Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan menengah dilaksanakan selama periode dua pekan ini. Bebagai dinamika pelaksanaan tentunya berbeda untuk masing-masing jenjang. Namun hakikatnya impelementasi MPLS merupakan pintu masuk murid-murid untuk beradaptasi ke sekolah baru tempat mereka menuntut ilmu untuk masa depannya.
Sebagaimana diketahui tahun ajaran baru 2026/2027 telah dimulai. Mulai dari sini janji layanan pendidikan yang berkualitas untuk semua pun gaungnya bergema melalui pelaksanaan MPLS. Di awal tahun ajaran baru, MPLS tidak hanya menjadi ruang bagi murid baru untuk mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi langkah awal dalam mencapai cita-cita. Ketika orang tua ataupun anak memilih sebuah sekolah untuk menuntut ilmu ada ekspektasi bahwa di sekolah tersebut kapabilitas dan bakat anak berkembang demi masa depan yang lebih baik (Kompas, 15/7/2026).
Sebagai jembatan utama untuk mencapai cita-cita, pertama-tama sekolah perlu menjadi rumah kedua bagi murid baru. Lingkungan ini harus bebas dari perundungan, terasa aman, penuh kasih sayang, dan membuat murid merasa nyaman serta bersemangat mengembangkan potensinya sejak hari pertama. Implementasi MPLS di awal tahun ajaran baru menjadi langkah awal untuk merealisasikan cita-cita tersebut.
MPLS Ramah
Pada dasarnya MPLS merupakan aktivitas menyambut warga baru sekolah ke dalam keluarga besar komunitas sekolah dengan segala dinamikanya. Para guru pendamping dan panitia, perlu memperkenalkan kepada para murid baru kekhasan dan keunikan sekolah, terutama nilai-nilai yang diperjuangkan dan dilatih di sekolah.
Adapun implementasi MPLS tersebut mengacu pada regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar Menengah Tahun 2026 Nomor 198 terkait tentang Uraian Materi MPLS Ramah yang dilaksanakan di sekolah sebagai satuan pendidikan.
Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan tema kegiatan MPLS Ramah. Dengan MPLS Ramah, sekolah dapat menjadi rumah kedua, tempat murid menemukan rasa aman, bahagia, nyaman, damai, dan tenang karena di dalamnya terdapat ikatan kasih sayang, cinta, dan kontak emosional kuat sebagaimana ikatan keluarga.
Penyelenggaraan MPLS Ramah bertujuan untuk membantu murid baru dalam menggali dan mengenali potensi diri, mengenal warga sekolah, serta mengenal kurikulum dan lingkungan sekolah sekaligus menjadi gerbang awal pembentukan budaya sekolah aman dan nyaman.
Selain itu, MPLS tersebut merupakan rangkaian proses awal yang tujuannya tidak sekadar mengenal warga sekolah dan lingkungan yang baru, tetapi juga mempersiapkan murid agar lebih siap baik mental, intelektual, juga kepekaan sosial menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk mendukung hal tersebut, dalam MPLS juga diamanatkan peta profil murid dan unjuk karya pada akhir implementasi MPLS.
Adapun untuk jenjang pendidikan menengah Materi MPLS terdiri dari materi utama dan materi pilihan. Untuk materi utama, terdiri dari materi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, Sopan dan Santun Bermedia Sosial, Budaya Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun, Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI), serta Gerakan Rukun Sama Teman (GRST).
Sementara itu, untuk materi pilihan terdiri dari ciri khas sekolah yaitu adalah materi yang terkait dengan nilai, tradisi, dan keunggulan sekolah. Sedangkan materi lain yang dibutuhkan sekolah seperti seperti seperti narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya, anti-korupsi, dan sebagainya.
Kegiatan utama MPLS merupakan aktivitas yang harus diimplementasikan sekolah pada saat pelaksanaannya, sedangkan aktivitas pilihan merupakan aktivitas yang diperkenankan untuk dipilih sesuai dengan ciri khas dan kebutuhan sekolah serta materi lain yang dianggap penting (Kemendikdasmen, 2026).
Untuk jenjang pendidikan menengah, di tengah maraknya dunia digital, murid juga dibekali dengan materi yang cukup aktual yaitu sopan dan santun bermedia sosial. Materi ini menekankan sikap, perilaku, dan kebiasaan menggunakan media sosial secara beradab, bertanggung jawab, empati, aman, dan bermanfaat dalam rangka menuju keadaban dan keamanan digital.
Sopan bermedia sosial mengandung pemahaman mengaplikasikan bahasa, gambar, komentar, dan unggahan sesuai dengan asas kepatutan yang normatif selaras dengan budaya ketimuran. Sementara itu, santun bermedia sosial lebih dipahami untuk menggunakan hati nurani, empati, dan kebijaksanaan dengan pikiran jernih sebelum melakukan komunikasi.
Keadaban dan keamanan digital yang nyaman dan aman mencakup aplikasi dan habituasi adab dan etika ketika berinteraksi di ruang digital, penguatan literasi digital untuk semua warga sekolah dalam upaya menangkal informasi bohong dan konten negatif serta ancaman kekerasan dan kejahatan siber, serta perlindungan data pribadi warga sekolah dalam proses pembelajaran.
Ada lagi materi yang menegaskan perlu sikap rukun sama teman yang tertuang dalam materi Gerakan Rukun Sama Teman. Gerakan ini merupakan pembiasaan positif yang mendorong murid untuk membangun hubungan yang sehat, saling menghargai, dan peduli terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, seperti spirit empati, gotong royong, komunikasi postif, inklusif, dan menggembirakan.
Materi utama dan pilihan merupakan materi yang sangat signifikan untuk menguatkan pendidikan karakter karena dapat menjadi fondasi utama penanaman nilai moral seperti kejujuran, disiplin, dan toleransi. Kegiatan ini membantu murid beradaptasi di lingkungan baru, mencegah perundungan, dan membangun budaya belajar yang aman serta menyenangkan sejak hari pertama sekolah.
Langkah Strategis
MPLS tahun ini merupakan langkah strategis dalam membangun budaya sekolah yang berpusat pada murid. Pelaksanaan MPLS yang mengedepankan prinsip aman, nyaman, bahagia, dan bermakna akan memberikan pengalaman awal yang positif bagi setiap murid.
Keberhasilan MPLS tidak diukur dari kemeriahan kegiatan, melainkan dari keberhasilannya membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah, memahami budaya belajar, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Pengalaman positif pada hari-hari pertama sekolah akan menjadi fondasi bagi tumbuhnya motivasi belajar, karakter yang kuat, serta hubungan yang harmonis dengan seluruh warga sekolah.
Namun sejatinya, setelah masa MPLS inilah sebagai upaya untuk mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, dan bermakna bagi murid diuji. Tentunya hal ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga pemangku kepentingan pendidikan lainnya mulai dari orang tua hingga pemerintah. Orang tua merupakan mitra guru dalam mendidik anak, karena pendidikan anak pertama-tama berlangsung di keluarga. Sedangkan pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang berkualitas.
Kolabarasi paralel tersebut akan dapat merealisasikan obsesi dan harapan semua pihak untuk mendapatkan generasi unggul sebagai kader-kader pemimpin masa depan guna menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang
@kominfomagelang Scan. Bayar. Beres! 📲✨ Tax Gathering Kabupaten Magelang 2026 hadir dengan semangat baru! Diawali apresiasi untuk para wajib pajak terbaik 🏆, dilanjutkan Launching Trisula PAD dan implementasi pembayaran pajak daerah pakai QRIS di aplikasi e-SPTPD. Makin mudah, makin cepat, makin praktis! 🚀 #TaxGathering #Magelang #QRIS ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar