Kewibawaan Guru

Dilihat 2341 kali
Kewibawaan guru tercermin dari kapabilitasnya untuk selalu terus belajar menerima masukan dari semua pihak termasuk pendampingan personalnya kepada peserta didik.

Jika diamati dengan jeli dinamika kinerja para guru baik tingkat dasar, menengah, maupun perguruan tinggi bagaikan tombak bermata dua. Satu mata harus memiliki ketajaman dalam penguasaan materi dan hakekat ilmu yang akan diajarkan. Sedangkan satu mata tajam lainnya harus memiliki kemampuan/keterampilan dalam meramu materi sehingga peserta didik dapat belajar dengan bermakna, serta memberikan kegunaan yang dapat dirasakan dari proses pembelajaran yang diikutinya.


Bisa dibayangkan bagaimana mungkin tombak tersebut mencapai sasarannya, jika salah satu ujung tombaknya tumpul atau bahkan keduanya. Oleh karena itu, guru tidak hanya diharapkan mampu menguasai materi yang akan diajarkan, tetapi juga mampu dan terampil dalam mengondisikan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan penuh kewibawaan.


Pada dasarnya kewibawaan itu menjadi hal penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang berarti perlu berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Bagi guru untuk mendapatkan kewibawaan itu kiranya guru senantiasa instrospeksi diri, yakni senantiasa melakukan yang terbaik dalam mengajar dengan disertai kompetensi keilmuan yang memadai. Dengan demikian guru akan mendapatkan simpati dari peserta didiknya yang tumbuh secara tulus tanpa keterpaksaan. Hal ini tentunya akan memperlancar proses pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung guna mencapai tujuan yang diharapkan (Thoifuri, 2008).


Siap Menerima Masukan


Adapun kewibawaan guru ketika mengajar di depan kelas dapat ditempuh dengan jalan cara bersikap, memperkuat ranah kognisi, dan memperkuat keterampilan. Dengan kewibawaan bersikap guru hendaknya dapat menerima masukan dan gagasan orang lain termasuk peserta didiknya yang dapat memberi manfaat bagi dirinya. Dengan mengedepankan kewibawaan dalam bersikap tersebut guru hendaknya mampu menanamkan sikap kepada peserta didiknya secara utuh, tidak sepotong-potong agar mereka mempunyai sikap saling menghargai antar teman termasuk gurunya.


Kewibawaan kognisi merupakan representasi dari kecerdasan intelektual untuk memiliki pengetahuan. Untuk itu guru dalam memperkuat kewibawaan kognisi ini perlu intensitas dalam penguasaan materi ajar dengan menggunakan kemampuan otak yang maksimal. Baik itu dalam tingkatan pemahaman, aplikasi, analisis (penjabaran materi), sintesis (penyatuan menjadi bagian yang utuh), dan evalusai (penilaian hasil belajar).


Sedangkan kewibawaan keterampilan merupakan ikon guru dalam mengaplikasikan teori dalam tataran praksis. Untuk itu guru akan berwibawa dalam kelas apabila ia terampil menerapkan sesuatu yang sesuai dan relevan dengan materi pelajaran kepada peserta didiknya.


Kewibawaan keterampilan guru ini dapat ditempuh dengan cara, pertama, langkah persepsi, yaitu kesanggupan guru dalam memandang materi pelajaran dengan cara membuka peluang peserta didik untuk berpikir dan berbuat sesuai dengan bahan ajar yang akan dipelajari. Dalam hal ini guru dapat menyuruh peserta didiknya untuk menggunakan keterampilan indranya, seperti tangan terampil memainkan musik atau menari, kaki terampil memainkan bola, mata terampil membaca, telinga terampil mendengarkan mata pelajaran yang disampaikan guru, dan lain-lain.


Kedua, langkah kesiapan, yakni guru mempersiapkan diri akan materi pelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran agar peserta didik menjadi terampil. Kesiapan ini beraksentuasi pada kesiapan mental, fisik, atau emosional. Apabila guru mampu melakukan kesiapan tersebut, maka guru akan mudah menjadikan peserta didik terampil dalam melakukan kegiatan apapun karena guru sudah memberi contoh yang tidak hanya berkomentar.


Ketiga, langkah adaptasi, yaitu guru dalam mengajar di kelas perlu menggunakan pendekatan individual kepada peserta didik. Peserta didik diberi kesempatan untuk berkembang sendiri dengan cara memodifikasi pola pikir dan pola tindak sesuai dengan kebutuhannya.


Keempat, langkah originasi, yaitu guru berusaha untuk menjadikan peserta didik terampil dalam menciptakan suatu karya dengan sendirinya, tanpa bimbingan guru secara langsung. Seperti halnya ketrampilan peserta didik merakit komputer, membuat pola pakaian, merancang desain rumah yang nyaman, dan sebagainya. Langkah ini perlu diciptakan agar guru semakin berwibawa dalam melatih kemandirian peserta didik di samping mengurangi budaya ketergantungan pada orang lain.


Keteladanan


Dengan demikian bisa ditarik suatu tautan benang merah, bahwa yang lebih penting untuk bisa menjadikan guru berwibawa terletak pada keteladanan dan komitmen yang kuat dalam memperjuangkan setiap nilai yang diajarkan. Apalagi bagi peserta didik, wibawa bukan terletak pada baju safari, sosok visual yang dibuat-buat agar peserta didik takut, dan berbagai sikap yang kurang proporsional lainnya. Bukan zamannya lagi main intimidasi dan menakut-nakuti demi menikmati kewibawaan struktural yang membudaya bertahun-tahun. Para peserta didik akan belajar memaknai kewibawaan guru dari sikap teladan dari keseharian yang dilihatnya.


Keteladanan ini bisa ditunjukkan guru dengan menyadari kesenjangan yang ada pada dirinya maupun apa yang diinginkan. Kemudian juga perlu menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan tersebut perlu diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.


Kejujuran guru dalam bergulat dengan nilai kebaikan sangat berguna bagi peserta didik untuk dapat mengerti, ternyata gurunya juga masih berjuang dalam hal nilai. Maka guru diharapkan berani sharing tentang penghayatan mereka sendiri akan suatu nilai secara terbuka kepada peserta didik.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Alumnus Magister Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar