Budaya Makanan Tradisional

Dilihat 22010 kali
Jajanan pasar makanan tradisional dari Jawa Tengah
Di Nusantara ini memiliki keragaman makanan tradisional yang kaya. Dalam makanan dominasi dari para penikmatnya yang senang dinikmatinya adalah perbedaan dan kekhasannya. Makanan menjadi ilustrasi untuk mengenal keberagaman dan sekaligus rekognisi atas keberagaman tersebut.

Berbagai ragam makanan itu bisa dinikmati sesuai dengan adat daerah setempat termasuk cita rasanya. Seperti makanan khas ayam betutu dari Bali. Ayam betutu adalah lauk yang terbuat dari ayam yang utuh yang berisi bumbu kemudian dipanggang dalam api sekam.

Di Aceh ada makanan karee kameng. Makanan ini merupakan sajian paling favorit. Karee kameng dalam bahasa Indonesia disebut kare kambing adalah lauk yang hampir selalu ada di setiap kedai nasi maupun di berbagai perhelatan.

Sedangkan di Jawa tengah dikenal ada makanan tempe mendoan. Kekhasan tempe mendoan ini merupakan sebuah makanan yang dibuat dari tempe dengan ukuran tempe yang lebar. Tempe mendoan merupakan makanan khas Jawa Tengah yang cukup sederhana akan tetapi jika dicampur dengan cabai atau sambal rasanya sangat lezat. Tentunya di seluruh penjuru Nusantara mempunyai makanan tradisional dengan ciri dan rasanya yang spesifik.

Unsur Budaya Sentral

Pada dasarnya makanan tradisional merupakan salah satu unsur budaya yang berkedudukan cukup sentral, karena makanan berhubungan dengan pembiasaan tubuh, khususnya lidah. Lidah yang sudah dibudayakan secara Jawa, akan memiliki kecenderungan cita rasa berbeda dengan daerah lainnya, misalnya dengan cita rasa orang Batak. Dalam hal ini bisa dikatakan, makanan tradisional merupakan salah satu unsur identitas dasar (Lono Simatupang, 2008).

Dari sudut pandang ini, jelas keberagaman makanan lahir bukan semata dari segi bahan, pengolahan, serta penyajiannya yang berbeda-beda dan bervariasi. Proses pembudayaan cita rasa makanan itu turut membentuk keberagaman. Di Pulau Jawa saja, cita rasa masakannya pun beragam. Di Jawa Barat ciri masakannya kebanyakan sedikit pedas dan asam. Untuk Jawa Tengah memiliki kekhasan masakan manis dan tidak terlalu pedas. Sedangkan untuk wilayah Jawa Timur kecenderungan masakannya lebih dominan rasa asin dan pedas.

Di sini nampak relevansi kemunculan makanan sebagai identitas. Dalam merepresentasikan kekhasannya, seringkali terwacanakan sebuah daerah menampilkan jenis makanan yang dianggap sebagai khas, unik, dan diyakini berada di daerah itu saja. Seperti jajan uli dari Bali, Brem dari Jawa Timur, Getuk dari Magelang, dan masih banyak lagi ciri khas makanan tradisional lainnya.

Nilai Filosofi

Makanan tradisional Indonesia, banyak memiliki nilai filosofi di dalamnya, baik dari muasal pembuatan maupun makna dan sifatnya berasal hasil alam, diperuntukkan bagi keberlangsungan alam, dan kembali lagi pada alam. Seperti di daerah Gunungkidul di mana ketersediaan singkong/ketela yang melimpah, dengan kearifan lokal masyarakatnya, bahan alam tersebut diolah menjadi berbagai jenis makanan untuk menjaga ketahanan pangan mereka sehingga tidak terlalu bergantung pada beras, hal ini dikarenakan oleh kondisi alamnya yang hingga pada saat ini kurang memungkinkan untuk memproduksi beras dengan jumlah yang banyak.

Hal tersebut di atas baru dari satu sisi. Sedangkan lainnya adalah banyak makanan tradisional yang memiliki makna filosofi kehidupan, seperti misalnya sayur lodeh, yang pada intinya memiliki makna menolak bala, yang semua itu terangkum dari bahan-bahan dalam sayur dapat bermakna sebuah usaha untuk meraih kehidupan yang sejahtera dari modal yang diberi lodeh yang mengandung makna, yaitu cipta, rasa dan karsa. Kemudian dari bahan intinya yaitu labu yang dalam bahasa Jawa disebut waluh. Wal bermakna membuang, dan luh bermakna air mata, yang memiliki pengharapan agar jauh dari kesedihan atau petaka. 

Saat ini merebaknya makanan asing yang siap saji, telah menggeser selera publik makanan tradisional. Makanan tradisional sebagai produk budaya terkait dengan produk kearifan lokal mestinya perlu dijaga kelestariannya juga strategi pemasarannya agar bisa berkembang.

Sudah saatnya kita ikut bergerak ambil bagian untuk melestarikan makanan-makanan lokal tradisional hasil warisan nenek moyang bangsa ini. Upaya-upaya yang kita lakukan akan membuat makanan tradisional mampu bersaing dalam dunia global. Melakukan berbagai inovasi baru dalam menyajikan olahan makanan tradisional dan mengenalkan kepada publik yang lebih luas.

Untuk itu, upaya promosi terus menerus baik melalui publikasi jejaring umum atau dunia maya perlu dilakukan secara masif. Di samping itu semua pihak perlu memberi contoh dalam kehidupan kesehariannya untuk selalu menumbuhkan rasa bangga dan cinta kepada hasil karya bangsa ini.Tak ketinggalan memberi contoh dalam mengonsumsi makanan-makanan tradisional dengan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mengenal makanan tradisional secara lebih intensif.

(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar