Menumbuhkan Minat Literasi Media

Dilihat 1910 kali
Perpustakaan dengan referensi lengkap dapat menjadi rujukan peserta didik menggali informasi valid untuk menangkal informasi yang tidak proporsional

Kompetensi peserta didik pada abad ke-21 tak lain adalah kemampuan berpikir kritis, terutama memiliki sikap kritis terhadap berbagai macam informasi yang digelontorkan oleh berbagai media. Sebagaimana diketahui dengan terbukanya akses informasi, pada saat ini berbagai informasi bisa masuk bagaikan menembus ruang dan waktu.


Apabila peserta didik di sekolah tidak dibekali dengan pemahaman untuk menyeleksi berbagai informasi, tentunya mereka akan terombang-ambing, bahkan bisa jadi mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak proporsional atau hanya sekadar kabar bohong saja.


Langkah yang harus dilakukan guru atau pihak sekolah paling tidak mereka diajarkan untuk memiliki sikap kritis terhadap informasi media dan mereka perlu juga diajak untuk melihat sejauh mana pesan dan informasi dalam media itu untuk membantu mereka menumbuhkan individu yang memiliki karakter moral yang kuat.


Karakter moral atau karakter merupakan evaluasi kualitas moral yang stabil individu tertentu. Konsep karakter dapat menyiratkan berbagai atribut termasuk adanya atau kurangnya kebajikan seperti empati, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau perilaku yang baik atau kebiasaan.


Menerima Mentah


Pada umumnya saat ini di era keterbukaan informasi, semua orang memiliki kecenderungan menerima mentah-mentah informasi yang diterima baik itu melalui media cetak, elektronik, maupun digital. Apalagi dengan kemudahan teknologi, seperti telepon genggam, informasi dari media itu berhadapan langsung dengan peserta didik. Dengan kata lain informasi itu berhadapan langsung dengan peserta didik di sekolah.


Apabila pembaca tidak memiliki sikap kritis untuk menyaring dan menilai informasi yang masuk melalui perangkat yang mereka miliki pikiran dan emosi individu tersebut akan disetir oleh informasi dalam media tersebut. Tidak jarang, informasi dalam media menjadi sumber dan alasan yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak terpuji (Doni Koesoema A & Evy Anggraeny, 2021).


Untuk itu, guru perlu melakukan strategi pembelajaran, salah satunya dengan metode literasi media. Strategi ini bisa menyatu dengan materi pelajaran. Peserta didik dapat diajak membaca dan mengkritisi informasi yang ada di media, baik itu media cetak, elektronik, maupun digital.

 

Peran Perpustakaan Sekolah


Di sinilah peran perpustakaan menjadi vital. Dengan koleksi yang dimiliki, perpustakaan bisa hadir sebagai rujukan atau informasi utama yang sahih. Informasi yang didapat dari berbagai buku, bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Perpustakaan pun memiliki peran penting dalam mengedukasi sebuah kemampuan bernama literasi informasi.


Kemampuan literasi informasi yang diberikan oleh perpustakaan juga merupakan tameng yang dapat digunakan untuk menangkal berita hoaks, karena dengan literasi informasi, pemustaka dapat secara kritis membedakan, memilah, dan memilih informasi yang kredibel dan aktual.

Tentunya, dengan buku-buku yang dimiliki, perpustakaan bisa hadir untuk menangkal berita-berita bohong tersebut. Dengan membaca dan mencari informasi yang terdapat dalam buku-buku tersebut, bisa didapatkan informasi tentang suatu kasus yang benar dan bisa dipercaya kebenarannya. Informasi yang didapat dari buku-buku di perpustakaan tersebut bisa menjadi sumber rujukan sekaligus meluruskan untuk menangkal berita-berita bohong.


Lewat perpustakaan, peserta didik diajak untuk diedukasi agar tidak mudah terprovokasi untuk menyebarkan berita bohong atau informasi yang belum tentu benar. Dengan kemampuan literasi informasi dan membaca buku, peserta didik diajak untuk makin cerdas dalam menyikapi beredarnya sebuah informasi atau berita yang diterimanya. Dengan membaca buku pula peserta didik  diajak untuk tidak mudah membagikan info yang belum tentu benar.


Peran perpustakaan tentu menjadi sesuatu yang vital, karena perpustakaan merupakan sumber informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Guru juga dapat mengajak peserta didik mengoptimalkan perpustakaan sekolah guna membandingkan sumber informasi yang diterima dengan sumber informasi valid dari referensi yang kredibel di perpustakaan.


Dengan mengomparasikan informasi yang diterima dengan sumber-sumber referensi resmi terutama media yang kredibel yang menjadikan peserta didik dapat memilah dan memilih sumber informasi yang benar, sehingga dapat menganalisis secara mendalam kedalaman sumber informasi tersebut. Dalam proses berikutnya apabila pembiasaan tersebut terus dilakukan akan menjadikan peserta didik berminat menganalisis setiap informasi yang diterima.


Sikap kritis tersebut dalam mencerna, menerima, dan mengolah informasi media ini perlu dilatihkan sejak dini agar peserta didik dapat mengelaborasikan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21, salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis, terutama sikap kritis terhadap informasi media.


Dengan melakukan strategi tersebut satuan pendidikan atau sekolah sudah memberikan kontribusi besar dalam penguatan pendidikan karakter.Kiranya perlu juga disadari bersama bahwa penguatan pendidikan karakter tidak terbentuk dari tindakan-tindakan istimewa, melainkan terbentuk dari pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar