Pentingnya Pendidikan Multikultural di Sekolah

Dilihat 27973 kali
Gambaran pendidikan multikultural. (ilustrasi aim)

Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd *)

PENDIDIKAN multikultural adalah sebuah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya, agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural (Introduction to multikultureal education, ed. Boston; Allyn & Bacon 2002). Pendidikan multikultural senantiasa mengedepankan pengagungan keanekaragaman, keterbukaan, kesamaan dan pluralitas yang meliputi sikap penghargaan, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan secara khusus berhubungan dengan kebudayaan, agama, etnik, dan jender serta identitas sosial.

Melalui pendidikan multikultural, diharapkan tumbuh kesadaran dan kedewasaan pada setiap insan terdidik dalam menghadapi masyarakat majemuk dan benturan konflik sosial. Dalam konteks pendidikan di sekolah, keanekaragaman latar belakang budaya, keluarga, agama, dan lingkungan peserta didik maupun pendidik dapat dijadikan sebagai lingkungan yang strategis untuk mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari perubahan sosial dapat dikelola secara nalar dalam zona pendidikan di sekolah.

Pendidikan Multikultural Suatu Proses

Keberagaman budaya, agama, etnik, dan pluralitas di dalam masyarakat belum dipahami secara memadai. Artinya aneka pertimbangan tentang multi-budaya belum masuk dalam penalaran anak didik dan pendidik. Alih-alih aneka tindakan kekerasan, agresivitas, penegasian terhadap orang lain, dan sebagainya. Insan mengalami kesulitan menerima, apalagi menghargai perbedaan pendapat, pandangan, serta pluralitas di dalam masyarakat dengan aneka keunikan budaya. Persoalan ini dicoba dijawab dengan pendidikan multikultural.

Pendidikan multikultural harus dipahami pertama-tama sebagai suatu proses dan bukannya sebuah program. Proses menjadi artinya proses yang berkelanjutan, proses belajar yang tidak pernah selesai, berjalan terus sepanjang peradaban pendidikan dan hidup manusia (life long learning). Peserta didik menyediakan instrument dan pengalaman dengan kesediaan untuk memahami, mengerti serta mengakui latar belakang dari semua pribadi dengan corak kebudayaan masing-masing, sehingga ia mampu mengaplikasikannya dalam masyarakat di mana ia berada.

Dalam hal ini, pendidikan multikultural mensyaratkan sekolah dan kelas dikelola sebagai suatu simulasi arena hidup nyata yang plural, terus berubah dan berkembang. Institusi sekolah dan kelas adalah wahana hidup dengan pemeran utama peserta didik di saat guru dan seluruh tenaga pendidik berperan sebagai fasilitator. Pembelajaran dikelola sebagai dialog dan pengayaan pengalaman hidup unik, sehingga bisa tumbuh aneka pengalaman dan kesadaran kolektif dan peserta didik yang kelak menjadi dasar etika kewarganegaraan yang hidup di dalam masyarakat. Meminjam ungkapan freire, dialogisme merupakan tuntutan kodrat manusia, syarat strategis dan juga tanda sikap demokratis pendidik (Paulo Freire, pedagogi Hati, Kanisius, 2011).

Pendidikan multikultur didasari konsep kebermaknaan perbedaan secara unik pada tiap orang dan masyarakat. Alih-alih dialog mendapat ruang utama dalam proses pembelajaran. Kelas disusun dengan anggota kian kecil hingga tiap peserta didik memperoleh peluang belajar semakin besar sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif di antara peserta didik. Pada tahap lanjut menumbuhkan kesadaran kolektif melampaui batas teritor kelas, bangsa dan nasiolalitas, melampaui teritori teologi keagamaan dari tiap agama yang berbeda.

Guru harus memulai mewujudkan bahwa pendidikan multikultur dapat menguntungkan semua insan peserta didik. Jika pendidikan multikultural sebagai proses dapat membantu peserta didik memahami tempatnya di dalam lingkungan dan masyarakatnya, maka salah satu tujuan dari pendidikan tercapai. Karena tujuan pendidikan multicultural ialah mendorong setiap peserta didik menjadi sadar akan kebudayaannya, memiliki pemahaman yang holisik dan mampu mengapresiasi kebudayaan lain, berpetisipasi di dalam satu kebudayaan atau lebih dan bertanggung jawab untuk memeliharanya.

Multikultural Kontekstualisasi Pendidikan

Dalam konteks Indonesia, pendidikan multikultural menyentuh konteks-tualisasi kehidupan manusia Indonesia. Kesadaran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari beragam suku, budya, agama, identitas, sejarah lingkungan, dan pengalaman hidup yang unik dan berbeda-beda. Perbedaan adalah identitas terpenting dan otentik setiap manusia daripada kesamaannya. Sudah saatnya kegiatan belajar-mengajar ditujukan agar peserta didik tidak hanya menguasai materi ilmu atau nilai, tetapi mengalami sendiri proses berilmu dan hidup dalam kebersamaan di ruang kelas dan sekolah.

Untuk itu, guru tidak lagi ditempatkan sebagai aktor tunggal terpenting sebagai kamus berjalan yang serba tahu dan serba bisa. Guru yang efisien dan produktif ialah jika ia bisa menciptakan situasi sehingga tiap peserta didik belajar dengan cara sendiri yang unik. Kelas disusun bukan untuk mengubur identitas personal, tetapi memperbesar peluang tiap peserta didik mengaktualisasikan diri masing-masing. Pendidikan sebagai transfer ilmu dan nilai tidak memadai, namun bagaimana tiap peserta didik menemukan dan mengalami situasi beriptek dan berkehidupan otentik. Guru tidak lagi sebagai gudang ilmu dan nilai yang tiap saat siap diberikan kepada peserta didik, tetapi sebagai teman dialog dan partner menciptakan situasi beriptek dan bersosial. Pembelajaran di kelas disusun sebagai simulasi kehidupan nyata sehingga peserta didik berpengalaman hidup sebagai warga masyarakat.

Globalisasi Sebagai Tantangan

Dewasa ini, sistem kapitalisme neo liberal tampil dengan fenomena baru yakni globalisasi. Terminologi globalisasi mendominasi peradaban kehidupan manusia saat ini. Globalisasi pada satu sisi dengan kemajuan teknologi informasi dan transportasi membantu manusia dalam banyak hal. Dunia menjadi sebuah kampung global. Sehingga membangun komunikasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya dapat terhubung dengan mudah.

Gagasan tentang kemajuan pun menjadi daya dorong yang kuat bagi terciptanya struktur masyarakat modern yang serba ingin cepat, berkembang dan terus maju sampai seakan-akan tanpa batas lagi. Namun di balik glamornyamodernitas tercipta suatu pergeseran kesadaran dalam diri manusia.

Menurut Antony Giddens (dalam bukunya Run Way World. Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita) dampak dari globalisasi adalah melemahnya tata nilai. Insan kehilangan kesejatian dirinya, dan makna hidupnya. Nilai-nilai kebersamaan, kesetiaan, solidaritas, pengakuan akan martabat manusia, dan penghargaan terhadap pluralitas semakin tereliminasi. Yang ada adalah pemujaan dan penyembahan pada kebebasan, individualisme dan kenikmatan. Orang lupa apa yang esensial di dalam masyarakat. Pluralitas dan keanekaragaman budaya serta keunikan masing-masing pribadi terlibas oleh derasnya arus globalisasi.

Gaya berpikir peserta didik akan dikemas dalam sistem jawaban tunggal. Dan ini memandulkan sikap kekritisan para peserta didik. Pengetahuan dituntut instan, siap pakai, tidak memerlukan penalaran yang rumit. Konsekuensi dalam dunia pendidikan ini apa yang disebut proses tidak berlaku lagi. Berhadapan dengan aneka tawaran yang bernuansa instan, imbasnya langsung pada melemahnya etos belajar para peserta didik. Indikasinya adalah kehendak untuk mencari, bertanya, bergulat dan memperdalam pengetahuan semakin memudar.

Sebuah Pendekatan

Pengembangan pendidikan multikultural ditujukan kearah terwujudnya suatu peradaban dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Setiap pribadi harus menjadi sadar akan kebudayaan mereka, merupakan mereka, mempunyai pemahaman yang holistik (menyeluruh) dan mampu mengapresiasi kebudayaan lain secara asertif, berpartisipasi di dalam satu kebudayaan atau lebih dan bertanggung jawab untuk memeliharanya. Untuk mewujudkan peradaban itu maka lingkungan pendidikan harus merefleksikan hakikat pluralistik dan tantangan globalisasi.

Pola pendekatannya seharusnya utuh dan menyeluruh. Maksudnya suatu perubahan tujuan dan objek pendidikan. Pendidikan tidak sebatas pada hafalan, sehingga mencetak peserta didik sebagai robot, melainkan pendidikan yang langsung menyentuh apa yang hakiki dalam hidup manusia, pendidikan perkembangan, pendidikan lingkungan hidup, pendidikan perdamaian, dan pendidikan jender.

Dengan kata lain pendidikan yang mencakup pendidikan multikultural yakni soal keanekaragaman, keterbukaan, pluralitas, kebudayaan, agama, perbedaan seksual, dan identitas pribadi manusia. Pada titik ini pendidikan multikultur menjadi urgen. Keadaban berbangsa akan tampak, bila setiap pribadi semakin dewasa dalam upaya melestarikan pendidikan multikultural. Karena itu pendekatan kepada manusia dan untuk mengatasi problem kemanusiaan tidak bisa lain kecuali dengan menggunakan pendekatan pendidikan multikultural.

(Penulis adalah Guru SMP Pendowo Ngablak*)

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar