Bulan Juni merupakan bulan penuh makna historis karena bertepatan dengan bulan Bung Karno. Pada bulan ini momentum sejarah besar bangsa Indonesia ditorehkan. Dikatakan sebagai bulan Bung Karno, karena menjadi tonggak historis penting bagi bangsa Indonesia yang tidak lepas dari pribadi Sang Proklamator. Bulan Juni ini menjadi kekuatan saksi historis tiga momentum besar yaitu lahirnya Pancasila, lahirnya Bung Karno, dan wafatnya Sang Proklamator menuju alam keabadian.
Soekarno lahir tepatnya pada 6 Juni 1901 di Surabaya. Ayahnya bernama Raden Sukemi Sosrodiharjo adalah seorang guru sekolah rendah gubernemen. Ibundanya yakni Ida Ayu Nyoman Rai, masih keturunan kasta Brahmana dari Buleleng Bali. Soekarno ini juga mendapat julukan Putera Sang Fajar. Sang ibunda memberikan julukan tersebut karena dalam budaya Jawa, bayi yang lahir saat fajar dipercaya memiliki nasib yang telah ditakdirkan dengan baik.
Dalam buku berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia tulisan Cindy Adams (2011), juga menegaskan ibunda Soekarno melahirkan di saat fajar menyingsing. Dalam doa harapannya, diyakini kelak Soekarno akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatnya. Kehadiran Soekarno dimaknai sebagai pembawa semangat dan harapan baru untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
Pribadi Cerdas
Sejak belia, Soekarno sangat dikenal sebagai sosok pribadi yang cerdas dan berjiwa nasionalis. Pendidikannya ditempuh dengan lancar, seperti Hollands Inlandse School (HIS). Selepas sekolah di HIS, Soekarno langsung melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Mulai dari sini ide-ide nasionalisme dan perjuangannya mulai bertumbuh.
Selepas masa belajarnya dari ITB dengan gelar Insinyur, Soekarno mulai aktif dalam kancah dinamika politik dengan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 1927. Dengan menggunakan mekanisme partai yang didirikannya, Soekarno sangat gigih dan pantang menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajahan. Karena dianggap kritis dan oposan, oleh Pemerintah Kolonial Belanda suara kritisnya dibungkam dangan cara beberapa kali masuk penjara dan diasingkan. Walau keluar masuk penjara semangat perjuangannya tidak pernah pudar.
Momentum historis yang tidak dilupakan, yaitu pada 17 Agustus 1945, bersama dengan Mohammad Hatta, Soekarno dengan berani memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang dicita-citakan bersama. Sehari pascaproklamasi kemerdekaan, tepatnya 18 Agustus 1945 Soekarno resmi diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia pertama pada sidang pleno Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri, Putera Sang Fajar ini memiliki peran utama sebagai pemersatu bangsa. Soekarno memiliki peran sentral dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang heterogen dengan agama, suku bangsa, dan kulturnya dalam spirit Bhineka Tunggal Ika. Semuanya juga terformulasikan dalam bingkai Pancasila sebagai dasar negara yang sampai saat ini tetap aktual untuk diaplikasikan dalam kancah hidup berbangsa dan bernegara.
Dalam percaturan dunia internasional, Soekarno dikenal cukup vokal dan kritis menentang penjajahan dalam bentuk apapun. Tidak tanggung-tanggung Soekarno turut menggagas lahirnya kegiatan besar Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Momentum historis itu merupakan simbol solidaritas negara-negara yang baru merdeka.
Di samping kapasitasya dikenal sebagai pemikir politik jitu, Soekarno juga berkontribusi dalam mendesain berbagai bangunan-bangunan fisik spektakuler seperti Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional di Jakarta. Selain itu, berbagai spirit orasi dan kebijakan politik yang diaplikasikan, Soekarno mampu memberikan pemantik semangat dan menanamkan rasa bangga terhadap identitas Indonesia, untuk membangun kesadaran nasional dan semangat gotong royong.
Pemikiran Trisakti
Selain gagasan tentang Pancasila, gagasan pemikiran Soekarno yang cukup fenomenal tak lain yakni pemikiran tentang Trisakti. Konsep Trisakti tersebut dilontarkan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1964 di istana negara Jakarta. Pidato itu dinamakan sebagai tahun Vivere Pericoloso. Tahun tersebut diambil dari frasa Bahasa Italia yang dimaknai sebagai tahun yang menyerempet bahaya. Soekarno menilai bahwa tahun-tahun itu merupakan periode berbahaya bagi Indonesia, karena gencarnya upaya imperialisme bangsa Barat untuk melakukan kooptasi baik melalui produk ekonomi maupun kebudayaan.
Untuk menyikapi situasi dunia pada waktu itu, Soekarno memiliki ide mendorong terbentuknya revolusi yang dilakukan secara menyeluruh di segenap aspek dengan memperkuat jati diri bangsa. Cara untuk memperkuat jati diri bangsa itulah yang kemudian oleh Soekarno dijadikan dasar menciptakan adanya Trisakti sebagai fondasi dalam membangun karakter bangsa secara holistik (Wasisto Raharjo Jati, 2024).
Adapun jika ditelisik lebih mendalam pemikiran Soekarno terkait dengan Trisakti dapat dieksplanasikan sebagai berikut, pertama berdaulat di bidang politik. Kata berdaulat inilah yang menjadi kata kunci untuk menjelaskan adanya kemauan dan determinisme suatu bangsa dalam menegaskan dirinya sebagai bangsa yang bebas.
Adanya tekad dan kemauan kuat untuk mandiri dan bebas bertindak itulah yang membuat Bung Karno selalu mengedepankan konsep berdaulat untuk bisa menegaskan prinsip baik dalam mengelola tata pemerintahan tanpa ada intervensi dari pihak luar dan juga adanya keinginan untuk menjalin relasi dengan negara lain dalam tataran yang seimbang dan saling menguntungkan.
Kedua, berdikari di bidang ekonomi. Aspek ini menekankan bentuk pendayagunaan ekonomi secara nasional yang dijalankan oleh suatu negara dengan sistem sendiri. Ini berarti Indonesia harus mandiri, berdaulat, dan tidak bergantung pada negara atau kekuatan asing, khususnya dengan memperkuat sektor produksi nasional, pangan, energi, dan sumber daya alam demi kesejahteraan rakyat.
Ketiga, berkepribadian dalam berkebudayaan. Berkepribadian secara budaya dimaknai sebagai upaya untuk memahami perubahan mendasar dalam konstelasi budaya di Indonesia. Adanya budaya yang perlu untuk diejawantahkan dalam proses perumusan budaya yang nasional dan hakiki. Dalam konteks ini, yang dilawan Soekarno adalah esensi liberalisme maupun budaya hedonistik yang tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia.
Dengan demikian dapat kembali ditegaskan bahwa pemikiran-pemikiran Bung Karno seperti konsepsi Trisakti ini dapat diaktulisasikan dan masih relevan diaplikasikan sampai saat ini agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, terlebih untuk menyongsong Indonesia emas 2045. Soekarno telah menunjukkan jalan. Sekarang saatnya bangsa Indonesia melanjutkan perjuangannya guna mewujudkan visi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat.
Bung Karno telah mengajarkan bahwa manusia bisa pergi, tetapi gagasan dan perjuangannya akan terus hidup. Semangat nasionalisme, gotong royong, keberpihakan kepada rakyat marjinal, serta ekspetasi mewujudkan Indonesia berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan akan senantiasa menyala bagaikan magma hingga hari ini.
Spirit tersebut selaras dengan semboyan jas merah atau jangan sekali-kali sampai meninggalkan sejarah. Generasi penerus hendaknya selalu menghargai, mengingat, dan mempelajari sejarah perjuangan bangsa, serta jasa para pahlawan yang berhasil merebut kemerdekaan. Jejak rekam sejarah tersebut dapat menjadi fondasi dan pedoman dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
Selamat merayakan bulan Bung Karno tahun 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang
@kominfomagelang Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.
♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar