Pelajar Lestarikan Warisan Budaya dengan Membatik

Dilihat 15 kali

BERITAMAGELANG.ID - Batik adalah warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Milik Kemanusiaan (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Sejak itu, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional, momen yang mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan dan menghidupkan kembali tradisi luhur ini.

Sejalan dengan semangat pelestarian batik, pelajar di Ngablak, khususnya di SMP Pendowo Ngablak mengambil peran aktif dalam pengenalan dan pembelajaran membatik kepada siswa melalui kegiatan kokurikuler. Di sekolah ini, membatik bukan sekadar praktik keterampilan, melainkan proses pembelajaran menyeluruh yang mengajarkan nilai sejarah, estetika, dan filosofi budaya Nusantara.

Kegiatan yang berlangsung hari Jumat (13/2) di SMP Pendowo Ngablak menghadirkan narasumber Yustinus Agus Daryanto, seniman batik Magelang.

Sebagai narasumber, Yustinus Agung Daryanto mengatakan, pembuatan rancangan desain batik sesuai kreativitas masing-masing. Proses membatik, mulai dari mencanting di atas kain, pewarnaan, hingga pelorodan.

"Penyelesaian karya menjadi produk kain batik yang siap digunakan atau dipamerkan," ujarnya.

Lebih lanjut Yustinus mengatakan, dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya terlibat dalam praktik budaya, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam batik sebagai identitas bangsa.

Salah seorang guru SMP Pendowo Ngablak, Budi Utomo, yang juga pendamping kokurikuler membatik mengatakan, kegiatan membatik sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler yang rutin dan terstruktur. Namun lebih dari sekadar keterampilan, proses membatik juga membangun karakter siswa-siswi secara menyeluruh.

Proses membatik dari menggambar pola, mencanting malam, hingga pewarnaan, membutuhkan konsentrasi tinggi, ketelatenan, dan kehati-hatian. Siswa belajar untuk tidak terburu-buru, karena kesalahan kecil bisa memengaruhi hasil akhir.

"Ini mengasah sikap sabar dan tanggung jawab," ungkap Budi.

Dalam merancang motif batik, siswa diberikan kebebasan untuk berinovasi sambil tetap menghargai nilai-nilai tradisi.

"Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan berpikir kreatif, dan keberanian untuk mengekspresikan gagasan secara visual," papar Budi Utomo penuh semangat.

Kepala SMP Pendowo Ngablak, Veronika Widaryanti mengatakan, melalui pembelajaran tentang filosofi batik dan peran budaya lokal, siswa secara tidak langsung membangun kesadaran akan identitas nasional dan rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Selain itu, siswa juga dilatih untuk bisa bekerja dalam kelompok, saling membantu dan memberi masukan. Ini menjadi sarana pembelajaran kerja tim, toleransi, dan komunikasi yang baik antar teman. Dari proses merancang hingga menghasilkan karya, siswa dituntut untuk menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dan sesuai standar.

"Ini melatih mereka memiliki etos kerja dan kedisiplinan, yang sangat penting dalam kehidupan nyata," kata Veronika.

 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar