Pesan Moral Kisah Sasa Jataka

Dilihat 59 kali
Relief ke-25 di Candi Borobudur yang mengisahkan Sasa akan masuk kobaran api yang disaksikan oleh Brahmana jelmaan Dewa Sakra. Sumber: Buku Jataka oleh Anandajoti Bhikkhu, 2020.

BERITAMAGELANG.ID - Candi Borobudur merupakan karya putra Nusantara pada masa dinasti Syailendra yang sampai saat ini masih tegak berdiri. Candi tersebut telah diakui UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia. Rekognisi UNESCO pada 1991 tersebut cukup beralasan karena candi yang terletak di Kabupaten Magelang ini merupakan Mahakarya arsitektur, memiliki nilai universal yang luar biasa, serta menjadi monumen Buddha terbesar di dunia.


Keagungan Borobudur mencerminkan keharmonisan antara budaya lokal dan pengaruh ajaran Buddha Mahayana yang berkembang pesat di Nusantara pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Nilai universal yang tercermin di dalamnya tak lain candi ini dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha, menjadikannya Mahakarya seni yang merepresentasikan kebudayaan serta keahlian teknik tingkat tinggi. Relief-relief tersebut memuat ajaran moral yang universal, seperti cinta kasih, karma, dan kebajikan, yang berlaku universal.


Candi Borobudur dibangun bukanlah tanpa tujuan. Pada setiap sudut Candi Borobudur terdapat ornamen yang menggambarkan nilai luhur kemanusiaan yang menarasikan tentang hakikat kehidupan manusia. Apabila ditelisik dari bangunan candi tersebut, banyak memuat pesan moral sebagai bahan refleksi dari visualisasinya. Candi juga merupakan sebuah biara yang mengumpulkan segenap kebajikan Buddha sebagai himpunan ajaran kebenaran tertinggi atau Agra Saddharma (Hudaya Kandahjaya, 2021).


Kisah Jataka


Candi Borobudur menjadi spektakuler dan elegan, karena di dalamnya memuat pesan-pesan moral yang terbingkai dalam balutan estetika reliefnya. Untuk naskah relief bercerita (naratif) terdapat 1.460 panel relief. Sedangkan relief dekoratif sejumlah 1.212 panel relief. Panel relief naratif dan dekoratif, tersusun rapi dalam bingkai estetika, sehingga dapat dinikmati visualisasinya.


Salah satu relief naratif yang cukup dikenal yakni Kisah Jataka. Relief ini di Candi Borobudur tepatnya berada di dinding luar lantai 3. Relief Jataka tersebut mengisahkan kelahiran masa lampau Bodhisattwa untuk mendapatkan kesempurnaan hidup juga mendapatkan pencerahan abadi.


Dalam kisah-kisah ini, Sang Buddha diceritakan terlahir sebagai Bodhisattva (makhluk yang meniti jalan menuju pencerahan). Wujud kelahirannya sangat beragam, mulai dari manusia, seperti raja, pendeta, tukang periuk hingga hewan seperti kelinci, rusa, monyet, gajah, dan ikan.


Secara tekstual, kitab Jataka merupakan bagian penting dari Kanon Pali (Tripitaka), tepatnya di dalam Khuddaka Nikaya dari Sutta Pitaka. Kitab ini memuat sekitar 547 kisah pendek maupun panjang. Di Indonesia, keindahan cerita Jataka ini dapat kita saksikan secara visual melalui relief dinding Candi Borobudur, yang memahat berbagai aksi kebajikan Sang Bodhisattva di masa lampau.


Cerita-cerita Jataka tersebut disukai sejak awal sampai saat ini, karena sifatnya yang memikat, dan empati yang dibangkitkan dari karya sastra tersebut, dapat membangun kontak emosional dengan publik terkait dengan perjuangan dan pencapaian mereka sebagaiman kehidupan Bodhisattwa yang telah melewati semua tahapan, ragam, dan keadaan kehidupan (Anandajoti Bhikku, 2020).


Dari puluhan cerita Jataka, ada cerita fabel yang sampai saat ini sangat familiar dan dikenal publik yakni kisah Sasa Jataka. Kisah ini di Candi Borobudur terpahat dalam lantai 1, dinding luar deret atas, panel 23-25. Dalam relief tersebut dikisahkan secara runtut. Bodhisattwa terlahir sebagai seekor kelinci yang bijaksana. Ia tinggal di hutan bersama tiga sahabatnya, seekor monyet, berang-berang, dan seekor serigala. Sang kelinci selalu memimpin sahabat-sahabatnya untuk hidup bermoral dan menjalankan kebajikan.


Suatu hari, menjelang hari posadha (hari suci pada saat bulan purnama), kelinci mengingatkan teman-temannya untuk berpuasa dan berderma kepada siapa pun yang datang meminta bantuan. Kelinci mencontohkan, apabila ada seseorang yang datang untuk meminta sedekah, berikan yang dimiliki dengan dengan ikhlas. Berderma merupakan tinakan yang sangat mulia dan bermafaat untuk banyak orang.


Ide tersebut disambut positif. Kemudian mereka mencari makanan sesuai kemampuan masing-masing. Berang-berang mendapatkan ikan, serigala memperoleh daging dan susu, monyet mendapatkan banyak buah. Sementara Sasa hanya mendapatkan rumput yang sangat jauh berbeda dengan teman-teman lainnya.  


Pada saat bulan purnama tiba, kelinci dengan penuh ketulusan hati bertekad apabila ada seseorang yang datang meminta makanan akan dengan senang hati akan menyuguhkan dagingnya sendiri menjadi santapan. Karena memang itu satu-sataunya yang dimiiki. Ia tidak punya apa-apa lagi.


Ikrar kelinci tersebut menggoncangkan istana para dewata. Dewa Sakra, segera diutus oleh Siwa Mahadewa menguji tekas Sasa yang mengagumkan tersebut. Dengan menyamar sebagai pertapa Dewa Sakra turun ke dunia untuk menunaikan tugasnya. Pertama Brahmana menghampiri ketiga satwa yaitu berang-berang, monyet, dan serigala. Pemberian mereka dengan kerendahan hati ditolak, karena untuk mendapatkan tidak sesuai dengan hakikat ajaran kebajikan.


Gilirannya kelinci yang diminta Sang Brahmana untuk memberikan dermanya. Tanpa keraguan kelinci besama teman-temannya mengumpulkan beberapa ranting pohon kering dan membuat perapian. Dengan kesaktiannya Dewa Sakra membuat kobaran api yang sangat besar yang kobaran apinya membubung tinggi sampai angkasa. Dengan mengibaskan tubuhnya, kelinci tanpa ragu-ragu melompat masuk ke dalam kobaran api yang menyala, diiringi teriakan histeris penuh kekhawatiran dari teman-temannya.  


Karena ketulusannya, api tersebut sama sekali tidak membakar bulu sang kelinci dan terasa sedingin air yang sejuk. Dewa Sakra terharu dan kagum akan pengorbanan tulus kelinci. Kemudian ia mengubah wujud aslinya sebagai dewata. Untuk mengabadikan kedahsyatan kebajikan yang tulus tersebut agar diingat sepanjang masa, dengan kesaktian dari alam kedewataan, Dewa Sakra melukis gambar kelinci di permukaan bulan, sehingga mewujudkan eksotika mengagumkan yang diingat sampai paripurna zaman.


Pesan Moral


Dalam kisah Sasa Jataka tersebut pesan moral yang dapat diambil yaitu pengorbanan tanpa pamrih dan sikap kedermawanan tinggi (dana paramita), dan welas asih universal. Hal itu ditunjukkan oleh Sasa yang rela mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Keikhlasan spontan tersebut merupakan nilai kebaikan yang dilakukan dengan ketulusan penuh tanpa mengharapkan balasan pujian atau keuntungan pribadi.  


Sedangkan sikap asih universal dalam cerita ini yaitu peka terhadap penderitaan orang lain, memberi tanpa batas dan penuh keikhlasasan. Sikap-sikap yang tertuang dalam kisah Sasa Jataka tersebut kiranya masih relevan diaplikasikan sampai saat ini, ketika bangsa Indonesia bersiap diri menghadapi dinamika global dan menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.  


Sekali lagi perlu juga ditegaskan, peninggalan situs-situs budaya yang masih eksis sampai saat ini, bukan hanya seonggok bangunan megah yang tanpa makna, namun di dalamnya menyimpan nilai-nilai moral yang perlu dipelajari oleh semua kalangan. Para seniman di Borobudur sudah mulai melakukan lompatan kreativitas untuk mengungkap kedalaman Candi Borobudur, seperti yang dilakukan oleh Wito Prasetyo dari Desa Candirejo, Borobudur yang berhasil menciptakan wayang berbasis relief.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Dalam rangka Waisak 2570 BE, bakti sosial pengobatan gratis WALUBI kembali hadir di Candi Borobudur. Melibatkan ribuan tenaga medis lintas agama, tradisi selama 30 tahun ini terus berlanjut demi meringankan beban sesama. Selamat Hari Raya Waisak 2026. #waisak #vesak #borobudur #magelang24jam ♬ original sound - kominfomagelang