Pengelolaan Proses Pembelajaran di Kelas Yang Menarik Mewujudkan Implementasi Kurikulum Merdeka Yang Berkualitas

Dilihat 16137 kali

Oleh: P. Budi Winarto, SPd*)


MENGAPA banyak siswa menjadi jenuh dan bosan mengikuti proses pembelajaran di kelas? Kalau kita refleksi secara mendalam, ada beberapa kesalahan dalam proses pembelajaran kita selama ini. Pertama, pembelajaran bersifat konvensional; menerangkan, mengerjakan latihan, ulangan sehingga kurang memberi daya tarik siswa. Kedua, bahan pelajaran bersifat abstrak, kadang jauh dari realitas kehidupan siswa sehari-hari. Ketiga, sekolah terjebak dalam kondisi membosankan, ritme pembelajaran hanya itu-itu saja, kurang variatif.

Kadang-kadang kesalahan-kesalahan di atas masih diperparah oleh kesalahan-kesalahan lain. Misalnya: Guru sekadar melakukan transfer ilmu yakni sebagai pengajar, lalu kapan menjadi pendidiknya? Guru kurang mengendalikan proses, biasanya kaget ketika bel berbunyi pertanda jam pembelajaran telah habis, lalu dengan cukup terburu-buru harus pindah kelas, tanpa kesimpulan, tanpa pesan apalagi refleksi yang bermakna.

Proses pembelajaran dalam kelompok berjalan seadanya dan sering kurang terarah/terbimbing. Banyak guru kadang tidak konsisten dengan rencana atau persiapan pembelajarannya sendiri.

Dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka, Guru diharapkan mengelola proses pembelajaran di kelas secara baik dan menarik. Bagaimana pengelolaan proses pembelajaran di kelas yang baik dan menarik? Pembelajaran yang baik dan menarik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 

  1. Pembelajaran dirancang dengan memperhatikan konteks siswa (Contect Teaching Learning). 
  2. Partisipasi aktif siswa menjadi syarat mutlak terjadinya kegiatan belajar. 
  3. Adanya tumpuan (scaffolding) sehingga pembelajaran menjadi lebih baik, misalnya: guru telah membuat desain pembelajaran, persiapan yang matang, pakai alat bantu, alat peraga, animasi, gambar, dan sebagainya. Guru mampu memanfaatkan aspek-aspek di luar kognitif: rasa senang, tertarik, ada alunan musik, nyanyi, gerak tubuh, dan sebagainya. 
  4. Guru mempersiapkan peta konsep dan alur pembelajaran sehingga ada prioritas kegiatan yakni misalnya bahan esensial, bahan tambahan dan bahan selingan. 
  5. Proses kegiatan dan bahan-bahan pembelajaran diramu menjadi sebuah modul pembelajaran yang baik. 
  6. Pembelajaran mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa dengan mengaktifkan siswa dalam keterampilan proses. 
  7. Self confidence dan kemandirian siswa terbentuk.

Hasil Belajar Ditentukan Oleh Kegiatan Belajar

Dalam implementasi kurikulum merdeka, kegiatan belajar hampir mirip dengan kegiatan olah raga. Kesuksesan atlet (hasil) sangat tergantung oleh latihannya. Kalau ia ingin menjadi pemain bulutangkis yang handal ia harus melakukan kegiatan latihan bulutangkis dengan tekun. Demikian juga proses belajar, jika setiap hari kegiatannya menghafal maka hasilnya adalah pengetahuan ingatan (memori) hafalan. Jika kegiatannya mengamati, mencoba, berdiskusi, berbicara, membuat diagram, membuat grafik maka hasilnya adalah ingatan dan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap perilaku. Kegiatan yang dilakukan/dilatihkan akan menentukan hasilnya. 

Dalam kurikulum merdeka diamanatkan bahwa seorang guru harus menyadari jika hasil belajar siswa ditentukan oleh kegiatan belajarnya, maka strategi yang perlu ditempuh oleh guru adalah memaksimalkan kegiatan belajar siswa. Apa yang perlu ditempuh oleh guru adalah memaksimalkan kegiatan belajar siswa. Apa yang perlu dilakukan oleh guru guna tujuan tersebut antara lain adalah: 

  1. Mengenali bentuk-bentuk kegiatan belajar siswa, variasi kegiatan belajar antara lain: diskusi kelompok, mengadakan percobaan, membaca di perpustakaan dan membuat resume, ringkasan atau sejenisnya, dan lain sebagainya. 
  2. Merancang pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. 
  3. Memberi motivasi dan membimbing siswa melakukan kegiatan belajar. 
  4. Memanfaatkan minat dan bakat siswa (memanfaatkan kecerdasan majemuk). 
  5. Menggunakan sarana-prasarana yang mendukung siswa giat belajar (perpustakaan, lingkungan sekolah dan sebagainya).

Prosedur Pembelajaran yang Mengaktifkan Siswa

Prosedur adalah tahap-tahap yang harus dilalui agar proses pembelajaran benar-benar menjadi aktivitas siswa. Semakin tinggi keterlibatan siswa maka akan semakin tinggi pula hasil belajar yang diperolehnya.

Prosedur 1 : Siswa diberi peluang untuk menemukan: Kegiatan yang dimungkinkan adalah: melakukan pengamatan, melakukan percobaan; membaca buku, teks atau naskah lainnya; melakukan wawancara; membuat sesuatu (membuat sketsa, gambar, dan sebagainya); mengerjakan sesuatu (meringkas buku, menggarisbawahi  pokok-pokok penting dalam suatu bacaan, dan mencari kosakata dalam kamus).

Prosedur 2 : Siswa diberi peluang untuk berinteraksi, dengan cara: Berdiskusi dalam kelompok 2 orang, atau kelompok yang lebih besar; Mengajukan pertanyaan; meminta pendapat orang lain; memberikan komentar terarah, dan bekerja dalam kelompok.

Prosedur 3 : Siswa diberi peluang untuk berkomunikasi, pengungkapan pikiran dan perasaan baik secara lisan atau tulisan, dengan cara: Mendemonstrasikan; menceritakan kembali/berbicara; melaporkan lisan atau tulisan (diagram, sketsa, grafik, tulisan); Memajang hasil karya, dan sebagainya.

Prosedur 4 : Siswa diberi peluang untuk refleksi, yakni kegiatan mengambil makna atas gagasan atau pengalaman yang diterimanya ataupun memikirkan kembali tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipelajari. Mempertanyakan (sebab, proses, akibat bagi orang lain, diri sendiri, masyarakat dan lingkungannya). Meminta siswa lain memberikan komentar atau pendapat.

Mengasah Kompetensi (To Be Competence)

Dengan proses pembelajaran yang dirancang dengan empat prosedur di atas, kompetensi siswa akan terasah, setiap kali mereka melakukan proses kegiatan pembalajara: dalam teras pengalaman, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Dengan cara ini otak siswa berfungsi sebagai organ berpikir, bukan sekadar organ untuk alat “merekam”.

Selain empat prosedur diatas,secara implisit kurikulum merdeka juga mengamanatkan bahwa guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif. Kelas didesain sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang memperlihatkan kreativitas dan dinamisitas siswa. Misalnya hasil-hasil kerja siswa dipajang dengan ditata rapi. Kelas menjadi ajang pemrosesan kegiatan dan pajangan hasil belajar. Guru jangan hanya bertumpu bahwa hasil belajar siswa berupa nilai angka saja. Masih banyak variasi hasil belajar siswa yang perlu juga untuk diapresiasi. Pengaturan pemajangan dilakukan sedemikian rupa sehingga menarik dan nyaman, enak untuk dinikmati. Sarana-prasarana dan sumber-sumber belajar dipergunakan untuk semakin mempermudah siswa menangkap dan menerima konsep, ide dan ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak. Semoga.


*)Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar