BERITAMAGELANG.ID - Sebanyak 62 pemuda-pemudi berprestasi dari berbagai wilayah di Indonesia menerima penghargaan emas Duke of Edinburgh International Award dalam seremoni resmi yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Pabelan pada Rabu (9/4/2026). 13 diantaranya dari Pondok Pesantren Pabelan Magelang. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, sebagai bentuk apresiasi atas capaian luar biasa generasi muda dalam pengembangan karakter dan kepemimpinan.
Momentum penganugerahan tahun ini menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan peringatan 70 tahun pelaksanaan program Duke of Edinburgh International Award secara global. Selama tujuh dekade, program ini telah dikenal luas sebagai salah satu inisiatif pendidikan nonformal yang berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang tangguh, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial tinggi melalui berbagai aktivitas terstruktur dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Bupati Magelang yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum, Asfuri Muhsis menyampaikan, capaian para penerima penghargaan tidak terlepas dari proses panjang yang menuntut komitmen, kedisiplinan, serta semangat belajar yang tinggi.
"Program ini membentuk karakter generasi muda secara menyeluruh," kata Asfuri.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga mencerminkan implementasi nyata Kemitraan Strategis Inggris - Indonesia, khususnya dalam pilar People and Society, yang menitikberatkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia serta perluasan hubungan antarmasyarakat kedua negara melalui sektor pendidikan dan pemberdayaan pemuda.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan.
"Kami berharap para penerima penghargaan dapat terus mengembangkan potensi diri serta memberikan kontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa," ujar Asfuri.
Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan, KH Ahmad Najib Amin Hamam menilai, program ini sebagai langkah strategis dalam membuka akses santri ke tingkat global.
Menurutnya, program tersebut telah diperkenalkan di Pesantren Pabelan sejak 1997 dan dinilai sejalan dengan nilai-nilai pendidikan pesantren yang menekankan kemandirian dan tanggung jawab sosial.
"Program ini sangat positif karena memberikan ruang bagi santri untuk berkembang sesuai potensi masing-masing. Mereka dilatih untuk menyelesaikan tantangan secara tuntas serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat," katanya.
Dalam prosesnya, peserta harus melalui tahapan berjenjang mulai dari tingkat perunggu, perak, hingga emas dengan durasi waktu yang tidak singkat serta tuntutan kontribusi nyata kepada masyarakat.
"Tahun ini ada 13 santri yang meraih penghargaan emas," tambah Ahmad.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey menegaskan, pencapaian para penerima penghargaan merupakan hasil dari proses panjang yang tidak hanya mengasah kemampuan individu, tetapi juga memperkuat keterlibatan sosial.
"Program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral antara Inggris dan Indonesia melalui kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan generasi muda," Ujar Dominic.
Ke depan, program Duke of Edinburgh International Award ditargetkan dapat menjangkau lebih banyak daerah dengan melibatkan ribuan pemuda di berbagai kota, sehingga mampu menciptakan dampak yang lebih luas dalam membangun generasi muda yang berdaya dan berkontribusi.
"Ke depan, program ini ditargetkan hadir di 30 kota dan menjangkau sekitar 3.000 pemuda, sehingga dapat membangun gerakan yang lebih luas dalam pemberdayaan generasi muda," kata Dominic.
Para penerima penghargaan emas tahun ini berasal dari berbagai institusi pendidikan dan komunitas, di antaranya PPI Purna Paskibraka Bandung, Pesantren Pabelan Magelang, Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Canggu Community School Bali, BPK Penabur Jakarta, serta Yayasan Urunan Kebaikan Surabaya.
Keberagaman latar belakang tersebut menunjukkan program ini telah berkembang menjadi sebuah gerakan kolaboratif lintas sektor yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian individu, tetapi juga pada kontribusi sosial yang berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, para peserta didorong untuk menjadi individu yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Santri Pondok Pesantren Pabelan, Fathiya Sari Nur Haniya, berhasil meraih penghargaan emas Duke of Edinburgh's International Award mengatakan dalam proses meraih penghargaan tersebut, ia mengikuti sejumlah program yang menjadi bagian dari penilaian, di antaranya keterlibatan dalam pelayanan masyarakat dengan berperan sebagai sekretaris di sebuah organisasi, serta aktif dalam kegiatan olahraga bulutangkis.
"Seluruh rangkaian kegiatan tersebut saya jalankan secara konsisten selama lebih dari satu tahun sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan diri dan kontribusi sosial, " kata Fathiya.
Ia menjelaskan, setiap kegiatan yang dilakukan tidak hanya dijalani, tetapi juga didokumentasikan dengan baik untuk kemudian dipresentasikan sebagai bagian dari proses penilaian. Selain itu, dirinya juga melakukan persiapan secara matang selama kurang lebih enam bulan guna memastikan seluruh tahapan dapat dilalui dengan optimal hingga akhirnya berhasil meraih penghargaan tingkat emas tersebut.
0 Komentar