BERITAMAGELANG.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang
bersama PMI, komunitas relawan dan sejumlah pihak lainnya telah menyalurkan
395.000 liter air bersih untuk masyarakat terdampak kekeringan hingga 8
September 2026. Bantuan tersebut menjangkau enam kecamatan, 15 desa dan 28 dusun,
dengan total penerima manfaat mencapai 1.692 kepala keluarga atau 6.944 jiwa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto mengatakan, distribusi air bersih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang mulai mengalami keterbatasan sumber air akibat musim kemarau.
"Distribusi sudah 395.000 liter air bersih yang menjangkau enam kecamatan, 15 desa, dan 28 dusun, dengan total penerima manfaat sebanyak 1.692 KK atau 6.944 jiwa," kata Bambang, Rabu (9/9/2026).
Dari total distribusi tersebut, BPBD Kabupaten Magelang sendiri telah menyalurkan 261.000 liter. Sementara sisanya berasal dari dukungan PMI, komunitas relawan dan pihak lainnya yang turut membantu pelayanan air bersih di wilayah terdampak.
Distribusi terbesar tercatat berada di Kecamatan Pakis sebanyak 115.000 liter, disusul Kecamatan Salaman 109.000 liter, Grabag 88.000 liter, Borobudur 52.000 liter, Ngablak 30.000 liter, dan Kaliangkrik 1.000 liter.
Menurut Bambang, dampak kekeringan mulai dirasakan terutama di sejumlah wilayah perbukitan dan lereng gunung Kabupaten Magelang. Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih perlu dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
"Kekeringan sudah mulai berdampak nyata pada beberapa wilayah perbukitan dan lereng gunung di Kabupaten Magelang, sehingga diperlukan distribusi air bersih secara intensif oleh BPBD dan berbagai mitra," ujarnya.
Data distribusi yang dirilis BPBD juga menunjukkan pelayanan masih berlangsung di sejumlah titik di Kecamatan Pakis, Salaman, Borobudur dan Tegalrejo. Bantuan disalurkan oleh BPBD, PMI maupun komunitas relawan.
Di Kecamatan Pakis, distribusi dilakukan antara lain di Desa Rejosari dan Kragilan. Sementara di Salaman, bantuan menjangkau wilayah Desa Kalirejo, Menoreh dan Sawangargo. Di Borobudur, distribusi dilakukan di sejumlah dusun di Desa Majaksingi.
Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan musim kemarau yang dikeluarkan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Dalam prediksi musim kemarau 2026, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Magelang, mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
Dalam prakiraan tersebut, BMKG juga menyebut puncak musim kemarau umumnya terjadi pada Agustus 2026, dengan sifat hujan selama periode kemarau diprediksi berada pada kategori Bawah Normal hingga Normal.
Artinya, kondisi yang mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Magelang saat ini sesuai dengan pola musim yang telah diprakirakan sejak awal tahun. Penurunan ketersediaan air di sejumlah wilayah menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi ketika periode kering berlangsung.
Bambang mengatakan jumlah distribusi air bersih hingga saat ini belum tergolong tinggi apabila dibandingkan dengan kebutuhan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diantisipasi karena kebutuhan air dapat meningkat apabila periode kering berlangsung lebih lama.
"Pendistribusian air saat ini belum terlampau tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun jika kemarau berlanjut hingga puncak musim kering September-Oktober, kebutuhan air bersih berpotensi meningkat dan jumlah wilayah terdampak dapat bertambah," katanya.
Menurut Bambang, pemerintah tidak hanya perlu mengandalkan distribusi air bersih saat kekeringan terjadi. Penguatan infrastruktur sumber dan jaringan air menjadi bagian penting untuk mengurangi kerentanan masyarakat pada musim kemarau berikutnya.
"Upaya mitigasi jangka panjang seperti pengembangan jaringan air bersih, konservasi mata air, embung, dan pipanisasi menjadi semakin penting," tegas Bambang.
Potensi berlanjutnya kondisi kering juga mendapat perhatian BMKG. Dalam rilis 30 Juli 2026, BMKG menyebut musim kemarau 2026 secara umum diprediksi lebih kering dari kondisi normal dan 437 Zona Musim atau 48,77 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari normal. BMKG juga menyebut curah hujan kategori tinggi baru diprediksi mulai muncul secara bertahap pada Oktober-November 2026.
Perkembangan tersebut menjadi alasan bagi BPBD Kabupaten Magelang untuk tetap mempertahankan kesiapsiagaan distribusi air bersih, khususnya pada wilayah yang sudah mengalami penurunan ketersediaan sumber air.
Di sisi lain, data lapangan menunjukkan penanganan kekeringan di Kabupaten Magelang tidak hanya mengandalkan BPBD. PMI dan jejaring relawan turut melakukan distribusi ke sejumlah titik, sehingga pelayanan dapat menjangkau lebih banyak wilayah sesuai kebutuhan.
Bambang menegaskan kolaborasi tersebut akan terus diperlukan selama masyarakat masih menghadapi keterbatasan air bersih.
"Distribusi air bersih terlaksana melalui kolaborasi BPBD, PMI, komunitas relawan, serta berbagai pihak pendukung lainnya," jelasnya.
Kepala Seksi Logistik BPBD Kabupaten Magelang, Agung Wahyu Prihatmanto mengatakan, distribusi air bersih masih terus berlangsung di sejumlah wilayah yang mengalami penurunan ketersediaan air selama musim kemarau.
"Distribusi air bersih terus kami sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah terdampak. Petugas melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan pasokan air bersih dapat menjangkau warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air," kata Agung.
Menurutnya, pemantauan lapangan dilakukan bersama pemerintah desa dan kecamatan agar kebutuhan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti ketika terjadi penurunan debit sumber air.
Agung menegaskan, pelayanan distribusi air bersih yang dilakukan BPBD Kabupaten Magelang tidak dipungut biaya. Masyarakat yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih dapat mengajukan permohonan bantuan melalui pemerintah desa setempat.
"Pelayanan distribusi air bersih dari BPBD tidak dipungut biaya atau gratis. Masyarakat yang butuh, dapat melaporkan kondisi kekurangan air bersih kepada Desa, nanti Kades akan menyampaikan permohonan tertulis kepada BPBD agar segera kami tindak lanjuti," ujar Agung.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan menghemat pemakaian selama musim kemarau, sekaligus menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia. Warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih juga diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah desa atau pihak terkait agar kebutuhan tersebut dapat segera ditindaklanjuti.
Agung mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi sumber air di lingkungannya.
"Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat air dan segera melaporkan jika mulai mengalami kesulitan air bersih," pesannya.
@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar