Menteri Kebudayaan Serap Aspirasi Umat Soal Chattra Borobudur

Dilihat 41 kali
Menteri Kebudayaan Fadli Zon berbincang dengan Bante Sri Pannavaro Mahathera dalam kunjungannya, Minggu (3/5/2026).

BERITAMAGELANG.ID - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon berkunjung ke Vihara Mendut, Minggu (3/5/2026). Dalam pertemuan bersama Bante Sri Pannavaro Mahathera, ada sejumlah hal yang dibahas. Termasuk soal rencana pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur.

Kedatangan Fadli Zon ke Vihara Mendut berlangsung dalam suasana sederhana. Tidak ada agenda formal yang kaku, melainkan perbincangan mengalir tentang berbagai aspek, mulai dari sejarah vihara, arca Buddha, hingga filosofi ajaran.

Vihara Mendut sendiri tahun ini memasuki usia ke-50 sejak berdiri pada 1976, dan menjadi salah satu titik penting dalam lanskap spiritual kawasan Borobudur. Bante Pannavaro menyambut kunjungan Fadli dengan hangat.

"Beliau silaturahmi, sambil berjalan bertanya tentang pohon bodhi, arca Buddha, dan hal-hal lain. Saya menjelaskan semampu saya," ujar Bante Pannavaro.

Di tengah perbincangan, Fadli Zon menyinggung soal chattra atau elemen arsitektur berbentuk payung atau mahkota yang lazim ditemukan di puncak bangunan suci Buddha. Menurutnya, chattra bukan sekadar ornamen, melainkan memiliki makna filosofis yang kuat.

Dia mengungkapkan, dari penjelasan Bante Pannavaro, chattra dipahami sebagai simbol penghormatan, perlindungan, sekaligus representasi pencapaian spiritual tertinggi.

"Di banyak situs Buddha, chattra selalu ada. Bahkan dalam relief Borobudur juga tergambar. Ini bagian penting dari tradisi," katanya.

Pembahasan tersebut kemudian mengarah pada rencana pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur, yang disebut sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali nilai-nilai yang melekat pada situs tersebut.

Fadli menegaskan, pendekatan pengelolaan Borobudur ke depan tidak hanya berfokus pada konservasi fisik. Tetapi juga pada penguatan fungsi sebagai living heritage.

"Kita ingin ada keseimbangan antara perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Nilai-nilai yang hidup di masyarakat juga harus mendapat ruang," ucapnya.

Menurut dia, aspirasi terkait chattra menjadi salah satu bagian dari upaya adaptasi terhadap kebutuhan umat sekaligus penguatan makna budaya Borobudur.

Selain itu, kunjungan ini juga bertepatan dengan periode menjelang perayaan Waisak, yang setiap tahun menjadikan kawasan Borobudur dan sekitarnya sebagai pusat kegiatan keagamaan Buddha.

Fadli melihat, Waisak tidak hanya sebagai peristiwa religius, tetapi juga momentum kebudayaan yang memiliki arti penting dalam sejarah bangsa.

"Ini bagian dari perjalanan peradaban kita. Jadi bukan hanya milik umat Buddha, tetapi juga milik bangsa Indonesia," katanya.

Terkait realisasi pemasangan chattra, dia menyebut, kemungkinan akan dilakukan setelah perayaan Waisak. 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar