BERITAMAGELANG.ID - Lima tahun perjalanan Forum Inklusi Disabilitas Kabupaten Magelang (Fidakama) menjadi momentum untuk mengevaluasi praktik baik sekaligus pembelajaran dalam memperkuat pembangunan yang inklusif dan setara. Hal tersebut mengemuka dalam Refleksi Lima Tahun Fidakama yang digelar di Balkondes Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan bertajuk "Refleksi Lima Tahun Fidakama: Praktik Baik dan Pembelajaran untuk Mendukung Inklusi di Kabupaten Magelang" tersebut menjadi ruang bersama untuk melihat kembali berbagai program yang telah dilakukan Fidakama, sekaligus merumuskan rekomendasi bagi penguatan inklusi disabilitas di Kabupaten Magelang.
Ketua Fidakama, Hendri Hernowo menjelaskan, Fidakama merupakan forum yang beranggotakan organisasi penyandang disabilitas, keluarga dengan anak disabilitas, serta relawan.
Selama lima tahun perjalanan, Fidakama telah menjalankan sejumlah program di berbagai desa lokus. Di antaranya Pioneer pada 2022, Aman Inklusi I pada 2024, serta Aman Inklusi II pada 2025.
Pada 2025, Fidakama juga terlibat dalam program Muda Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di Desa Girirejo dan Ngadiharjo serta penandatanganan Piagam Iklim.
Program yang saat ini sedang berjalan adalah Adaptasi, yang telah memasuki tahap akhir setelah dilaksanakan selama enam bulan. Program tersebut berkaitan dengan isu adaptasi perubahan iklim, penguatan kapasitas organisasi penyandang disabilitas, perempuan, dan pemuda, khususnya dalam ketahanan pangan dan mata pencaharian.
Program Adaptasi tersebut dilaksanakan di Desa Giri Tengah, Kecamatan Borobudur, yang menghadapi ancaman tanah longsor, serta Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, yang berada di kawasan rawan bencana erupsi Merapi.
Hendri mengatakan, perjalanan Fidakama selama lima tahun tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Berbagai tantangan, termasuk kegagalan dalam pelaksanaan kegiatan, menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk mencari solusi dan memperbaiki langkah ke depan.
"Kami akan kembali melihat apa saja yang sudah dilalui, praktik baiknya apa, pembelajarannya apa. Kami menyadari perjalanan itu tidak selalu tentang mudah. Kadang ada kegagalan, rintangan, hambatan, tapi juga berpikir untuk mencari solusi," katanya.
Melalui kegiatan refleksi tersebut, Fidakama berharap berbagai pengalaman dan praktik baik dari desa-desa mitra dapat menjadi bahan diskusi bersama dan dirumuskan menjadi rekomendasi bagi berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Magelang.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Fidakama dan organisasi mitra dari sejumlah kecamatan, di antaranya Borobudur, Salaman, Dukun, dan Ngablak, serta desa-desa mitra yang turut membawa produk dan berbagi pengalaman praktik baik dalam mendukung inklusi di tingkat masyarakat.
Bupati Magelang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Bela Pinarsi menyampaikan apresiasi kepada Fidakama yang selama lima tahun konsisten mengawal isu inklusi dan kesetaraan hak penyandang disabilitas.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Magelang, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Fidakama yang telah konsisten mengawal isu inklusi dan kesetaraan hak-hak penyandang disabilitas di Kabupaten Magelang selama lima tahun terakhir," ujar Bela.
Menurutnya, isu disabilitas tidak berdiri sendiri dan bukan hanya menjadi bagian dari urusan sosial. Inklusi disabilitas berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, aksesibilitas infrastruktur, hingga partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Selama lima tahun perjalanan Fidakama, berbagai program yang dikembangkan menunjukkan adanya pendekatan lintas sektor dalam mendorong lingkungan yang semakin ramah terhadap penyandang disabilitas.
"Fidakama telah menjadi mitra kritis sekaligus solutif bagi Pemerintah Kabupaten Magelang dalam mewujudkan lingkungan daerah yang ramah disabilitas," katanya.
Namun demikian, Bela menegaskan, perjalanan lima tahun tersebut bukan merupakan garis akhir. Masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu ditangani bersama, antara lain kondisi geografis Kabupaten Magelang yang berpengaruh terhadap akses fisik dan transportasi, belum meratanya kapasitas kelembagaan serta layanan publik yang ramah disabilitas, dan masih adanya stigma maupun cara pandang yang keliru terhadap potensi penyandang disabilitas.
Momentum refleksi lima tahun Fidakama dinilai penting untuk mengidentifikasi berbagai praktik baik yang telah memberikan manfaat agar dapat dikembangkan lebih luas, sekaligus menjadikan tantangan dan hambatan sebagai pembelajaran untuk perbaikan kebijakan dan program ke depan.
"Kita perlu mengapresiasi praktik-praktik baik, memahami pembelajaran dari setiap tantangan yang dihadapi, serta mengatur kembali strategi dan memperkuat koordinasi lintas sektor agar intervensi pembangunan ke depan semakin inklusif," jelasnya.
Pemkab Magelang berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dan memperkuat sinergi dengan Fidakama serta seluruh pemangku kepentingan.
"Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang tidak meninggalkan siapapun, no one left behind. Mari kita jadikan refleksi hari ini sebagai pemicu semangat baru untuk memperkuat regulasi, meningkatkan kualitas layanan publik, dan menghapus stigma demi Kabupaten Magelang yang lebih inklusif, adil, dan sejahtera bagi seluruh warganya," ajaknya.

@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar