Momentum Mawas Diri di Bulan Sura

Dilihat 150 kali
Wayang orang sakral dengan cerita Lumbung Tugu Emas dari Padepokan Seni Tjipta Boedaja di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang selalu dipentaskan rutin di bulan Sura sebagai tuntunan moral agar manusia selalu setia dalam merawat bumi dan menjaga keberlangsungan alam semesta.

Tidak bisa dipungkiri pada saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami keprihatinan. Dinamika politik juga ekonomi yang mencuat ke ranah publik mengindikasikan bahwa keprihatinan berlapis sedang mendera Indonesia. Fenomena yang terjadi di lapangan, tentunya sudah disikapi oleh semua pihak, agar berbagai keresahan masyarakat segera diantisipasi sehingga tidak terjadi  gelombang besar.


Di balik berbagai peristiwa tersebut diperlukan kebesaran jiwa seluruh rakyat Indonesia untuk melalukan tindakan mawas diri. Tindakan tersebut merupakan sebuah proses refleksi kolektif dan individu untuk mengevaluasi moral, kinerja, dan persatuan. Langkah ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk memperbaiki keadilan sosial, menguatkan solidaritas, dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.


Pada bulan Juni ini dalam kalender Jawa dikenal dengan tahun baru Muharram atau Sura. Komunitas Jawa meyakini, bulan Sura sebagai waktu yang paling tepat untuk melakukan  introspeksi atau mawas diri atas perbuatan yang mereka lakukan selama setahun. Istilah Sura yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya Jawa, berasal dari kata asyura (bahasa Arab) yang berarti kesepuluh. Sementara itu dalam Islam, terminologi Sura sebagaimana yang telah dipahami adalah identik dengan bulan Muharram.


Di samping itu, bulan Sura diyakini sebagai manisfestai perubahan waktu yang akan berdampak bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, menurut pandangan hidup masyarakat, bersamaan dengan perubahan tahun tersebut memang diperlukan media sebagai laku ritual dengan berbagai cara agar hidupnya dapat selamat dan bahagia.  


Perspektif Kultural


Bulan Sura dalam budaya Jawa selalu diiikuti dengan bentuk tradisi suran. Tradisi ini dapat dipahami adalah perayaan menyambut tahun baru kalender Jawa yang jatuh pada bulan Sura. Dari perspektif kebudayaan, Suran berfungsi sebagai sarana akulturasi, media refleksi spiritual, dan simbol gotong royong yang menjaga harmoni sosial serta identitas masyarakat Jawa.


Dari perspektif kultural, tradisi ini berfungsi sebagai sarana refleksi diri, pembersihan jiwa dari kesalahan masa lalu, serta media untuk merajut solidaritas dan gotong royong di tengah masyarakat. Tradisi menyambut tahun baru kalender Jawa ini merupakan perpaduan antara budaya asli Nusantara, Hindu-Buddha, dan ajaran Islam yang dibawa pada masa pemerintahan Sultan Agung penguasa Kerajaan Mataram.


Bulan Sura sampai saat ini dianggap sakral. Tentunya bulan ini dapat untuk menjadikan momentum reflektif bagi masyarakat untuk senantiasa introspeksi diri (mawas diri), mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memohon keselamatan (tolak bala) agar dijauhkan dari marabahaya di tahun yang baru.


Sebagai sebuah entitas budaya yang hidup (living culture), Suran mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan roh utamanya. Tradisi ini membuktikan bahwa sistem kepercayaan lokal dapat berjalan selaras dan saling menguatkan dengan nilai-nilai agama Islam serta mampu menciptakan harmoni sosial yang spesifik di masyarakat.


Dalam menyiasati hidup, orang Jawa cenderung melihat pada perhitungan waktu, termasuk memandang bulan Sura. Perubahan tahun baru Jawa bagi kebanyakan orang Jawa merupakan saat yang kritis. Oleh karena itu, menurut pandangan dan tradisi yang sudah turun temurun, masyarakat meyakini untuk melakukan laku ritual sesuai dengan cara yang diyakini (Hersapandi, 2000).


Lalu ritual yang sering dilakukan pada saat bulan Sura dapat melaui berbagai tindakan, antara lain tapa bisu (membisu), jamasan pusaka (membersihkan benda pusaka), siraman (mandi kembang), hingga puasa sebagai bentuk pengendalian diri. Selain itu, dalam perspektif kebudayaan laku ritual dapat dilakukan dengan pertunjukan wayang. Opsi pemilihan pada jenis pertunjukan wayang sudah barang tentu dilatarbelakangi oleh tradisi ritual dalam masyarakat Jawa.


Orientasi laku ritual dengan pertunjukan wayang ini merupakan pencerminan dari permasalahan kehidupan sehari-hari manusia manusia yang bersifat universal. Dalam korelasinya dengan bulan Sura ini, pertunjukan wayang dimaksudkan untuk memberi suatu gambaran dinamika perilaku kehidupan manusia dalam hidup kesehariannya.


Di Kabupaten Magelang, tepatnya di Padepokan Seni Tjipta Boedaja, Dusun Tutup Ngisor Desa setiap bulan Sura pasti mementaskan wayang orang sakral dengan cerita Lumbung Tugu Emas yang didirikan oleh para Pandawa atas berkah dari para dewata penguasa Kahyangan Jonggringsalaka. Pertunjukan tersebut diambil dari epos Mahaharata yang sampai saat ini masih tetap melegenda. Tujuan pementasan tersebut yaitu ungkapan syukur kepada Sang Pencipta Dunia yang dilambangkan dengan Dewi Sri karena memberikan kesuburan atas bumi Merapi. Lumbung merupakan pengungkapan semiotika kesuburan bagi kultur agraris yang digunakan untuk menyimpan padi atau manifestasi Dewi Sri.


Para petani sangat menghormati Dewi Sri sebagai simbol kehidupan yang secara realistis diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat di Dusun Tutup Ngisor dalam dunia pertanian dan kesenian. Di dalam pementasan tersebut terdapat peristiwa kesenian yang menarik yang bukan hanya sekadar tontonan, namun di dalamnya terkandung pesan atau tuntunan moral,  berisi doa dan petuah agar manusia selalu merawat bumi dan menjaga keberlangsungan alam semesta.


Adapun cerita wayang sakral tersebut merupakan ciptaan dari Yoso Soedarmo, pendiri padepokan yang diturunkan sampai melintas beberapa generasi. Sampai saat ini ceritanya tidak berubah. Sedangkan para pemainnya, sudah menjadi ketentuan harus keturunan langsung pendiri padepokan.


Berbagai peristiwa yang menyertai perjalanan hidup manusia merupakan peristiwa penting yang perlu disikapi dengan berbagai usaha, secara lahir maupun batin. Salah satunya adalah menjalankan berbagai upacara-upacara yang diperoleh dari pendahulunya, sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.


Demikian halnya dengan upacara tradisi Suran di Dusun Tutup Ngisor itu sebagai manifestasi peribadatan kepercayaan (kapitayan) Jawa yang dianut oleh warganya. Tradisi Suran merupakan upacara yang bersifat ritual, karena dalam pelaksanaannya terdapat ritus peribadatan (satu bentuk komunikasi) kepada Tuhan Yang Maha Esa, berdasar pada keyakinan masyarakat Dusun Tutup Ngisor sesuai dengan kondisi sosial budaya komunitanya.


Mawas Diri


Pada dasarnya tradisi Suran di bulan Sura ini dipandang dari perspektif budaya dapat menjadi media refleksi semua manusia untuk selalu mawas diri. Tradisi ini menanamkan filosofi eling lan waspada, yakni ajakan untuk merefleksikan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mensyukuri hidup.


Bulan Sura identik dengan laku prihatin, seperti berpuasa, membatasi diri dari budaya euforia, hingga ritual tapa bisu atau meditasi. Dalam keheningan tersebut, seseorang diajak melakukan kontemplasi mendalam mengenai kesalahan masa lalu dan merencanakan perbaikan diri di tahun yang baru. Semua umat manusia perlu menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara sebagaimana tertulis dalam adagium Jawa urip iku mung mampir ngombe yang dapat dimaknai hidup hanya ibaratnya mampir minum. Untuk itu kiranya umat manusia perlu menebar kebaikan bagi sesama.


Eskpetasinya dengan melakukan laku ritual di bulan Sura sebagai kesadaran kolektif ini, bangsa Indonesia dapat menemukan pencerahan yang pada gilirannya akan membawa kebahagiaan dan kemaslahatan bersama. 


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Bukan cuma rapat di dalam ruangan, tapi langsung cek ke lapangan! 👏 Ketua TP PKK Kabupaten Magelang bersama jajaran meninjau berbagai program unggulan di Desa Daleman Kidul dan Jambewangi, Kecamatan Pakis. Dari bank sampah, UMKM keluarga, hingga ketahanan pangan, semua bergerak bersama untuk desa yang makin maju. 🌱✨ #Magelang #TPPKK #DesaHebat #KetahananPangan #BankSampah ♬ original sound - kominfomagelang