Eksistensi Tari Wireng Gaya Surakarta

Dilihat 1994 kali
Tari Wireng menggambarkan karakter keprajuritan sebagai wujud pada penguatan penanaman nilai nasionalisme yang patut menjadi sumber keteladanan - Sumber Edukasi Media Belajar, 2022

Pada dasarnya eksistensi tari Jawa telah membumi dan proses penciptaannya sudah melalui beberapa tahapan sesuai dengan perubahan pelaku tari itu sendiri dan juga nilai yang berlaku pada zamannya. Kehadiran tari Jawa pada waktu itu telah dirasakan oleh seniman dan komunitasnya dapat membawa makna yang sangat mendalam baik dari perspektif fisik maupun filosofisnya.

Para Empu tari Jawa yang mewariskan tari kepada generasi penerusnya, secara sadar telah berpijak pada konsep-konsep seni yang selalu ada korelasinya dengan sosio kultural selaras dengan tanda-tanda zaman. Konsep-konsep tari Jawa tersebut tidak hanya sekadar berkutat pada masalah estetika belaka, melainkan lebih dari itu, yaitu telah mencakup berbagai aspek kehidupan. Hal itu menandakan,bahwa para Empu tari Jawa memandang persoalan-persoalan estetika dalam tari lebih mencakup wilayah kehidupan manusia secara lebih luas.


Ciri Spesifik

Tari Wireng gaya Surakarta yang mempunyai ciri spesifik tersendiri. Tari Wireng merupakan salah satu genre tari Jawa yang bertemakan perang atau keprajuritan. Hal ini ditandai adanya garapan perang dan olah keprajuritan yang dilakukan oleh beberapa penari atau lebih dengan cara tunggal maupun berpasangan. Adapun properti yang digunakan adalah bentuk senjata tradisional seperti tombak, pedang-tameng,gendewa-panah, dhadhap-keris, dan berbagai properti lainnya.

Nama Wireng bila ditelisik dari etimologinya berasal dari kata wira dan ing. Kata wira berarti prajurit, ing menunjuk tempat (dalam hal ini adalah palagan atau tempat gladhi keprajuritan). Selain itu ada yang mengatakan wireng dalam pengertian bukan prajurit sesungguhnya, artinya wireng itu tari yang menggambarkan prajurit yang sedang berperang atau olah keprajuritan.

Adapun sumber tertulis tari Wireng ini berasal dari pertama, Serat Centhini yang disusun oleh Ki Ngabehi Ranggasutrasna masa pemerintahan Sri Sunan Paku Buwana V. Seperti disebutkan dalam Serat Centhini bahwa tari Wireng tersebut memiliki beberapa macam, seperti Tari Wireng Panji Sepuh (tari tunggal tanpa membawa peralatan), Tari Wireng Panji Anom (tari berpasangan tanpa membawa peralatan perang), Tari Wireng Jemparing Ageng (tari berpasangan dengan membawa busur dan anak panah), dan beberapa jenis wireng lainnya yang substansinya mengisahkan peperangan atau keperwiraan seorang prajurit.

Kedua, Serat Kridhwayangga tulisan Mas Sastrakartika pada masa pemerintahan Sri Sunan Paku Buwana IX. Buku ini berisi pakem beksa atau pedoman pokok yang harus dilaksanakan pada tari gaya Surakarta. Konsep perwujudannya dalam Serat Kridhwayangga ini merupakan dasar-dasar gerak sebagai esensi dari tari Jawa, yaitu yang disebut patrap beksa (sikap laku tari), seperti sata ngetap swiwi (ayam mengepakkan sayap) digunakan untuk tari halus, anggiri gora (gunung yang menakutkan) untuk tari gagah, wreksa sol (pohon tumbang) yang sering digunakan untuk peran raksasa, dan masih banyak lagi patrap beksa lainnya.

Ketiga, Serat Wedhataya yang ditulis oleh Pakempalan Yogyataya. Dalam Serat Wedhataya, selain memberikan informasi tentang keberadaan tari Wireng, juga banyak mengupas makna simbolik tentang gerak-gerak tari yang digunakan dalam tari Wireng. Misalnya gerak trapsila anoraga, merupakan lambang bahwa manusia harus andhap asor (merendahkan diri) dan selalu ingat asal-usulnya. Sembahan, mempunyai makna bahwa manusia setelah dapat melihat alam raya ini dengan penuh kesadaran, harus tidak boleh lupa untuk mengucap syukur dan manembah kepada Sang Pencipta alam raya ini. Jengkeng mempunyai makna bahwa manusia harus mempunyai cita-cita yang tinggi. Sedangkan gerak jumeneng laras merupakan lambang setelah menusia memahami dirinya dan alam sekitarnya merupkan ciptaan Tuhan, maka dalam meniti kehidupan haruslah dipertimbangkan sesuai dengan kodrat dan cita-cita dalam hidupnya (Wahyu Santosa, 2002).


Keunikan

Dari ketiga sumber tersebut dapat ditarik suatu tautan benang merah, bahwa tari Wireng merupakan embrionya tari gaya Surakarta yang berkembang sampai sekarang. Adapun setting ceritanya mengambil cerita dari siklus Panji dengan berbagai karakter dalam tokoh-tokohnya. Adapun tematiknya berkisar tentang peperangan atau keperkasaan dalam olah keprajuritan.

Namun demikian ada keunikan pada tari Wireng Panji Sepuh dan Panji Anom yang berbeda dengan tari-tari Wireng yang lain. Tari Wireng Panji Sepuh dilakukan oleh seorang penari dengan gerak-gerak simbolik tanpa senjata yang sama sekali tidak menunjukkan peperangan atau keprajuritan. Sedangkan tari Wireng Panji Anom meskipun dilakukan oleh 2 (dua) orang penari namun gerak tarinya juga simbolik yang sama sekali tidak memvisualisasikan peperangan atau olah keprajuritan. Tari ini juga tidak menggunakan senjata sebagai kelengkapan propertinya. Keunikan ini menyiratkan bahwa konsep perang tidak hanya dipahami sebagai perang wadhag (fisik) atau perang dalam implikasi sesungguhnya. Perang juga harus dipahami sebagai sebagai perang batin (konflik batin) yang terdapat pada diri manusia untuk mengalahkan segala nafsu yang membelenggu dirinya.

Sedangkan gaya tari Panji Sepuh dalam Serat Kridhwayangga disebut Endraya Werdi berarti gerak tari yang halus dan lambat. Misalnya dalam wayang purwa terdapat dalam tokoh Sri Rama, Arjuna, Puntadewa, dan sebagainya. Untuk tari Panji Anom gaya tarinya dikenal dengan Endraya Werdu, artinya gerak tari yang halus, seperti pada peran Lesmana, Abimanyu, Irawan, dan lain-lain.

Melihat makna atau segi filosofisnya dapat ditengarai bahwa kepiawaian para empu-empu tari zaman dulu tidak disangsikan lagi. Kemungkinan hal itu disebabkan karena proses penciptaan mereka tidak instan yang hanya memanjakan selera pasar, namun dilambari dengan laku prihatin seperti mati raga atau meditasi. Suatu bentuk sikap laku prihatin dalam membuat karya kreatif agar memiliki roh atau jiwa.

Dilihat dari perspektif etos kerja ketika mereka berproses, sungguh merupakan perstasi yang sangat dibanggakan. Mereka selaku melakukan pengkajian terus menerus sampai hasil ciptaannya survival dan abadi seperti yang dikenal sampai sekarang. Realitas tersebut mestinya menjadi tantangan para koreofer sekarang untuk dapat menciptakan karya tari yang langgeng dan tidak lekang ditelan oleh waktu, layaknya musik pop yang masa bertahannya hanya seumur jagung.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar