Ritual Sakral Api Dharma Waisak di Candi Mendut Berlangsung Khidmat

Dilihat 128 kali
Api Waisak 2026 dari Situs Mrapen Grobogan tiba di Candi Mendut Jumat (29/5/2026).

BERITAMAGELANG.ID - Ratusan umat dan biksu berbagai Sangha menggelar ritual sakral penyemayaman Api Dharma Waisak di Candi Mendut Kabupaten Magelang Jumat (29/5/2026).

Api Dharma tersebut diambil dari sumber Api Alam di Mrapen, Grobogan dan tiba di Candi Mendut pukul 15.40 WIB.

Sekjen Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), Bikkhu Kamsai Summano Mahatera mengatakan, Api Dharma merupakan simbol penerang batin, sumber kebijaksanaan yang menjauhkan rasa emosi, benci dan kebodohan.

"Api itu, simbolis tradisi kita menjadi terang. Terang itu damama. Damma adalah kebijaksanaan melayapkan kotoran batin," ungkapnya di Candi Mendut.

Ditambahkan Bikhhu Kamsai, lilin aneka warna di altar utama Candi Mendut menjadi simbol cahaya yang menyatukan semua umat setelah kegelapan. Sehingga di momen ini proses menyalakan lilin di altar utama dilakukan oleh perwakilan setiap Sangha.

Dijelaskan Bikhhu, pensakralan api Waisak berbeda dari tahun sebelumnya, karena Pradaksina atau ritual mengitari candi searah jarum jam dan doa hanya digelar dipelataran Candi Mendut saja, tidak naik ke struktur dalam. 

Hal itu karena Candi Mendut masih dalam perbaikan kerusakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX.

"Tahun ini kita izinkan Pradaksina digelar di samping, meditasi di samping kita nggak ke atas," jelasnya.

Ritual pensakralan dilakukan dengan penuh khidmat mulai dari kedatangan api, menyalakan lilin aneka warna, dan dupa. Secara bergantian, umat dipimpin para Bikkhu berbagai Sangha mendaraskan doa mantra dan parita suci . 

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPW) Walubi Jateng, Tanto Soegito Harsono mengatakan Api Damma Waisak dari Mrapen Grobogan secara simbolis diterima oleh 20 orang untuk disemayamkan di altar Candi Mendut.

Setelah tiba di Candi Mendut, api dharma digunakan dalam rangkaian ritual keagamaan yang diikuti para Sangha, rohaniwan, dan berbagai majelis agama Buddha.

Setelah api diterima, lanjut Tanto, digunakan untuk menyalakan obor dan lilin. Terus setelah itu sembahyang, ritual menurut masing-masing majelis dan ditutup dengan pradaksina.

"Nanti penerimanya ada 20 orang. Api akan dibawa oleh teman-teman rohaniawan wakil setiap Sangha," jelas Tanto.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.

♬ original sound - kominfomagelang