Pentingnya Siklus Belajar untuk Membentuk Kemandirian Berpikir Anak di Era Merdeka Belajar

Dilihat 1924 kali

Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd*)


PEMBELAJARAN di sekolah era merdeka belajar meliputi tiga hal utama, yaitu fakta, konsep dan nilai. Fakta-fakta yang dieksplorasi harus dapat dikonseptualisasi untuk melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan demikian, ketika anak belajar sesungguhnya diharapkan dapat melatih dan mengembangkan skill belajar (soft skill) yang meliputi self management skills, thinking skills, research skills, communication skills, social skills, dan problem solving skills (Langrehr, 2006).

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan di masa depan, menuntut pengembangan teori dan siklus belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yang dikembangkan dalam kurikulum merdeka akan menentukan terbentuknya karakter yang diharapkan pada diri anak. Karakter berpikir yang kreatif dan memerdekakan atau membebaskan dapat menjadi modal utama bagi anak untuk menjadi manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif. Proses pembelajaran dalam kurikulum merdeka adalah pembelajaran yang berkarakter, membiasakan anak belajar dan bekerja terpola dan sistematis, baik secara individual maupun kelompok dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak untuk berkreasi dan mencipta.

Dalam kurikulum merdeka diamanatkan bahwa untuk membentuk karakter kreatif dan produktif menuju terciptanya kemandirian bagi anak harus dikembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut:

  1. Exploring, merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petujuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan orang lain, atau menggali informasi dari guru, ahli atau pakar atau sumber-sumber yang lain.
  2. Planing, menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.
  3. Doing/acting, melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya, dan melaporkan hasilnya, menyelesaikan masalah.
  4. Communicating, mengomunikasikan atau mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi.
  5. Reflecting, mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna meningkatkan evektivitas perencanaan.

Aspek pengalaman belajar tersebut merupakan tahapan-tahapan belajar yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensi belajar, berpikir dan berkreasi dalam karya. Di mana siklus pembelajaran tersebut menjadi wahana melatih anak membangun kemandirian dan memupuk jiwa entrepreneurial dengan kreativitas dan produktivitas sebagai karakternya. Dalam implementasinya, siklus belajar ini konsisten dengan pendekatan konstruktivistik, inquiri, kooperatif, dan kolaboratif.

Otak manusia juga terdiri atas dua belahan, kiri (left hemisphere) dan kanan (right hemisphere) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpuss callosum. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk berpikir rasional, analitis, berurutan, linier, saintifik seperti membaca, bahasa dan berhitung. Adapun belahan otak kanan berfungsi untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Kedua belahan otak tersebut memiliki fungsi, tugas, dan respon berbeda dan harus tumbuh dalam keseimbangan.

Dalam proses menuangkan pikiran, manusia berusaha mengatur segala fakta dan hasil pemikiran dengan cara sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan dari awal dengan harapan bahwa akan lebih mudah mengingat dan menarik kembali informasi di kemudian hari. Sayangnya sistem pendidikan modern memiliki kecenderungan untuk memilih keterampilan-keterampilan otak kiri, yaitu matematika, bahasa dan ilmu pengetahuan dari pada seni, music, dan pengajaran keterampilan berpikir, terutama keterampilan berpikir kritis dan kretif.

Struktur kognitif yang menjadi prinsip dalam educational objectives dibangun melalui enam tingkatan berpikir yang dikembangkan oleh Lorin Anderson (2001) sebagai revisi atas taksonomi bloom (1950). Keenam tingkatan berpikir yang dimaksud adalah mengingat (remembering), memahami (Understanding), mengaplikasikan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Pembelajaran seringkali terlena dalam tiga tingkatan pertama (low order of thingking) sehingga berdampak pada pengerdilan potensi anak, padahal setiap anak lahir dengan membawa potensi yang luar biasa. Dalam menyonsong tantangan masa depan Kurikulum merdeka menuntut pembelajaran harus lebih mengembangkan tiga tingkatan akhir berpikir yang disebut dengan keterampilan berpikir kreatif dan kritis (high order of thinking). Menurut Anderson (2001), mengevaluasi ditempatkan sebagai kategori utama dalam pengembangan berpikir kritis. Seseorang dapat menjadi kritis tanpa harus kreatif, tetapi produk kreatif seringkali membutuhkan pemikiran kritis. Oleh karena itu, creating diletakkan sebagai tingkatan akhir yang harus dicapai dalam proses belajar dan berpikir anak.

Belajar bukan sekadar menemukan fakta, dan mengkonstruksinya menjadi sebuah pengetahuan. Menurut Pebruanto (2007), di dalam concept based curriculum mengisyaratkan ada tiga konsep belajar yaitu, belajar melebihi fakta (learning beyond the facts), belajar bagaimana berpikir (learning how to think), dan belajar bagaimana menemukan dan mengkonstruksi fakta baru (learning how to find and construct new facts). Suatu pengetahuan dianggap benar jika dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai (Suparno, 1997).

Sebenarnya, anak-anak dapat menuangkan pikiran dengan caranya masing-masing. Proses menuangkan pikiran menjadi tidak beraturan atau malah tersendat ketika anak-anak terjebak dalam model menuangkan pikiran yang kurang efektif sehingga kreativitas tidak muncul. Model dikte dan mencatat semua yang didiktekan guru, mendengar ceramah dan mengingat isinya, menghafal kata-kata penting dan artinya terjadi dalam proses belajar dan mengajar di sekolah atau dimana saja menjadi kurang efektif ketika tidak didukung oleh kreativitas guru atau anak itu sendiri. Masalah-masalah lain muncul ketika anak berusaha mengingat kembali apa yang sudah didapatkan, dipelajari, direkam, dicatat, atau yang dahulu pernah diingat. Beberapa anak mengalami kesulitan berkonsentrasi, atau ketika mengerjakan tugas. Ini terjadi dikarenakan catatan ataupun ingatannya belum teratur. Untuk itu dibutuhkan suatu alat untuk membantu otak berpikir secara teratur. Penerapan siklus belajar yang benar dan efektif adalah salah satu alat atau cara untuk membatu otak berpikir secara teratur. Selain itu siklus belajar yang benar dan efektif juga dapat membantu membentuk kemandirian berpikir anak dalam menyongsong era merdeka belajar. Semoga. 


*)Penulis adalah Guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar