Mensinergikan Industri Pariwisata dengan Pendidikan

Dilihat 2735 kali
Sumber Daya Manusia sekolah pariwisata dituntut memiliki profesionalitas tinggi dalam mengantisipasi perkembangan pesat industri pariwisata

Sebagai salah satu industri jasa yang baru berkembang pasca Perang Dunia II, industri pariwisata dapat dikatakan usianya jauh lebih muda dibanding dengan idustri manufaktur yang muncul jauh sebelumnya. Akan tetapi sejak kelahirannya, industri pariwisata telah tumbuh dan berkembang secara progresif. Sampai akhir abad XX industri pariwisata sudah menjadi salah satu industri besar yang sangat signifikan terutama dalam penciptaan lapangan usaha baru.

Untuk itu tidaklah mengherankan kalau industri pariwisata telah menjadi preferensi di negara manapun untuk dielaborasikan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, termasuk Indonesia. Keinginan itu tentu saja tidak berlebihan, karena Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dilihat dari sudut pandang pengembangan kepariwisataan.

Dengan tersedianya potensi yang tersedia terutama sumber daya alamnya, sudah merupakan keharusan untuk diimbangi dengan potensi sumber daya manusia. Penekanan aspek sumber daya manusia ini perlu mendapat skala prioritas, karena sumber daya manusia merupakan faktor yang menentukan kelangsungan sistem usaha (Sedarmayanti, 2014).

Dalam industri  jasa, kita melihat bahwa manusia sangat berperan sebagai provider (pensuplai) jasa. Aspek potensi manusia bekerja langsung sebagai sarana produksi jasa. Keterampilan, kemampuan berkomunikasi, sensor perasaan, dan penampilan (appearance) banyak menentukan kepuasan pelanggan. Di samping itu tuntutan produktivitas, persaingan, dan perkembangan teknologi produksi yang semakin meningkat perlu didukung dengan preparasi sumber daya manusia yang berkualitas dan memadai.

 

Peran Pendidikan

Guna menunjang munculnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang diharapkan, maka peran pendidikan merupakan faktor dominan untuk meningkatkan mutu pelayanan pariwisata, di samping faktor infrastruktur lainnya. Dengan demikian lembaga-lembaga pendidikan mulai dari Sekolah Menengah sampai Pergururuan Tinggi diharapkan dapat menghasilkan SDM yang handal, profesional, dan memiliki kemampuan analisis. Jadi tidak hanya SDM yang siap pada industri perhotelan, industri travel agency atau industri pariwisata lainnya. 

Dengan pesatnya pertumbuhan industri pariwisata akan memunculkan juga kepedulian di kalangang komunitas luas. Salah satu kepedulian itu diantaranya adalah kekhawatiran akan terjadinya kelunturan-kelunturan nilai-nilai sosial, budaya, agama yang telah dijunjung tinggi para leluhur. Kekhawatiran itu lebih diperkuat dengan pengalaman pengembangan pariwisata di beberapa negara lain. Komunitas Polinesia dan Mikronesia di gugusan Kepulauan Pasifik, khususnya Hawai dianggap telah kehilangan identitasnya. Ikon industri pariwisata negara tersebut banyak menjadi headline media masa internasional, karena dianggap telah banyak menjual paket wisata maksiat.

Untuk mengembangkan industri pariwisata, kiranya perlu diupayakan dengan meminimalkan dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif. Saat ini memang dibutuhkan SDM profesional planner (perancang) yang di dalamnya termasuk perancang kebijakan. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah membuka kran seluas-luasnya bagi penyelenggara pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia pariwiata.

 

Berlandaskan Etika

Adapun indikator SDM profesional pariwisata adalah mereka yang mempunyai basic ilmu pariwisata secara formal. Selanjutnya juga harus mampu mengaplikasikan ilmunya dengan baik berlandaskan etika. Dalam industri pariwisata etika merupakan faktor yang sangat penting. Seperti halnya di negara-negaraa jiran baik itu Thailand, Malaysia ataupun Cina, pendidikan pariwisata benar-benar menjadi prioritas utama dalam pengembangan pendidikan nasional. Mereka merasa pariwisata itu penting untuk mendukung ekonomi dan investasi.

Untuk dapat memahami pariwisata secara intens memang diperlukan spesialisasi. Perlu ada sekolah-sekolah yang memfokuskan diri pada bidang pariwisata. Dalam konteks ini, memahami pariwisata bukan hanya kulitnya saja, namun harus sampai ke esensinya. Misalnya, ketika belajar untuk memasak sup, tentunya jangan hanya rasanya saja, tapi bagaimana cara menyajikannya supaya menarik, bagaimana mengupayakan sup itu tetap bisa panas terus, sehingga ketika dihidangkan tidak langsung dingin.

Di samping itu tantangan besar pariwisata pada umumnya, karena tidak adanya objek-objek baru. Monoton dan kurang adanya langkah-langkah penanganan inovasi akan berpengaruh pada masa kunjungan wisatawan. Sedangkan untuk menciptakan produk-produk baru, tidak harus memasukkan bangunan-bangunan modern, seperti membangun hotel berbintang.

Adapun yang perlu ditonjolkan itu sebenarnya adalah keunikan-keunikan yang tidak dimiliki di tempat lain. Keunikan tersebut tentunya perlu sentuhan dan kemasan dengan dukungan sumber daya manusia yang berpengalaman dan profesional. Objek yang dijual bisa saja hal sederhana tetapi natural, misalnya pemandangan di sawah, petani sedang membajak, produksi gula tradisional, ataupun pertunjukan kesenian tradisional. Bila penjualan objek-objek tersebut profesional tentu akan bernilai jual tinggi.

Kalau sektor pariwisata ingin maju dan berkembang, kiranya perlu adanya skala prioritas pengembangannya sebagai sektor unggulan baik nasional maupun daerah. Di samping itu pemerintah perlu mengalokasikan dana secukupnya untuk sektor pendidikan dan pariwisata, karena progresifitas pariwisata juga membutuhkan kualitas pendidikan yang memadai.

Alangkah idealnya bila pemerintah dengan dukungangn berbagai pihak di samping membuka progam sekolah pariwisata juga memasukkan kurikulum muatan lokal pariwisata untuk sekolah-sekolah umum. Dengan demikian mereka yang bukan sekolah pariwisata paling tidak mengenal dasar-dasar ilmu pariwisata guna diaplikasikan di lokasi obyek wisata, seperti guiding, tata boga, housekeeping dan sebagainya.

Di sini sinergitas industri pariwisata-pendidikan dapat terajut secara mutual. Industri Pariwisata dapat menciptakan objek baru yang berorieintasi pasar, sedangkan pendidikan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang mempunyai kecakapan hidup untuk mengantisipasi elaborasi dunia pariwisata.

 

(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar