Pemanfaatan Metode Konstruktivistik Untuk Pembuatan Modul Ajar Kurikulum Merdeka

Dilihat 2176 kali
Salah satu metode pembelajaran yang bisa diterapkan dalam menyusun modul ajar adalah metode pembelajaran konstruktivistik

Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd*)


IMPLEMENTASI kurikulum merdeka (IKM) mulai dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada tahun pelajaran 2022-2023. Dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka, salah satu tahapan yang harus dilakukan oleh guru adalah menyusun modul ajar. Banyak metode pembelajaran yang bisa diterapkan dalam menyusun modul ajar. Dengan menerapkan banyak metode yang bervariasi dalam menyusun modul ajar maka kualitas pembelajaran akan semakin meningkat. Salah satu metode pembelajaran yang bisa diterapkan dalam menyusun modul ajar adalah metode pembelajaran konstruktivistik.

Metode konstruktivistik adalah metode mengkonstruksi pengetahuan, artinya pengetahuan atau kompetensi pembelajar dibangun dari proses pengintegrasian pengetahuan baru terhadap struktur kognitif yang sudah ada dan dilakukannya penyesuaian struktur kognitif dengan informasi baru yang didapatkan. Menurut Ansari (2016; 65) teori belajar konstruksivistik berkenaan dengan bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dalam berintegrasi dengan lingkungannya. Artinya, siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Sehingga tujuan pembelajaran konstruktivistik ini ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata yang mendorong siswa untuk berpikir dan berpikir ulang lalu mendemonstrasikan.

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah bahwa belajar itu menemukan. Meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri ) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.

Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generative, strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitIf lainnya (belajar seharusnya belajar).

Piaget dan Vigotsky (dalam Nur dan Wikandari, 2011:3) menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam upaya memperoleh informasi baru.  Untuk itu, dalam konstruktivistik terdapat empat aspek yang penting dalam pengembangan perubahan kognitif yang bertumpu dari aspek sosial dalam belajar. Keempat aspek itu adalah:

  1. Pembelajaran sosial
  2. Zona perkembangan terdekat
  3. Pemagangan kognitif
  4. Dukungan tahap demi tahap dan pemecahan masalah.

Dalam konstruktivistik, siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistik. Kemudian mereka diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya projek, simulasi, penelitian di masyarakat, menulis untuk dipresentasikan ke pendengar sesungguhnya, dan tugas-tugas autentik lainnya (diambil dari kehidupan nyata).

Selain itu, dalam pengajaran, konstruktivistik lebih menekankan pada pengajaran top-down dari pada botton up. Top-down yang dimaksud di sini adalah masalah-masalah kompleks dipecahkan siswa terlebih dahulu kemudian menemukan keterampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh, siswa diberikan konsep dasar paragrapf baru kemudian menganalisis kalimat, mengeja, tata bahasa, dan tanda baca. Sebaliknya bottom up lebih menekankan keterampilan dasar untuk mewujudkan keterampilan yang lebih kompleks.

Pembelajaran yang bernaung dalam metode konstruktivistik adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok (4 orang dalam kelompok) untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.

Kooperatif dilakukan dengan empat siswa yang berbeda-beda dari segi kemampuan atau ukuran kelompok. Siswa ditempatkan ke dalam kelompok kooperatif dan tinggal bersama sebagai satu kelompok untuk beberapa hari. Mereka dilatih keterampilan khusus untuk membantu mereka dapat bekerja sama dengan baik, memberikan penjelasan dengan baik, dan mengajukan pertanyaan dengan baik.

Dalam kooperatif, ada beberapa metode pembelajaran yang bisa diterapkan, yaitu:

  1. Student Teams – Achievement Divisions (STAD), yang menggunakan satu langkah pengajaran di kelas dengan menempatkan siswa ke dalam tim campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, dan suku. Akhirnya, seluruh siswa dikenai problem (kuis) berkaitan dengan materi dan sesama anggota tim, saat mengerjakan kuis, siswa tidak boleh saling membantu.
  2. Team Assisted Individualization (TAI) yang lebih menekankan pengajaran individual meskipun tetap menggunakan pola kooperatif.
  3. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah bagian metode kooperatif yang komprehensif atau luas dan lengkap untuk pembelajaran membaca dan menulis kelas tinggi. Dalam CIRC, siswa dikelompokkan berdasarkan perbedaan masing-masing sebanyak empat orang. Mereka terlibat ke dalam rangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan yang lainnya, menulis tanggapan terhadap cerita, saling membuatkan ikhtisar, berlatih pengejaan, serta perbendaharaan kata.
  4. Jigsaw, Dalam jigsaw, siswa dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari  materi akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab. Misalnya, dari enam orang anggota kelompok saat mempelajari tema tokoh besar, masing-masing mempelajari riwayat hidup, prestasi awal, kemunduran yang dialami, dampak dari kiprahnya. Kemudian, para siswa kembali ke timnya dan bergantian menceritakan hasilnya.
  5. Belajar Bersama (Learning together), metode ini melibatkan siswa yang bekerja dalam kelompok beranggotakan empat atau lima siswa heterogen untuk menangani tugas tertentu. Kemudian, mereka melaporkan tugas itu. Metode belajar bersama lebih mengarah pada pembinaan kerjasama dan keberhasilannya.
  6. Penelitian Kelompok (Group Investigation) merupakan rencana organisasi kelas umum. Siswa bekerja dalam kelompok kecil dengan menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif yang bercirikan penemuan), diskusi kelompok, dan perencanaan, serta projek kooperatif.

Dalam menggunakan metode konstruktivistik saat menyusun modul ajar, guru tentunya tetap memperhatikan tujuan yang akan dicapai, proses yang akan dilakukan, materi yang akan disajikan, media atau sarana yang perlu disiapkan, dan peran  guru juga masih sangat diperlukan. Bila metode konstruktivistisk benar-benar bisa dilaksanakan dalam proses pembelajaran di sekolah dan sudah dihidupi oleh para guru dalam membuat modul ajar sesuai dengan yang diamanatkan dalam  kurikulum merdeka maka harapannya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum akan mengalami peningkatan. Semoga.


*)Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar