BERITAMAGELANG.ID - TNI membangun jembatan gantung "Garuda" yang menghubungkan Dusun Pongangan Desa Balekerto Kecamatan Kaliangkrik dan Dusun Kaliduren Desa Sukodadi Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang. Pembangunan jembatan gantung ini untuk mempercepat akses jalan masyarakat setempat, yang selama ini harus menyeberang sungai atau berjalan memutar bila hendak beraktivitas antar desa.
Danrem 072 Pamungkas Brigjen TNI, Bambang Sujarwo di sela-sela meninjau pembangunan jembatan di Dusun Pongangan Kalingkrik, Kamis (22/1) mengatakan, di wilayahnya yakni Yogyakarta dan Kedu, ada sekitar delapan jembatan yang akan dibangun melalui program pembuatan jembatan secara nasional.
"Dua diantaranya berada di Kabupaten Magelang yakni jembatan gantung di Kaliangkrik dan Kecamatan Ngablak," jelasnya.
Menurut Danrem, pembangunan jembatan gantung karena pembangunan lebih cepat dikerjakan sekitar satu bulan lebih. Dibandingkan dengan pembangunan jembatan beton yang memakan waktu berbulan-bulan, jembatan gantung lebih efektif.
"Jembatan ini nantinya hanya bisa dilalui sepeda motor dan pejalan kaki," katanya.
Pembangunan jembatan ini melibatkan TNI dan masyarakat setempat. TNI ada 10 orang, dua diantaranya teknisi, sedangkan masyarakat yang terlibat sebanyak 15 orang.
Jembatan yang dibangun memiliki bentangan 35 meter dengan anggaran sebesar Rp330 juta. Untuk saat ini, progres pembangunan baru mencapai 30 persen.
Danrem menegaskan, pembangunan jembatan gantung ini bertujuan untuk membantu warga setempat, yang selama ini kesulitan mengakses jalan antar desa.
Kepala Desa Balekerto Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang, Kastholani mengaku sangat senang dan bahagia, karena di desanya akan dibangun jembatan gantung, yang menghubungkan dua desa di dua kecamatan yakni Kaliangkrik dan Bandongan.
"Bila jembatan ini sudah selesai dibangun, maka akan mempemudah akses dua wilayah tersebut," katanya.
Selama ini, masyarakat yang hendak beraktifitas ke Bandongan, harus menyebrang sungai atau jalan memutar yang memakan waktu sekitar 20 menit bila berkendaraan atau satu jam bila berjalan kaki.
"Di sini banyak ibu-ibu 'sepuh' yang kalau akan pengajian di mbah Kyai di Kali Duren Bandongan, harus berjalan kaki 'nyebrang sungai. Kalau memutar terlalu jauh," katanya.
Menurut Kades, dulu pernah dibangun jembatan bambu dengan bentangan hanya 12 meter. Namun sejak 1990, jembatan itu sudah tidak ada, sehingga warga sering kesulitan dalam mengakses jalan.
0 Komentar