Semangat Kesenian Rakyat

Dilihat 1432 kali
Kesenian Rakyat Soreng dalam Festival Ruwat Rawat Borobudur (RRB) 2021 di Tourist Information Center setempat

Bila ditelisik lebih jauh, kesenian rakyat bisa diandaikan seperti air bengawan yang mengalir tiada henti. Sebagaimana air sungai, selama perjalanannya pasti menemui  berbagai benturan dengan perkembangan zaman yang kian kompleks. Namun justru di situlah kesenian rakyat mengalami proses dialektikanya. Sampai saat ini grafik dan metamorfosa perkembangannya mewujud ke dalam keanekaragaman bentuk. 


Seperti agenda Ruwat Rawat Borobudur (RRB) yang tahun 2021 ini sudah masuk tahun ke-19. Serangkaian agenda kegiatan sudah terstruktur rapi jauh-jauh sebelumnya. Di dalam rangkaian kegiatannya, pasti diisi dengan berbagi festival sajian kesenian rakyat, seperti topeng ireng, soreng, jathilan, Sendratari Kidung Karmawibhangga, dan sebagainya. Tak ketinggalan terdapat agenda lain seperti upacara ritual, pawai budaya, juga diskusi budaya.


Aktivitas budaya yang sudah dilakoni tak pernah stagnasi, walaupun dalam perjalanannya penuh dinamika berliku. Spirit komunitas pendukungnya menyatukan tekad terpadu dalam satu komitmen yakni kepedulian yang konsisten dalam mempertahankan, melestarikan, serta mengembangkan kesenian rakyat secara berkelanjutan.


Menguatkan Kawasan


Selain itu, kegiatan RRB yang pertama kali kelahirannya diinisiasi oleh budayawan Sucoro dari Warung Info Jagad Cleguk tersebut, bertujuan untuk melestarikan budaya lokal, merajut pergaulan jaringan budaya, sekaligus  menguatkan kawasan Borobudur sebagai salah satu destinasi wisata dunia, namun tidak meninggalkan kelestarian Borobudur sebagai pusaka budaya dunia serta warisan budaya agung yang harus tetap dihormasi dan dilestarikan.


Menariknya dalam kegiatan budaya RRB mampu melakukan kegiatan secara berkelanjutan dan melibatkan jaringan kerja budaya dari beberapa daerah luar Magelang secara mandiri.  


Kegiatan rutin tahunan RRB atau kegiatan dari berbagai kelompok lain di Kabupaten Magelang, tidak pernah berangkat dari visi dan misi yang terlalu muluk. Kegiatan yang dilandasi oleh kerja nyata karena bertemunya antar manusia, komunitas satu dengan lainnya, menjadi ajang kegiatan fleksibel yang tidak dibatasi dalam ruang dan waktu. 

Hikmah dari kegiatan RRB ini, para pelaku kesenian dapat belajar mengenal karakter, baik itu sesama seniman, penonton, dunia pers, dan alam sebagai penyangga kehidupan. Adalah pengalaman yang luar biasa manakala mereka dapat mengenal pendidikan multikultural sampai tataran praksis.


Di sini nampak, kesenian rakyat dapat menjadikan media merajut kontak emosional antar komunitas satu dengan lainnya. Di samping itu, kesenian rakyat bisa menjadikan media untuk memperkuat jejaring dalam berbagai hal. Baik terkait dengan teknis berkesenian juga pengembangan seni antar kelompok.


Konteks Kultural


Pada dasarnya kehadiran kesenian rakyat tidak bisa dipahami secara parsial, melainkan  pada konteks tertentu banyak berkelindan dengan konteks kultural. Dengan kata lain, konteks kultural menjadi kerangka terbentuknya ruang publik. Di dalamnya memuat dimensi kepentingan komunitas pendukung kesenian itu sendiri. Dalam cakupan yang  lebih holistik, konteks kultural  menjadi sistem adat, religi, ekonomi, maupun aktivitas kesenian.


Benang merah kesenian rakyat dengan berbagai konteks kultural tersebut oleh Claire Holt dalam Art in Indonesia : Continuities and Change (1967) dikatakan, kesenian rakyat sebagai ikon dari tradisi yang hidup. Suatu bentuk aktivitas praksis kesenian yang tumbuh di tengah-tengah komunitas dan sampai kapanpun masih tetap bertahan karena berkorelasi erat dengan budaya masyarakat dalam arti yang sesungguhnya. 


Wujud konkret dari tulisan Claire Holt tersebut bisa ditengarai, kesenian rakyat dapat hidup begitu dinamis ketika memiliki mata rantai yang berkorelasi dengan  kegairahan siklus lain misalnya pertanian. Manakala panen berhasil pertanda hajatan akan meriah. Situasi penuh gairah pesta ini pada gilirannya akan dapat menarik kelompok-kelompok kesenian ke dalam suatu musim tanggapan. Di sini sangat jelas, bahwa mata rantai produksi suatu kesenian rakyat dibangun oleh faktor penyangga yang tiada lain adalah komunitas desa.


Kekuatan komunitas desa dengan budaya gotong royong, empati, dan kebersaman ternyata dapat membuktikan dalam aksi nyata mampu melakukan kegiatan yang berkelanjutan. Bahkan ketika pandemi berlangsung, kegiatan RRB selalu menyerukan bahwa seniman ketika pentas atau latihan harus taat protokol kesehatan demi kenyamanan bersama. 


Adapaun yang bisa menjadi bahan refleksi bersama, bahwa spirit kesenian rakyat tidak hanya sekadar sebagai media hiburan. Nafas kehidupannya dapat menjadi mediasi untuk membangun kekuatan jaringan dan kebersamaan kelompok tanpa memandang status apapun. 


Bila simbiosis mutual tersebut dapat tercipta secara berkelanjutan, maka spirit kesenian rakyat akan terus berkobar laksana magma yang tidak akan pernah padam walau dihembus angin sekencang apapun.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar