Membangun Budaya Organisasi

Dilihat 1570 kali
ilustrasi : https://www.freepik.com/free-vector/workforce-organization-management

*Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd


MASING-MASING orang yang masuk menjadi anggota organisasi mempunyai kepribadian yang khas. Sebab setiap orang memiliki pikiran, perasaan, nilai-nilai, keyakinan atau kepercayaan, kebiasaan dan latar belakang lain yang berbeda. Tetapi karena manusia itu makhluk yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang dapat terbuka terhadap lingkungan dan hal-hal yang ada di dalamnya, maka setiap orang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan organisasi yang memiliki "budaya organisasi" yang khas, yang berbeda dengan kebiasaan karyawan atau pegawai orang per orang, keluarga, komunitas, masyarakat, dan organisasi atau perusahaan lain. Oleh karena setiap organisasi mempunyai budaya yang khas, maka setiap orang yang masuk menjadi anggota organisasi harus menyesuaikan diri dengan tuntutan budaya organisasi.

Harus Semakin Beradab

Budaya adalah keseluruhan yang terdiri artefak, nilai dan asumsi (Schein, 1997 dalam Poerwanto, 2008,18). Budaya organisasi dibangun, dihasilkan dan dianut bersama-sama oleh semua unsur dan personil manajer, pejabat, karyawan organisasi sejak awal berdiri sampai dengan perkembangan dan kemajuan hari ini. Di dalam organisasi, artefak ini berkenaan dengan struktur, proses dan hasil karya organisasi yang dapat dilihat dengan mata (kasat mata).

Nilai adalah hal-hal yang penting atau berguna untuk dipahami dan menjadi landasan berperilaku (berpikir, mengendalikan perasaan, berbicara, dan berbuat atau bekerja) dalam melaksanakan segala jenis kegiatan di dalam organisasi dalam rangka mencapai tujuan dan mendukung pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan. Contoh nilai yaitu produktivitas, efisiensi, keefektifan, kejujuran, keadilan, keterbukaan, kerja sama, persaudaraan, kasih, dan disiplin kerja. Sedangkan asumsi adalah norma, keyakinan, persepsi, pikiran, dan perasaan yang menjadi sumber utama nilai dan tindakan setiap manajer, pejabat, dan karyawan atau pegawai dalam hidup dan berkegiatan di dalam organisasi.

Seperti halnya hidup setiap orang harus semakin beradab (maju), begitu juga organisasi yang merupakan perkumpulan orang-orang juga harus menunjukkan kemajuan dari waktu ke waktu. Ukuran kemajuan organisasi dapat dilihat dari hal-hal yang dapat dilihat dengan mata seperti struktur organisasi, rumusan visi, misi, tujuan, rencana pengembangan, rencana strategis, rencana taktis, dan rendana operasional, serta berbagai bentuk kebijakan, peraturan, rumusan sistem, prosedur dan metode kerja, proses dan hasil kerja berupa barang dan jasa, dan hal-hal yang tidak dapat dilihat mata tetapi bisa dirasakan yaitu nilai-nilai dan asumsi yang dihayati dalam hidup dan pelaksanaan kegiatan para manajer, pejabat dan karyawan atau pegawai dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa untuk mewujudkan tujuan organisasi. Semakin maju budaya organisasi akan berdampak semakin tinggi kepercayaan (akreditasi) masyarakat, pemerintah dan semua pihak yang berkepentingan yang memiliki penilaian yang baik, sangat baik, dan unggul terhadap organisasi.

Ragam Pengaruh

Kebudayaan organisasi tidak dapat lepas dari pengaruh semua personil yang ada di dalam organisasi sejak awal berdirinya. Pendiri, pimpinan, pejabat dan penggerak organisasi adalah orang-orang yang sangat menentukan budaya organisasi. Isi pemikiran dan kemampuan mengendalikan diri dan suasana hati yang berkembang, maju, terbentuk dan mengalami perubahan terus menerus sesuai dengan sikap terbuka terhadap situasi lingkungan, mewarnai budaya organisasi dari masa ke masa. Kemauan belajar, berusaha, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar akan mewarnai perilaku mereka dan organisasi tempat memenuhi kebutuhan dan aktualisasi diri. Oleh karena itu ilmu pengetahuan, budaya lokal, nasional, dan agama harus menjadi inspirasi bagi setiap orang yang berpengaruh (influencer) di dalam organisasi agar dapat semakin menerangi dan menggarami semua orang dan pihak yang menentukan kemajuan budaya organisasi.

Ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang berpengaruh terhadap cara berpikir, keluasan, dan kedalaman berpikir, pengendalian diri/hati, perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu maka diharapkan setiap orang bersekolah, terus meniti pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi, dan terus menjaga api semangat sebagai pembelajar, termasuk belajar dari lingkungan hidup termasuk organisasi. Sebab dengan terus menerus belajar, orang akan semakin berpengetahuan, berketerampilan, dan memiliki sikap yang penting bagi kemajuan hidup bersama dan dengan demikian orang akan semakin mampu berkontribusi dengan menyumbangkan pemikiran, perhatian, tenaga fisik, keimanan, kerohanian, sosialitas, dan moralitasnya bagi kemajuan budaya organisasi.

Orang bisa belajar dari budaya lokal seperti kebiasaan masyarakat petani, pedagang, tukang batu, tukang kayu, nelayan tentang nilai dan makna bekerja keras; belajar dari tarian, lirik lagu, wayang, kethoprak dan pertunjukan lain tentang seni, keindahan, kekompakan, persaudaraan, penghormatan, penghargaan, semangat dan nilai-nilai kehidupan lain yang penting untuk pengembangankepribadian dan hidup bersama, termasuk hidup berorganisasi. Sebab hidup dan berkarya di dalam organisasi, dan untuk turut serta mengembangkan dan memajukan organisasi sehingga produktif, berkinerja tinggi, efisien dan efektif dibutuhkan ramuan nilai-nilai budaya lokal semacam itu.

Bagi kita bangsa Indonesia, Pancasila merupakan inti budaya bangsa yang didalamnya terkandung nilai-nilai luhur ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan perwakilan, serta keadilan yang apabila diterapkan di dalam hidup pribadi dan sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara akan berdampak pada kemajuan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama. Pancasila, budaya bangsa dengan segenap nilai yang ada di dalamnya, sudah selayaknya dan sepantasnya menjadi nilai-nilai yang dihidupi oleh setiap orang, manajer, pejabat, dan pegawai setiap jenis organisasi dan perusahaan yang eksis di negeri ini, di dalam hidup dan bekerja.

Sebagai Negara hukum, pemerintahan Negara semakin kuat dilandasi dengan peraturan perundangan di berbagai sektor kehidupan, yang harus diperhatikan pelaksanaannya oleh semua pihak di negeri ini, jenis produk hukum seperti peraturan, keputusan, dan instruksi harus diarahkan kepada peningkatan kemajuan, kedamaian, kesejahteraan, ketertiban, dan kualitas hidup perorangan, sosial dan organisasi.

Agama dengan tradisi keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan nilai-nilai kehidupan untuk membangun peri hidup pribadi dan sosial meski harus ditafsirkan secara bijak dan kontekstual lingkungan Indonesia dan kekinian. Nilai ketaatan, loyalitas, kepercayaan, kerja sama, kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan hubungan cinta kasih kepada Tuhan, juga harus dapat direalisasikan dalam kehidupan bersama di dalam organisasi, agar keimanan kepada Tuhan menjadi semakin berararti, dapat dirasakan di dalam hidup bersama, tidak kering dan mati.

Untuk mewujudkan budaya organisasi di dalam kehidupan nyata, perlu adanya upaya berkelanjutan dari semua pihak di dalam organisasi. Asumsi yang merupakan keyakinan, persepsi, pemikiran dan perasaan yang menjadi sumber utama nilai-nilai dan aksi/perbuatan, secara bertahap perlu dirumuskan di dalam nilai-nilai yang termuat di dalam visi (filsafat), misi, tujuan, strategi, peraturan, keputusan, instruksi dan bentuk produk perencanaan lain sampai  yang operasional, sehingga menjadi pedoman, prosedur dan metode kerja yang dapat mengarah dimilikinya struktur organisasi bagi manajer, pejabat dan yawan atau pegawai yang menjamin terjadinya proses, hasil kerja dan tujuan organisasi yang optimal dan maju (beradab).


*) Penulis Guru SMP Pendowo Ngablak

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar