Imbas Lebaran di Sektor Pariwisata

Dilihat 87 kali
Sanggar Tari Sekarwangi Muntilan Kabupaten Magelang meyemarakkan lebaran di Taman Wisata Candi Borobudur (25/3/2026) dengan mementaskan koreografi tari bertajuk Relief Bergerak.

Hari Raya Idulfitri 1447 H memberikan berkah bagi semua pihak, termasuk di dalamnya sektor pariwisata. Banyak destinasi pariwisata di beberapa daerah dipadati pengunjung. Di Jawa Tengah libur panjang lebaran 2026 membawa dampak positif bagi sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan tercatat meningkat 5,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kumulatif total kunjungan hingga 25 Maret 2026 mencapai 687.470 wisatawan. Angka ini naik 5,25 persen dibandingkan tahun lalu (https://detikzone.id).


Fenomena tersebut menunjukkan momentum lebaran dapat menjadi daya hidup bagi industri pariwisata. Libur lebaran adalah penggerak utama pariwisata Indonesia, dengan arus jutaan pemudik yang pulang menuju kampung halaman ternyata mampu menggerakkan roda ekonomi daerah melalui kunjungan ke destinasi wisata dan penggunaan jasa lokal.


Lonjakan wisatawan Nusantara selama lebaran meningkatkan okupansi hotel, kuliner, serta UMKM setempat, menjadikan periode ini krusial untuk pemulihan ekonomi. Mereka yang mudik kampung halaman, selain silurahmi dengan handaitaulan, juga meluangkan waktu untuk berwisata dengan destinasi di sekitar lokasi tempat tinggalnya juga ada yang mengunjungi daerah lain. Momentum lebaran ini secara faktual jelas membantu sirkulasi uang di daerah yang dikunjungi oleh pemudik.

 

Motivasi Berwisata


Kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke suatu destinasi wisata dipengaruhi oleh motivasi untuk melakukan perjalanan wisata. Motivasi merupakan alasan yang memengaruhi seseorang secara pribadi untuk melakukan sesuatu hal, bahkan lebih lanjut disampaikan, tanpa adanya motivasi wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata, maka tidak akan ada industri perjalanan.


Motivasi untuk melakukan perjalanan wisata tersebut terdiri dari motivasi yang muncul dari dirinya sendiri atau dorongan motivasi. Lebih lanjut dikatakan bahwa pengetahuan akan perilaku dan motivasi wisatawan memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan strategi pemasaran suatu destinasi wisata.


Pada prinsipnya, motivasi wisatawan ketika melakukan perjalanan ke destinasi wisata dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya, pertama, motivasi fisik. Aspek motivasi ini berkorelasi dengan kebutuhan fisik, seperti olahraga, refreshing, istirahat dan lain-lain. Aspek ini terkait juga dengan orientasi untuk menjaga stamina sosok visual seseorang agar tetap bugar.


Kedua, motivasi budaya. Aspek ini lebih menekankan pada motivasi yang berhubungan dengan keingintahuan untuk mengetahui lebih intensif terkait dengan daerah lain, baik itu adat istiadat, struktur bangunan, tata cara hidup, tari, musik, dan lainnya. Motivasi wisatawan berkunjung ke objek wisata budaya adalah adanya rasa ingin tahu dan penasaran serta sekaligus juga untuk menemukan nilai etika dan estetika dari tempat dan budaya lain yang berbeda dengan seorang atau komunitas wisatawan tersebut.


Ketiga, motivasi interpersonal. Motivasi ini merupakan dorongan wisatawan berkunjung untuk berinteraksi sosial, mempererat hubungan, atau melepaskan diri dari rutinitas sosial. Faktor ini mencakup bertemu orang baru, mengunjungi teman atau keluarga, reuni, hingga mencari suasana baru guna penyegaran mental dari kejenuhan lingkungan sehari-hari. Motivasi ini sering menjadi  faktor kuat pendorong utama yang juga seringkali didukung oleh fasilitas tempat wisata yang menunjang aktivitas.


Keempat, motivasi status dan prestise. Motivasi ini berkorelasi dengan keinginan untuk meningkatkan gengsi dan derajat hidup di mata orang lain dengan melakukan suatu perjalanan yang tidak semua orang dapat melakukannya. Secara umum, motivasi ini berfokus pada kepuasan psikologis dan posisi sosial yang dirasakan wisatawan setelah mengunjungi destinasi tertentu (Mangatas Siringoringo, 2017).


Liburan lebaran dapat diklasifikasikan sebagai motivasi interpersonal. Keinginan untuk berkunjung ke kampung halaman dapat merajut ikatan silaturahmi. Mereka sembari silaturahmi, juga berkunjung ke destinasi wisata di lokasi sekitarnya. Di sini memori kolektif dapat terbangun dari mengunjungi destinasi wisata tersebut. Ada pengunjung asli Kabupaten Magelang  yang tinggal lama di Jakarta, ketika berkunjung ke Candi Borobudur, memorinya terbangun ketika waktu mudanya pernah pentas Sendratari Kunjarakarna di kawasan Candi Borobudur.


Momentum Lebaran


Momentum lebaran seharusnya tidak hanya dimanfaatkan sebagai ajang peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas layanan dan daya tarik destinasi. Dengan pengelolaan profesional, lonjakan wisatawan saat lebaran dapat memberikan kontribusi nyata dan dampak ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan bagi daerah. Di samping itu secara keseluruhan, lebaran menjadi salah satu pemantik utama mobilitas sektor pariwisata lokal. Meski menghadirkan tantangan, peluang yang tercipta dari tingginya minat wisatawan menjadi potensi besar yang perlu dikelola secara berkelanjutan.


Kualitas pelayanan merupakan faktor krusial yang menentukan kepuasan wisatawan dan keberlanjutan sebuah destinasi wisata. Pelayanan yang prima tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar pengunjung, tetapi juga memberikan pengalaman emosional yang membuat mereka ingin kembali. Kualitas pelayanan tersebut berkorelasi langsung dengan kepuasan wisatawan dan citra destinasi. Kualitas layanan yang konsisten akanj memperkuat identitas dan daya saing destinasi wisata di pasar global.  


Untuk itu objek wisata perlu dikelola dengan manajemen profesional mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Tindakan konkret bisa dilihat dari kemasan objek wisata yang menarik, bersih, nyaman dikunjungi, mudah dijangkau, dan memberikan kesan tersendiri. Di tengah gegap gempitanya era digital, promosi online perlu lebih digencarkan kembali karena daya jangkau dan sebarannya cukup masif.  


Promosi dengan kemasan menarik akan membuat wisatawan penasaran dan tertarik untuk segera berkunjung ke destinasi wisata yang diinginkan.Sebagai salah satu industri jasa, sikap dan kemampuan pekerja pariwisata akan berdampak terhadap pelayanan pariwisata yang diberikan kepada wisatawan baik terhadap kenyamanan, kepuasaan, dan kegiatan wisata yang dilakukannya.


Kembali di sini ditegaskan momentum lebaran yang memiliki dampak ganda ke berbagai sektor ini dapat manjadi pemantik semua pihak untuk lebih termotivasi bahwa di balik nilai spiritualnya momentum lebaran sebagai peristiwa kulural ini dapat memberikan berkah yang layak untuk disyukuri.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Pariwisata Wiyasa Magelang 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar