BERITAMAGELANG.ID - Dalam dunia seni pertunjukan wayang, tokoh
Srikandi sudah banyak dikenal oleh para penggemarnya. Bahkan di luar wilayah
seni pun sosok Srikandi sudah membumi di ranah publik. Srikandi merupakan tokoh
idola yang sepak terjangnya dapat menjadi suri teladan. Sosok perempuan ini
memiliki nilai kepribadian yang solid dan konsisten dalam memegang prinsip yang
menjadi keyakinannya.
Dewi Srikandi semiotika keteladanan perempuan yang tangguh, berani, dan mandiri. Sebagai prajurit ulung, ia mengajarkan pentingnya perempuan memiliki disiplin tinggi, tanggung jawab, keahlian tinggi, serta keberanian dalam membela kebenaran yang hakiki. Srikandi juga merefleksikan sikap emansipasi perempuan, rendah hati, dan nilai patriotisme tinggi karena mengedepankan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi selalu menjadi prinsip dari segala sesuatu yang diyakini.
Tidak bisa dipungkiri sampai saat ini, banyak perempuan Indonesia yang telah berkontribusi nyata bagi negara dan memiliki jiwa patriot sebagaimana tokoh Srikandi sering mendapat sebutan sebagai Srikandi Indonesia. Sosok perempun yang terkenal ini sering dijadikan sebagai simbol teladan bagi para perempuan penerus perjuangan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang dan juga menjadi sumber inspirasi bagi perempuan-perempuan Indonesia dalam berkontribusi secara faktual kepada negara dan juga dalam kehidupan di masyarakat (Lilis Sumiati, et.al., 2024).
Sosok Multitalenta
Dalam dunia wayang, tokoh Dewi Srikandi begitu kesohor sampai pelosok negeri. Bukan karena ia putri bangsawan yang berasal dari lingkungan istana. Melainkan ia memiliki kemampuan multitalenta. Secara keseluruhan, multitalenta Srikandi menunjukkan bahwa ia adalah sosok prajurit perempuan yang cerdas, pemimpin yang kuat, dan ahli strategi perang terutama pemanah yang pemberani. Ia lebih tersohor sebagai seorang prajurit perempuan kerajaan Pancala yang sakti mandraguna, cerdik, tangkas, dan pemberani. Dalam sepak terjangnya di medan dan laga tak segan-segan berani adu kedigdayaan kepada siapapun. Tak peduli siapa orangnya. Tanpa tebang pilih, siapapun akan dilawannya apabila berani melanggar batasan norma kesusilaan.
Dewi Srikandi adalah putri Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari kerajaan Pancala. Menginjak usia remaja, putri kerajaan Pancala ini tumbuh menjadi seorang putri yang cerdas, sigap, semampai, perilakunya mirip ksatria laki-laki, tak suka bersolek, namun aura kecantikannya tetap memancar dari wajahnya.
Setiap hari tiada henti-hentinya Srikandi belajar berbagai ilmu kanuragan serta ilmu kejiwaan lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh para ksatria bangsawan pada umumnya. Perilakunya itu terasa tidak lazim dilakukan oleh putri kerajaan. Namun prinsip yang diyakininya, ia ingin mendobrak kemapanan, bahwa perempuan bukan hanya sekadar sosok pelengkap, namun juga dapat menjadi sosok primer yang setara dengan kaum pria. Ia sama sekali tak peduli dengan pandangan banyak orang mengenai dirinya sebagai putri kerajaan.
Selepas usia remaja, Srikandi jatuh hati dengan Arjuna, ksatria panengah Pandawa. Untuk dapat menemui Arjuna di Kasatriyan Madukara, Srikandi perlu berlaga dan adu keterampilan memanah dengan salah satu murid Arjuna yang bernama Larasati. Arjuna ketika mengamati Srikandi berlaga dengan Larasati, akhirnya dapat mengetahui bahwa Srikandi mempunyai bakat memanah, langsung diterima menjadi murid sekaligus kekasihnya.
Srikandi dalam proses berguru dengan Arjuna tidak membutuhkan waktu lama. Semua ilmu yang diberikan Arjuna dapat diterima dengan sempurna. Ujian pertama kali setelah berguru datang dengan tiba-tiba. Srikandi mendengar warta bahwa kerajaan Pancala yang dicintai kedatangan musuh dari kerajaan Paranggubarja di bawah pimpinan Raja Jungkungmardeya. Maksud Jungkungmardeya tak lain yaitu ingin memaksakan kehendak untuk meminang Srikandi melalui jalan pintas dengan cara kekerasan.
Sontak saja Srikandi langsung turun ke gelanggang. Tak tanggung-tanggung putri Pancala tersebut mampu mengalahkan arogansi Raja Jungkungmardeya yang berniat memporak-porandakan Kerajaan Pancala. Sepeninggal Raja Jungkungmardeya, Srikandi menjadi pendamping sah Arjuna. Karena kepiawaiannya dalam ilmu memanah, strategi perang dan berbagai kemampuan olah kanuragan yang dimiliki, maka tak mengherankan Srikandi selalu mendapat kepercayaan menjadi pelindung dan panglima perang manakala kerajaan diancam berbagai marabahaya baik dari lingkup internal maupun eksternal.
Pada saat pecah perang besar Bharatayuda sebagai peristiwa besar perang antara Pandawa dan Kurawa, Srikandi berpihak pada Pandawa dan dinobatkan sebagai panglima perang menghadapi para panglima perang Kurawa seperti Mahatma Resi Bhisma. Ia dituntut untuk mampu memilah dan memilih antara rasa dan sikap hormat serta berbakti kepada Resi Mahatma Wara Bhisma selaku leluhurnya dengan perasaan maupun sikap serupa terhadap negaranya. Dengan keyakinannya yang kokoh Srikandi mampu mengalahkan Resi Mahatma Wara Bhisma di medan dan laga Kurusetra Mandala.
Peran Sentral
Narasi tentang Srikandi tersebut mengindikasikan bahwa tokoh tersebut memiliki peranan sentral yang mendudukkan aktualitas perempuan di posisi terhormat yang setara dengan kaum pria. Sebagai istri Arjuna, ia dikenal mandiri, bertekad kuat, percaya diri, dan memiliki watak seperti pria dalam hal keberanian. Srikandi melambangkan ketangguhan perempuan yang membela kebenaran.
Sepak terjang Srikandi dapat disejajarkan dengan RA Kartini sebagai pejuang emansipasi perempuan. Srikandi adalah pelopor perjuangan emansipasi perempuan. Srikandi tidak ingin derajat perempuan direndahkan. Makai ia rela keluar dari gelimang kemewahan istana untuk mencari ilmu sebagai bekal untuk masa depannya.
Srikandi bukanlah perempuan lemah yang mudah menyerah. Srikandi tahu jika ingin menggapai sesuatu maka ia harus benar-benar konsisten pada pendiriannya dan memiliki tekad yang kuat. Konsistensi pada tekad kuat akan membawa seseorang meraih kesuksesan. Karena tekad yang kuat dapat mendorong seseorang memiliki spirit untuk menggapai semua yang diinginkan. Kepribadian Srikandi ini hendaknya dapat dicontoh oleh generasi saat ini, bahwa untuk mencapai sesuatu yang diinginkan itu membutuhkan tahapan proses, tidak mudah dan cepat. Oleh karena itu, tekad harus selalu menjadi pendukung utama untuk menggapainya.
Fakta historis membuktikan, saat ini sudah banyak muncul pemimpin-pemimpin dari kalangan perempuan yang mendapat sebutan Srikandi, karena titian kariernya yang dilakukan melalui tahapan proses panjang mampu menduduki posisi terhormat,seperti Meutya Hafid sebagai Menteri Komunikasi dan Digital, Rini Widyantini menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Widiyanti Putri Wardhana menduduki posisi Menteri Pariwisata, dan masih banyak lagi lainnya posisi strategis baik di lingkup legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun swasta yang dijabat oleh perempuan.
Dengan demikian, nilai-nilai keutamaan dalam tokoh Srikandi tersebut dapat dikorelasikan dengan selebrasi Hari Kartini yang diperingati setiap tahunnya. Selebrasi tersebut pada hakikatnya merupakan peneguhan ulang terhapap cita-cita relasi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dan laki-laki memiliki hak sama dalam belajar, berkarya, berpartisipasi di ruang publik, maupun aspek-aspek lain sebagai aktualisasi keadilan hakiki.
Selamat merayakan Hari Kartini 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang
0 Komentar