Kepedulian Melestarikan Dongeng

Dilihat 2051 kali
Cerita-cerita lokal dapat menjadi acuan dalam menggali dongeng untuk bahan belajar atau literasi masyarakat - Sumber Ehipassiko Foundation, 2021

Sebagaimana diketahui, mendongeng merupakan salah satu bentuk tradisi lisan sebagai sarana komunikasi dan merekam peristiwa-peristiwa kehidupan, sudah ada berabad-abad yang lalu. Tradisi lisan ini terus berkembang dan pernah menjadi primadona bagi ibu atau nenek dalam mengantar tidur anak atau cucu mereka.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan faktor kesibukan yang semakin meningkat, tradisi mendongeng banyak ditinggalkan.


Televisi, film, dan gadget lebih menarik perhatian dibanding mendongeng. Seorang ibu yang biasanya mendongeng saat anaknya menjelang tidur seringkali tidak mengetahui bahwa anaknya sudah berangkat tidur karena asyik dengan acara televisi atau gawainya.


Gema teknologi yang menggulung bagaikan air bah membuat gaung budaya mendongeng tergerus zaman. Dongeng yang sejak awal menjadi pengantar tidur anak-anak, kini serasa termarjinalkan. Sejatinya apabila ditelisik lebih mendalam, di dalam dongeng tersebut memiliki kandungan filosofis nilai humaniora yang sangat tinggi nilainya. Namun, sekarang sepertinya tinggal kenangan.

 

Sarana Komunikasi


Mendongeng merupakan salah satu bentuk tradisi lisan atau oral sebagai sarana komunikasi yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan nilai kebajikan. Di samping itu dongeng juga sebagai bentuk cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. (Rukiyah, 2018).


Dongeng tidak hanya berkisah tentang manusia, namun bisa mengisahkan binatang, tanaman,dan sebagainya. Dongeng dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok. Salah satunya penggolongan jenis dongeng terbagi ke dalam empat golongan besar, yaitu: 1) dongeng binatang (animal tales), 2) dongeng biasa (ordinary folktales), 3) lelucon dan anekdot (jokes and anecdotes), dan 4) dongeng berumus (formula tales).


Dongeng binatang adalah kisah tentang kehidupan binatang yang digambarkan dan dapat berbicara seperti manusia. Di Indonesia dongeng binatang yang paling populer adalah Sang Kancil. Tokoh sentral Kancil (pelanduk) digambarkan sebagai binatang cerdik selalu dapat mengalahkan musuh yang lebih kuat dari dirinya, seperti harimau, ular, buaya, dan gajah. Namun kancil kalah oleh siput, bintang yang ukuran badannya kecil dan jalannya lamban.


Dongeng biasa adalah dongeng yang ditokohi oleh manusia dan biasanya bercerita tentang kisah suka duka seseorang. Seperti kisah Sangkuriang, Andhe-Andhe Lumut, Jaka Tarub, di dalam cerita tersebut menarasikan dinamika kehidupan manusia selama hidup di dunia. Lelucon dan anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat menggelikan hati sehingga membuat orang yang mendengarkan dan menceritakan tertawa.


Perbedaan lelucon dengan anekdot adalah anekdot menyangkut kisah fiktif lucu pribadi seorang tokoh atau beberapa tokoh yang benar-benar ada, sedangkan lelucon merupakan kisah fiktif lucu anggota suatu kolektif, seperti suku bangsa, golongan.


Dongeng berumus adalah dongeng-dongeng strukturnya terdiri dari pengulangan berantai satu sama lain, seperti kisah seribu satu malam. Dalam dongeng berumus ini, dibentuk dengan menambah keterangan lebih terperinci pada setiap pengulangan inti cerita. Harapannya pendengar dongeng akan mencari tahu kelanjutan dari kisah tersebut sampai kedalamannya.

 

Tujuan Mendongeng


Mendongeng merupakan warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan karena banyak manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan tersebut. Dengan mendongeng seseorang bisa menyajikan fakta-fakta secara sederhana. 


Ketika seorang pendongeng bercerita tentang sekuntum bunga mawar atau seekor ikan emas secara tidak sadar dia sedang mengajarkan ilmu pengetahuan alam kepada anak-anak secara sederhana dan menarik. Kegiatan mendongeng sebenarnya mempunyai tujuan yang sangat elementer.


Pertama, merajut kontak emosional. Dengan media bertutur, kontak emosional antara orang tua dengan anak-anaknya akan terbangun sehingga pesan lewat dongeng akan dapat membangun kontak emosional tersebut.


Kedua, mengasah imajinasi. Ketika dongeng disampaikan orang tua atau guru  di depan kelas. Sebenarnya anak-anak atau peserta didik tidak sebatas mendengarkan saja, tetapi sebenarnya alam pikiran mereka mengembara ke dunia imajinasi yang sangat bermanfaat demi memperkaya ide-ide inovasinya.  


Ketiga, membantu proses identifikasi diri. Melalui cerita, anak-anak akan mudah memahami sifat baik-buruk, sehingga diharapkan mereka akan meneladani karakter-karakter positif pada cerita yang disampaikan orang tua atau guru di kelas.


Menelisik dari manfaat dongeng sebagai sumber nilai kehidupan generasi milenial ini kiranya budaya dongeng perlu digaungkan kembali. Upaya itu sebagai bentuk merawat peradaban lewat nilai kebaikan yang diwariskan secara geneologis agar ke depannya tidak kehilangan jejak rekam historis.


Untuk itu komitmen semua pihak sangat dibutuhkan agar budaya dongeng ini tidak tergerus zaman. Langkah praksisnya, setiap tahun perlu diadakan lomba dongeng di jenjang sekolah mulai jenjang pendidikan dasar sampai menengah. Ekspetasinya lomba tersebut hanya sebagai pemantik, namun yang dibutuhkan adalah kontinuitas proses belajar dongeng tersebut yang menjadi paramaternya.


Perlu juga disadari untuk lomba atau kompetisi dongeng tersebut, tidak harus difasilitasi pemerintah. Pihak swasta atau perusahaan, bahkan komunitas dongeng juga sastra bisa berkontribusi agar budaya dongeng tetap survive. Bisa dengan ajang festival, pelatihan, atau memberi ruang publik agar generasi milenial baik dari sekolah atau masyarakat ini bisa bertumbuh kembang antusiasmenya.


Dengan komitmen kepedulian praksis untuk menghidupkan dongeng, sudah merupakan kontribusi besar dalam menstimulasi budaya Nusantara. Memang seharusnya disadari, bahwa dongeng merupakan penjaga kisah peradaban masa lalu sekaligus investasi masa depan generasi milenial ini agar lekat dengan nilai kebaikan yang bersumber dari budayanya sendiri.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar