Inovasi Inspiratif Wayang Relief

Dilihat 65 kali
Wayang relief karya kreatif Wito Prasetyo, warga Desa Candirejo Borobudur Kabupaten Magelang, penerima Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan tahun 2025.

Dalam jagat seni pertunjukan, wayang bukan suatu hal yang baru bagi masyakarat. Wayang bagi publik sudah menjadi bagian dari kehidupan. Banyak super market, nama-nama jalan, atau tempat-tempat publik sudah menggunakan nama wayang. Dalam perjalanan waktu hingga saat ini, wayang  sebagai sebuah produk budaya selalu melekat di hati masyarakat.

Eksistensi seni pertunjukan wayang, baik itu wayang golek, wayang topeng, wayang kulit, wayang orang, dan beberapa jenis wayang lainnya, sampai saat ini masih tetap eksis dengan segala dinamikanya. Tidak bisa dipungkiri, wayang di samping sebagai tontonan, di dalamnya  juga mengandung nilai keteladanan tuntunan hidup dalam kehidupan komunitas (Kanti Waluyo, 2000).

Tidak tanggung-tanggung, lembaga kebudayaan PBB (UNESCO), secara resmi menetapkan eksistensi wayang di Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Mahakarya Warisan Lisan dan Takbenda Kemanusiaan) pada tanggal 7 November 2003. Wayang diakui sebagai seni pertunjukan bayangan boneka yang unik dengan nilai filosofis dan seni bertutur yang tinggi.

Dari berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia, kiranya perlu ada ide inovasi untuk menciptakan wayang dikorelasikan dengan situs budaya yang juga dapat menjadi pemantik daya tarik pariwisata. Dengan adanya tantangan bagi para seniman untuk menciptakan karya inovasi tersebut, tentunya akan semakin memperkaya khazanah wayang yang dinamikanya senantiasa dinamis.  

 

Wayang Relief

Tantangan untuk merealisasikan karya inovasi agar wayang terus berkembang telah ditangkap oleh Wito Prasetyo, warga Dusun Sangen, Desa Candirejo, Borobudur, Kabupaten Magelang. Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia, apabila ditelisik sampai kedalamannya, tentu memiliki pesan-pesan kebajikan di balik kemegahan spektakulernya. Pesan-pesan tersebut, kiranya perlu didesiminasikan melalui berbagai media yang representatif sehingga publik memahami secara lebih akuratif.

Mengacu dari pemahaman tersebut, Wito Prasetyo berusaha melakukan proses kreatif dengan menciptakan wayang relief. Wayang ini lahir dari ide kreatif asli Wito Prasetyo yang juga sebagai aktivis pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Gagasan ini terinspirasi dengan eksistensi wayang yang ada di Indonesia, dan selama ini terus berkembang dengan dinamis.

Selain itu, Wito juga memiliki obsesi untuk menyampaikan pesan hidup dan kehidupan yang tercantum pada relief Candi Borobudur melalui media yang sudah memasyarakat, yaitu wayang. Sumber cerita yang diambil dari relief, maka wayang ini dinamakan wayang relief. Berkat ketekunannya, pada 2025, dari kegiatannya ia mengikuti seleksi dan lolos untuk mendapatkan dana hibah dari Dana Indonesiana.

Dana Indonesiana merupakan program pendanaan pemerintah Indonesia yang bersumber dari Dana Abadi Kebudayaan. Program ini bertujuan mendukung pemajuan kebudayaan nasional, termasuk pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan budaya di seluruh pelosok tanah air. Dana ini dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sedangkan penerima manfaatnya yaitu individu, komunitas, maupun lembaga budaya.

Karya wayang relief yang diciptakan pada 2026 juga telah didaftarkan ke Direktur Jenderal Kekayaan Inteletual Kementerian Hukum dengan jenis ciptaan seni terapan dan judul ciptaan wayang relief. Adapun Surat Pencatatan Ciptaan tersebut terbit pada 29 April 2026 dengan Nomor Pencatatan 001214411 (Wawancara, 9/5/2026).

Apabila ditelisik lebih jauh, wayang relief ini memang berbeda dengan wayang kulit purwa. Sumber ceritanya diambil dari relief Candi Borobudur. Sebagai sebuah Mahakarya, Candi Borobudur memiliki 2.672 panel relief baik yang berupa panel naratif maupun dekoratif. Untuk panel berbentuk naratif sejumlah 1.460, selebihnya berupa panel relief dekoratif atau hiasan.  Seperti dalam relief Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka Avadana, Gandawyuha, dan Badracari. Relief-relief tersebut dapat dibaca dengan cara pradaksina (berjalan searah jarum jam), dimulai dari sisi timur.

Untuk sementara ini, wayang relief yang diciptakan masih terbatas cerita Sasa Jataka. Cerita tersebut berada di lantai 1, timur luar-atas, pada panel 23-25. Mengisahkan Bodhisattwa lahir kembali sebagai seekor kelinci. Hewan kelinci dan tiga sahabatnya, yaitu berang-berang, kera, dan serigala bertekad memberi derma kepada pertapa. Pesan moral yang ingin disampaikan dari cerita tersebut yaitu kesungguhan hati untuk memberikan yang terbaik. Untuk cerita-cerita variatif lainnya yang bersumber dari relief juga sudah dipersiapkan.

Adapun bentuk wayangnya mengacu pada relief Candi Borobudur dan candi-candi di Nusantara. Wujud visual tetap berpedoman pada aturan normatif dua dimensi, termasuk tatah sunggingnya yakni memahat dan mewarnai disesuaikan dengan karakter pada tokoh-tokohnya. Motif tatah sunggingnya lebih sederhana apabila dikomparasikan dengan wayang kulit purwa. Bahan wayangnya fleksibel, bisa dari kulit atau kertas karton tebal.  

Musik sebagai pengiring wayang menggunakan gamelan dengan niyaga (penabuh gamelan) sebagai pemain musiknya. Namun, dalam teknis permainannya lebih cenderung menerapkan harmoni bernuansa spiritual, selaras dengan ajaran-ajaran kebajikan yang terkandung dalam cerita Buddha. Peran dalang sebagai narator, juga sangat sentral. Sebagai komunikator jalannya cerita, dalang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai komunikasi dengan maksud pesan cerita mudah tersampaikan. Dalangnya diampu oleh Wito Prasetyo sendiri. Niyaga diambil dari komunitas Borobudur dan sekitarnya.

Di samping itu, dengan menggunakan pengantar komunikasi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, mununjukkan wayang relief berskala nasional milik bangsa Indonesia. Tata teknik pementasan tetap menggunakan layar putih atau kelir sebagai latar belakang.

Selain itu, teknik simpingan atau pengaturan wayang ditata sedemikian rupa mulai dari wayang yang ukuran tinggi sampai rendah baik kanan maupun kiri. Sedangkan di tengah dipasang kayon atau gunungan. Penataan simpingan seperti itu, sekilas menyerupai bangungan Candi Borobudur dengan struktur punden berundak. Durasi pementasan, layakya pakeliran padat atau ringkas dikemas maksimal satu sampai dua jam tergantung dengan cerita atau maksud dari pementasan.

 

Kreativitas Tiada Henti

Pada dasarnya seniman apabila menginginkan hasil karyanya dikenal publik, memang dibutuhkan kreativitas total. Kreativitas dapat disarikan sebagai kemampuan mendasar bagi seniman untuk menghasilkan ide, konsep, atau karya baru, orisinal, dan bernilai estetika tinggi melalui penggunaan imajinasi.

Kreativitas bisa dikatakan jantung dari seni yang mengubah pengulangan menjadi karya yang unik, mencerminkan identitas budaya, serta mengintegrasikan kecerdasan emosional dan intelektual. Adapun untuk merealisasikan kreativitas dalam karya nyata tesebut dibutuhkan proses kreatif yang terus bergulir dari waktu ke waktu.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Wito Prasetyo dalam ilustrasi tulisan ini, bahwa ketekunan dan pencarian terus menerus akan membuahkan hasil. Kerja budaya dapat terwujud dari kreativitas yang dilakukan tiada henti dan juga tanpa mengenal putus asa. Kerja nyata seniman  ternyata dapat menjadi pemantik bahwa seniman juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Secara tidak langsung karya wayang relief ciptaan Wito di samping dapat sebagai media pembelajaran bersama yang menginspirasi, juga ikut berkontribusi mempromosikan sektor pariwisata lewat media seni budaya.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang. 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

ASN diimbau menyisihkan sebagian penghasilan dari tunjangan untuk berbelanja di warung tetangga (Blonjo Warung Tonggo). Gebrakan ini menjadi salah satu inovasi Pemerintah Kabupaten Magelang untuk menggeliatkan ekonomi masyarakat. Gimana menurut kamu? #anyargress #blonjowarungtonggo #saptacipta #makmurrakyate

♬ original sound - kominfomagelang