BERITAMAGELANG.ID - Jejak banjir lahar dingin Merapi yang melanda Sungai Pabelan pada 2010, masih membekas hingga kini. Bantaran kali yang tidak lagi produktif, menjadi pengingat pentingnya upaya merawat alam agar bencana serupa tidak terulang.
Berangkat dari kesadaran tersebut, warga Dusun Macanan bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Muntilan, Pemerintah Desa Tanjung dan Sokorini menggelar kegiatan penanaman pohon di bantaran Sungai Pabelan.
Ketua Tanfidziyah MWC NU Muntilan, Usman Malik mengatakan kegiatan ini berawal dari inisiatif masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Kegiatan dikemas dalam acara: Merti Bumi, Satu Pohon Sejuta Manfaat, Menyongsong 1 Abad Nahdlatul Ulama.
Warga mengupayakan pengadaan bibit tanaman melalui Balai Pembenihan Tanaman Hutan (BPTH) Wilayah III Yogyakarta untuk mendukung penghijauan di kawasan rawan bencana tersebut.
"MWC NU memang konsen dengan kegiatan lingkungan, termasuk penanaman pohon dan penanganan sampah. Ketika ada inisiatif dari masyarakat, kami sangat mendukung agar kegiatan ini bisa ditularkan ke komunitas lain," kata Usman Malik, Minggu (18/1).
Rehabilitasi Lahan
Menurutnya, penanaman pohon di bantaran sungai tidak hanya bertujuan mencegah bencana, tetapi juga sebagai rehabilitasi lahan pasca lahar dingin. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat mencegah aktivitas penambangan liar yang selama ini marak di sekitar bantaran sungai.
"Dengan adanya pohon-pohon yang ditanam, kita berharap masyarakat semakin sadar bahwa bantaran sungai harus dijaga, bukan dieksploitasi," jelasnya.
Jenis tanaman yang ditanam merupakan pohon-pohon yang mampu menahan air sekaligus memberi manfaat ekonomi, seperti aren, sukun, kluwih, serta tanaman keras lainnya.
Usman menambahkan, kegiatan ini juga sejalan dengan semangat menyongsong 1 abad Nahdlatul Ulama yang menekankan ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan, serta upaya mencegah bencana melalui konservasi alam.
Selain penghijauan, MWC NU Muntilan juga memanfaatkan momentum ini untuk mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah rumah tangga, terutama pemilahan sampah organik dan limbah berbahaya, agar tidak mencemari lingkungan sungai.
Merti Bumi
Sekretaris Desa Tanjung, Muhari menyampaikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat Dusun Macanan yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Dia menyebut, baru kali ini Desa Tanjung mendapatkan bantuan bibit penghijauan dari luar daerah yang secara khusus ditanam di bantaran Sungai Pabelan.
"Kami dari Pemerintah Desa Tanjung mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, termasuk panitia Merti Bumi Dusun Macanan. Kami mendukung penuh penanaman pohon di lahan-lahan yang sudah tidak produktif, terutama bantaran sungai," kata Muhari.
Dia menjelaskan, bantaran Sungai Pabelan dipilih karena kawasan tersebut terdampak langsung lahar dingin Merapi 2010 dan tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk pertanian.
Dengan penanaman pohon seperti rumpun bambu, nyamplung, aren, sukun, kluwih, dan pohon keras lainnya, diharapkan kesuburan tanah dapat kembali pulih.
"Harapannya tanah di bantaran sungai ini bisa kembali produktif, setidaknya menjadi lahan yang lebih stabil dan subur untuk jangka panjang," kata Muhari.
Menjaga Air
Sekretaris Desa Sokorini, Fathuroyan menjelaskan warganya mayoritas bekerja sebagai petani. Mereka mengandalkan pasokan air irigasi dari sungai terdekat.
Harapannya dari program penanaman pohon di bantaran Sungai Pabelan dapat meningkatkan produktifitas pertanian di Desa Tanjung dan Sokorini.
"Kami semangat sekali merehabilitasi bantaran Sungai Pabelan. Tanaman apapun pasti menjaga ketersediaan air. Warga kami kebanyakan petani. Lahan mereka butuh sekali banyak air," ujar Fathuroyan.
Melalui kolaborasi masyarakat, organisasi keagamaan, dan pemerintah desa, kegiatan penanaman pohon ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam merawat Sungai Pabelan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di wilayah Muntilan.
0 Komentar