Jelang Waisak, Umat Gelar Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo

Dilihat 430 kali
Prosesi Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo yang digelar sebagai rangkaian Waisak 2026

BERITAMAGELANG.ID - Ratusan umat Buddha menggelar ritual Larung Pelita Purnama Sidhi di alur Sungai Progo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Jumat (30/5/2026) malam.

Ritual ini untuk membuang karma baik menuju pencerahan dan kedamaian seperti ajaran sang Maha Guru Buddha.

Dipimpin tokoh agama Buddha dari Majelis Umat Nyingma Indonesia (MUNI) doa bersama digelar sebelum prosesi larung. Proses ini berlangsung khidmat, ratusan umat Buddha dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor Medan dan kota lainnya nampak khusyuk mengikutinya.

Ritual Larung Pelita Purnama Sidhi ini juga diikuti oleh seniman/tokoh masyarakat dan duta besar perwakilan sejumlah negara. 

Salah satu umat Buddha asal Medan, Sumatera Utara, Berby Sahara mengatakan, larung pelita ini menjadi sarana penyucian umat Buddha sebelum mengikuti perayaan Waisak nasional tahun 2026 di kawasan Candi Borobudur.

Sedangkan nyala pelita menjadi simbol sarana pembawa doa dan harapan agar tercipta harmoni perdamaian di dunia dan bangsa indonesia pada khususnya

"Baru pertama kali ikut, tapi seru dan sangat menyenangkan. Doa supaya Indonesia semakin maju dalam segala hal," kata Berby.

Ritual larung ini merupakan bagian dari kegiatan Borobudur Peace and Prosperity di kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang. Kegiatan Borobudur Peace and Prosperity merupakan sarana menggabungkan budaya, seni, dan keberagaman yang tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Prosesi larung diawali dengan kirab lima gunungan dari Candi Pawon menuju bantaran sungai progo di Brojonalan Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang.

Di antara kegelapan malam alur Sungai Progo, ribuan pelita dari lima gunungan itu kemudian dilepaskan diiringi sejumlah tarian puja.

"Bukan pelitanya yang dilarung tapi pelitanya sebagai penerang jalan, sedangkan larungan itu adalah tradisi Jawa membuang sesuatu yang buruk dilarung," kata seniman penggagas Larung Pelita Purnama Sidhi, Nuryanto, di lokasi.

Sungai Progo dipilih sebagai tempat larung pelita karena merupakan salah satu sungai yang mengalir deras dan terhubung dengan laut selatan Pulau Jawa.

Menurut Nuryanto, Larung Pelita Purnama Sidhi ini merupakan sebuah tradisi Jawa kuno yang perlu dilestarikan karena melibatkan semua unsur dari mulai pelaku seni perajin lilin (pelita). Seperti kali ini ada puluhan seniman penari dan pemerhati spiritual terlibat dalam kegiatan ini. Jumlah pelita yang dilarung sebanyak 1.400 buah.

Bahan yang digunakan larung pelita cenderung ramah lingkungan, mudah terurai oleh ekosistem sungai seperti tempurung kelapa untuk wadah lilin. Sedangkan lilin dibuat dari bahan limbah minyak goreng.

"Itu supaya tidak merusak ekosistem yang ada. Seandainya nanti tempurung kelapa masuk ke dasar sungai menumpuk itu akan menjadi sarang ikan juga," jelasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang