan berarti tidak boleh puasa. Justru dengan berpuasa, pola makan kita menjadi lebih terkontrol, frekuensi ngemil berkurang, dan berat badan lebih terjaga," ungkap dr. Fitri sapaan akrabnya.
dr. Fitri mengingatkan, GERD yang tidak terkendali bukan sekadar nyeri biasa. Jika dibiarkan kronis, asam lambung yang terus naik dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:
1. Esofagitis: Luka atau peradangan pada kerongkongan.
2. Penyempitan Kerongkongan: Terbentuknya jaringan parut yang membuat sulit menelan.
3. Barrett's Esophagus: Perubahan sel lapisan kerongkongan yang berisiko memicu kanker.
4. Masalah Pernapasan: Asam lambung yang terhirup ke paru-paru dapat memicu asma hingga pneumonia.
"Kasus GERD kini banyak menyerang usia muda dengan gaya hidup modern sebagai pemicu utama, seperti kebiasaan merokok, tingkat stres yang tinggi, konsumsi kopi berlebih, makanan berlemak, hingga kebiasaan langsung berbaring setelah makan yang sangat lazim di kalangan pekerja produktif," jelas dr. Fitri.
dr. Fitri memperingatkan adanya risiko jangka panjang jika GERD tidak ditangani dengan serius. Paparan asam lambung yang terus-menerus pada kerongkongan dapat menyebabkan luka (tukak), penyempitan saluran kerongkongan, hingga risiko yang lebih fatal seperti Barrett's Esophagus yang merupakan kondisi pra-kanker.
Untuk menjaga agar ibadah puasa tetap nyaman, dokter dari RSUD Muntilan ini membagikan beberapa tips praktis bagi masyarakat:
1. Atur Porsi Makan: Hindari makan berlebihan saat sahur dan berbuka. Mulailah berbuka dengan air putih hangat dan makanan ringan terlebih dahulu sebelum masuk ke menu utama agar lambung tidak "kaget".
2. Pilih Jenis Makanan: Batasi konsumsi makanan pedas, asam, berlemak tinggi (gorengan), serta minuman berkafein tinggi seperti kopi pekat.
3. Hindari Langsung Tidur: Kebiasaan langsung berbaring setelah makan sahur sangat tidak dianjurkan. Berikan jeda sekitar 2 hingga 3 jam agar proses pencernaan berjalan optimal dan mencegah asam lambung naik.
4. Kelola Stres: Stres dan emosi yang tidak terkontrol dapat memicu peningkatan asam lambung. Puasa menjadi momen yang tepat untuk melatih pengendalian diri secara fisik maupun psikis.
Masyarakat juga diimbau untuk waspada jika merasakan gejala yang menyerupai serangan jantung, seperti nyeri dada kiri yang menjalar hingga sesak napas dan keringat dingin.
"Jika kondisi tersebut muncul, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat," pesannya.
Dengan penerapan pola hidup sehat dan disiplin dalam mengatur menu sahur serta berbuka, penderita GERD diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang, aman, dan tanpa rasa cemas.
0 Komentar