Pada awal April ini, semua umat Katolik atau Kristiani di seluruh penjuru dunia merayakan hari raya Paskah. Hari raya ini diimplementaikan setelah manjalani masa Prapaskah. Dalam tradisi Katolik, masa Prapaskah merupakan periode 40 hari persiapan rohani (dimulai Rabu Abu hingga Kamis Putih) bagi umat Katolik untuk bertobat, berdoa, berpantang, berpuasa, dan bersedekah.
Masa ini meneladani 40 hari Yesus Kristus ketika berpuasa di padang gurun. Praktik ini sering disebut sebagai tiga pilar Prapaskah yang diimplementasikan dengan doa, puasa, dan sedekah. Tujuan utama menjalankan praktik keagamaan dalam masa Prapaskah (doa, puasa, dan sedekah) adalah untuk mempersiapkan hati umat dalam merayakan kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Paskah.
Masa 40 hari ini merupakan waktu refleksi, pertobatan, dan pembersihan diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus membantu umat bertumbuh dalam kasih karunia serta memperbaharui iman mereka dalam tataran praksis di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat.
Adapun tindakan nyata yang dilaksanakan dalam masa Prapaskah salah satunya adalah melakukan puasa. Puasa atau pantang sebagai tanda kerendahan hati dan sebagai wujud penghormatan kepada Yesus Kristus yang wafat di kayu salib dengan tujuan utama untuk pertobatan hati, menyucikan diri, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan Tuhan. Di samping itu praktik puasa bertujuan untuk melatih diri dalam pengendalian keinginan duniawi.
Masa Prapaskah juga dapat menjadi peluang untuk melakukan tindakan dengan mengedepankan nilai keutamaan dan tindakan amal atau berderma bagi mereka yang membutuhkan, seperti memberikan sumbangan, melakukan pelayanan, atau kegiatan sukarela yang dapat memberikan manfaat postif bagi orang lain.
Di samping itu, pada masa Prapaskah umat Katolik diajak melakukan laku spiritual atau tindakan eksaminasi diri. Eksaminasi ini dapat dimaknai sebagai praktik refleksi diri secara mendalam untuk meninjau kembali pikiran, perkataan, dan perbuatan, guna melihat sejauh mana umat manusia telah hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dengan kata lain, eksaminasi saat Prapaskah adalah momen berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan bertobat untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama sebelum merayakan hari raya Paskah.
Tuntunan Moral
Apabila ditelisik lebih mendalam, secara etimologis, Paskah berasal dari Bahasa Ibrani pesach yang berarti melewati atau melampaui. Dalam tradisi iman, makna ini pada awalnya merujuk pada bebasnya umat Israel dari perbudakan di Mesir, kemudian diperdalam melalui peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
Peristiwa tersebut merupakan bukti kebaikan dan pengampunan mengalahkan kejahatan dan kebencian. Dalam Paskah juga mengajarkan tuntunan moral tentang hakikat kemenangan diperoleh bukan melalui penaklukkan oleh pihak lain yang berseberangan, melainkan melalui pengorbanan yang diawali dari diri sendiri (Darwin Darmawan, 2026).
Pada dasarnya, Paskah merupakan pusat dan puncak seluruh tahun liturgi gereja di penjuru dunia. Seluruh umat manusia merayakan sejarah keselamatan Allah, berpuncak pada sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus yang menggambarkan pengorbanan Yesus Kristus dalam menebus dosa manusia.
Dalam tahun liturgi gereja dikenal Tri Hari Suci yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Vigili Paskah. Kamis Putih merupakan peristiwa untuk mengenang perjamuan terakhir Yesus Kristus dengan para muridnya yang disertai upacara pembasuhan sebagai simbol pelayanan dan kasih. Jumat Agung mengisahkan sengsara dan wafat. Momentum ini sebagai bagian dari Tri Hari Suci untuk merenungkan pengorbanan Yesus dalam menebus dosa manusia, serta dimaknai sebagai wujud kasih Allah yang terbesar.
Sedangkan dalam Vigili Paskah merupakan peristiwa untuk mengenang bangkitnya Yesus Kristus dari kematian yang merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Malam tersebut adalah puncak dari Tri Hari Suci Paskah, dimana umat berjaga menantikan kebangkitan dalam suasana terang lilin Paskah, simbol Yesus Kristus sebagai terang dunia yang mengalahkan kegelapan.
Di tengah tantangan global seperti krisis lingkungan, ketidakadilan sosial, hingga perang yang masih berkecamuk di berbagai belahan dunia, umat manusia membutuhkan semangat Paskah lebih dari sebelumnya. Semua orang membutuhkan keberanian untuk memperjuangkan perdamaian, komitmen untuk membangun keadilan, dan keteguhan hati untuk memelihara harapan, bahkan ketika semua tampak gelap.
Paskah juga mengajarkan umat tentang kekuatan pengampunan. Di dunia yang mudah terpecah karena perbedaan, nilai pengampunan adalah jembatan yang bisa menghubungkan kembali manusia satu sama lain. Dalam hubungan personal maupun dalam skala yang lebih luas, pengampunan membuka jalan bagi rekonsiliasi dan membebaskan dari dari rantai kebencian.
Merayakan Paskah mengandung pemahaman untuk berani menjadi daya hidup dalam kehidupan keseharian. Ini bukan hanya tentang perayaan ibadah, melainkan tentang upaya membawa pengharapan, cinta kasih, dan kedamaian dalam pola pikir juga pola tindakan baik itu di tempat tinggal, lingkungan kerja, maupun lingkungan sekitar.
Paskah mengingatkan semua umat manusia bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri masing-masing pribadi. Sama seperti kebangkitan Yesus Kristus yang membawa terang baru bagi dunia, setiap langkah kecil kita dalam menyebarkan kebaikan adalah bagian dari kebangkitan dunia yang lebih penuh kasih (Marcellinus Galih, 2025).
Adapun substansi untuk dapat memperingati makna Paskah adalah iman yang mengalir dan tumbuh dalam masing-masing pribadi secara personal. Paskah perlu dimaknai sebagai upaya untuk mempertajam iman semua umat manusia akan kebangkitan Yesus Kristus yang berani berkorban menebus dosa manuia. Di sini diperlukan iman dinamis, yang diharmonikan dengan tanda-tanda zaman sebagai kekuatan atau fondasi kuat untuk lebih memaknai hakikat Paskah sampai intensitasnya sehingga dapat diaktualisasikan dalam hidup sehari-hari.
Spirit Solidaritas
Merayakan Paskah pada saat ini kiranya lebih juga dimaknai menjadi penguatan spirit solidaritas. Memaknai Paskah dalam semangat solidaritas adalah refleksi atas kebangkitan Yesus Kristus yang membawa harapan baru, pengorbanan, dan kasih untuk sesama, bukan sekadar ritual tahunan.
Paskah sejatinya merupakan simbol solidaritas Allah bagi manusia, yang menggerakkan umat untuk peduli dan berbagi dengan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Terlebih dalam situasi dinamika global saat ini, seperti prahara perang di Timur Tengah yang berimbas pada situasi perekonomian dan kemanusian dunia, tentunya spirit solidaritas ini perlu lebih dikedepankan sebagai gerakan bersama melalui tindakan nyata yang berpihak pada keadilan di tengah masyarakat.
Memaknai Paskah dalam aksi nyata berarti mewujudkan semangat kebangkitan Yesus Kristus melalui kasih, pengorbanan, dan pembaruan hidup sehari-hari. Ini diwujudkan dengan berbagi kepada sesama, memaafkan, menjaga toleransi, dan merawat lingkungan hidup, yang membawa harapan baru di tengah masyarakat, terlebih bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan, kesulitan, dan kekerasan. Kebangkitan Kristus harus berdampak pada pemulihan kondisi sosial, menjadikan gereja sebagai agen perubahan yang membawa sukacita dan kesejahteraan bersama.
Selamat merayakan Paskah 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Pengurus Dewan Pastoral Paroki Gereja Santo Mikael Paroki Panca Arga, Mertoyudan, Kabupaten Magelang
0 Komentar