Sensasi Unik Warung Legendaris Nasi Opor Lesah Mbah Sulimah

Dilihat 2730 kali
Warung legendaris nasi opor Mbah Sukimah di Tanjungsari, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah selalu laris pengunjung

BERITAMAGELANG.ID - Berwisata ke Candi Borobudur tak lengkap jika belum mencicipi nasi opor lesah legendaris Mbah Sulimah. Konon kelezatan kuliner kuno ini berasal dari resep rahasia para Raja di tanah Jawa.

Setiap pembeli di warung nasi opor lesah legendaris ini dianggap sedulur atau keluarga lantaran bangunan warung itu merupakan rumah sederhana Mbah Sulimah (60) di Desa Tanjungsari Kecamatan Borobudur atau 2 kilometer dari Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah.

Uniknya lagi, sejak 1975 warung ini hanya menyediakan 3 tempat duduk, 2 kursi kayu panjang atau risban dan 1 dipan. Sehingga pengunjung bisa bersantap di dapur atau di ruang tamu.

"Monggo, mau makan di depan atau di pawon (dapur). Sejak pertama jualan adanya kursi risban dan amben dipan kayu ini," tutur Mbah Sulimah sambil meracik pesanan nasi opor lesah.

Aroma santan yang tidak terlalu kental berpadu bumbu rempah, irisan kobis, daun seledri sedikit kecambah, bawang goreng dan daging ayam kampung membangkitkan selera.

Perpaduan racikan itu menciptakan rasa gurih, sangat cocok untuk hidangan buka puasa.

Menurut Mbah Sulimah, resep kuah lesah mirip bumbu soto atau gulai. Semua rempah rempah dihaluskan dalam kondisi mentah.

"Takarannya harus pas, salam laos cengkeh dan lain lain agar saat direbus tidak ada aroma mentahnya," jelasnya.

Nenek 5 anak dengan 11 cucu ini mendapat resep opor lesah secara turun temurun dari keluarga. Dahulu hidangan ini sebagai menu utama di hari lebaran. Sayur opor lesah menjadi istimewa karena sejarahnya. Menurut riwayat, sudah ada sejak era kerajaan untuk hidangan para raja.

"Dahulu keluarga biasa memasak nasi opor lesah sebagai hidangan istimewa hanya saat lebaran saja," lanjutnya mengenang.

Saat itu, imbuh Mbah Sulimah, harga satu piring nasi opor lesah masih sangat murah, nyaris tidak dapat laba.

"Wedang teh dan satu piring nasi opor lesah saat itu hanya 5 gelo satu ketip (lima rupiah)," kenang Mbah Sulimah lagi.

Meski demikian, ia bersyukur warungnya bisa bertahan hingga kini.

"Sehari minimal 2 sampai 3 ekor ayam kampung, sekarang laris.Pembelinya banyak dari mana-mana," ungkapnya.

Ada cerita di antara kelezatannya. Tidak sekedar berwisata kuliner saja tapi warung opor nasi lesah Mbah Sulimah memang selalu membuat kangen para pelanggannya. Pembeli pun bermacam-macam, dari masyarakat biasa hingga tokoh artis ibukota.

"Saya tidak hafal namanya tapi orangnya sering saya liat di tv. Kebanyakan mereka makan setelah berwisata dari Candi Borobudur," katanya.

Satu porsinya cukup murah, hanya Rp 12.000. Pembeli bisa memilih sendiri daging ayam kampung yang disukai.

"Rasanya kuah segar, ada sayuran dan rasa manis dari daging ayam kampung bacem sungguh enak," kata salah satu pelanggan, Kurniawati.

Bagi para pelanggan, selain kelezatannya, ada kenangan dari warung Mbah Sulimah, yakni sapa ramahnya ke setiap pembeli.

"Saya dapat hadiah dari Mbah Sul, satu plastik bumbu opor lesah. Lumayan bisa untuk masak di rumah," kata Kurniawati girang.

Jika penasaran mau mencicipi sensasi nasi opor lesah Mbah Sulimah bisa berkunjung setiap saat. Tapi syaratnya harus sabar.

"Antri biasa di warung ini namun tetap dilayani dengan ramah sehingga rasanya asyik," tutup Kurniawati.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar