Kolaborasi Seni - Industri Pariwisata

Dilihat 765 kali
Produk kemasan seni wisata hendaknya disesuaikan dengan destinasi wisata, agar wisatawan mendapatkan kesan mendalam selama melakukan perjalanannya.

Awal Februari 2023, tepatnya di Yogyakarta, telah berlangsung perhelatan besar Asean Forum Tourism (AFT) sebagai ajang pertemuan pejabat setingkat menteri pariwisata dan pelaku bisnis usaha pariwisata sebagai upaya kolaborasi regional dalam memromosikan ASEAN sebagai salah satu destinasi wisata dengan menonjolkan keramahan dan keberagaman kultur Asia.


Tema yang diambil dalam forum tersebut adalah A Journey to Wonderful Destinations (perjalanan ke destinasi yang menakjubkan), kiranya dapat menjadi pemantik untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dengan mengupayakan destinasi wisata agar menjadi tempat yang nyaman dan menarik minat wisatawan untuk berkunjung.


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata danEkonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menegaskan, bahwa momentum AFT tersebut dapat direalisasikan dengan melakukan beberapa strategi, di antaranya adalah melakukan gerak cepat yaitu pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan harus dapat memberikan program-program pendampingan yang relevan untuk membantu mendorong kebangkitan sektor pariwisata (https://www.gatra.com).


Dengan demikian, gerak cepat tersebut perlu dilakukan dengan aksi nyata dan sinergis oleh semua pihak agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Beberapa destinasi wisata perlu dikemas semenarik mungkin, agar wisatawan dapat kesan positif selama melakukan perjalanannya. Salah satunya adalah kemasan seni di destinasi wisata yang dapat menjadi tolok ukur kenyamanan dan ketertarikan wisatawan.


Ciri Spesifik


Wisatawan yang berkunjung ke desinasi wisata pada umumnya ingin mendapatkan kesan semenarik mungkin selama melakukan perjalanan wisata. Untuk itu para pelaku pariwisata di destinasi tersebut kiranya perlu peka menyikapi dengan positif. Sebagai misal, dalam hal cenderamata, pelaku pariwisata perlu mencermati berbagai aspek cenderamata, semisal seni kriya yang mencerminkan ciri spesifik dari destinasi tersebut.


Apabila wisatawan ingin berkunjung ke beberapa destinasi wisata, semisal Candi Pawon, para pelaku pariwisata harus tanggap menyediakan cenderamata yang ada korelasinya dengan Candi Pawon, seperti kerajinan relief atau lukisan yang betul-betul bersinggungan dengan obyek destinasi yang dikunjungi. Jangan malahan menawarkan barang cenderamata dengan obyek lain.


Untuk itu dibutuhkan kreativitas dalam mengemas berbagai cenderamata tersebut semenarik mungkin. Banyak yang dapat diungkap di Candi Pawon, seperti relief Dewa Kuwera sebagai dewa kekayaan di pintu masuk utama. Di samping itu, pada dinding sebelah utara dan selatan terdapat relief Kinara-Kinari (makhluk berkepala manusia dan berbadan burung). Apabila itu dibuat cenderamata dan pelaku wisata dapat menerjemahkan narasinya kepada wisatawan secara runtut dan komprehensif akan dapat menjadi ikon pariwisata menarik.


Sedangkan dalam aspek seni pertunjukan, banyak yang dapat digarap menjadi seni kemasan pariwisata. Seni pertunjukan rakyat, dapat dikemas secara ringkas, padat, komunikatif, dan tidak meninggalkan kadar orisinalitasnya sebagai seni pertunjukan rakyat. Konsekuensinya, memang membutuhkan tangan-tangan kreatif untuk menggarap sajian yang dapat dikemas menjadi sajian pariwisata. Tidak mungkin, wisatawan akan menyaksikan wayang orang, wayang kulit, ketoprak, atau jenis kesenian rakyat lainnya semalam suntuk. Waktu mereka terbatas, apalagi wisatawan mancanegara. Mereka membutuhkan melihat berbagai ragam atraksi di destinasi wisata, dengan waktu yang pendek dan harga terjangkau.


Prospek Seni Wisata


Dari berbagai pendapat para ahli, banyak menengarai bahwa industri pariwisata akan berdampak pada revitalisasi seni tradisional yang berkembang di komunitas. Untuk itu kiranya perlu terdapat kesamaan pandang yang nantinya mengerucut pada kemajuan seni tradisional dan dampaknya bagi peningkatan ekonomi senimannya.


Pada prinsipnya dari perspektif pariwisata, mengharapkan segala sesuatu yang memiliki potensi dalam aspek seni budaya memiliki nilai jual tinggi. Sedangkan dalam aspek seni budaya, dapat ditengari memiliki asumsi, bahwa prioritas utamanya adalah nilai pelestarian atau revitalisasi agar seni budaya tersebut tetap hidup.


Dari dua domain yang kadang saling paradoksal tersebut, kiranya semua pihak perlu memahami dengan jeli agar terbangun kolaborasi paralel sinergis, sehingga tercipta pola kerja mutual yang saling mengisi satu sama lain. Adapun konsep yang dapat dipakai sebagai pendukung dapat meminjam dari teori Nelson HH Graburn dalam buku Etnic and Tourism Arts (1976) yang menegaskan bahwa produk seni berdasarkan jenis penikmatnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu pertama, seni komunitas internal. Pada prinsipnya jenis seni komunitas internal memang dibuat untuk dinikmati komunitas pendukungnya. Norma dan pola seninya kecenderungan sudah berlangsung turun temurun. Pada umumnya di dalamnya masih nampak unsur-unsur ritualnya.


Kedua, seni akulturasi. Jenis seni akulturasi tersebut lebih menekankan pada seni yang memang dibuat untuk orang lain seperti pendatang atau wisatawan. Dengan demikian seni wisata termasuk dalam kategori kedua. Oleh karena itu, seni wisata harus dapat menyesuaikan diri dengan selera wisatawan.


Di sini diperlukan tangan-tangan dan pemikir kreatif untuk mengemas seni wisata agar dapat dinikmati oleh wisatawan dari berbagai bangsa. Sebagai contoh, seni pertunjukan kuda kepang yang umumnya disajikan panjang, bisa dikemas dengan sajian pendek, padat, dan penataan koreografi yang menarik. Di samping itu diperlukan narasi dalam bentuk komprehensif direlevansikan dengan setting obyek destinasi wisata. Apabila pentas di Borobudur, perlu dibuatkan koroegrafi tari Kuda Kepang yang menarasikan pasukan dari Kerajaan Syailendra yang akan berangkat membangun Candi Borobudur. Tentunya kostum diselaraskan dengan latar belakang cerita, sehingga wisatawan mendapatkan penyajian seni yang memang erat korelasinya dengan destinasi wisata yang dikunjungi.


Apabila semua pihak dapat memaknai seni wisata sampai kedalamannya yang diperkuat dengan proses kreatif dari pelaku seni dan pariwisata, dapat diyakini sektor pariwisata diprediksikan akan segera bangkit, sebagaimana harapan dari AFT, bahwa dengan gerakan bersama akan mempercepat pemulihan pariwisata menuju pariwisata prospektif yang penuh harapan.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar