Peran Pendidikan Dalam Keluarga

Dilihat 274 kali

DALAM memperingati hari pendidikan nasional 2 Mei 2024, tuntutan perbaikan dalam dunia pendidikan tampaknya semakin menguat dan di masa yang akan datang rasanya tuntutan tersebut tidak akan pernah berhenti. Hal ini merupakan pertanda baik. Bagaimana pun pendidikan kunci keberhasilan sebuah bangsa. Sayangnya selama ini kita kerap mengabaikan peran pendidikan dalam keluarga. Padahal, penelitian membuktikan bahwa pendidikan masa kecil dalam keluarga memiliki pengaruh besar dalam perkembangan anak.

Dalam keluargalah anak pertama kali mengalami kontak sosial, membangun kepercayaan diri dan menumbuhkan sifat ingin tahu. Semua ini sangat berguna bagi perkembangan pendidikan formal di sekolah. Ilmu  psikologi membuktikan bahwa perilaku orang tua khususnya perilaku verbal sangat mempengaruhi perkembangan diri anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kaya bahasa akan cenderung lebih berhasil dalam studi. Sebaliknya anak yang berasal dari keluarga broken home, apatis terhadap pendidikan.  Pertengkaran dalam keluarga mendorong tingkat kegagalan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang harmonis. Anak yang berasal dari keluarga yang broken home akan memiliki pandangan yang negatif dan kurang percaya pada orang lain.

Dalam pengertian inilah  peran orang tua tidak dapat dilepaskan dari pendidikan formal. Filsafat pendidikan mengingatkan kita bahwa proses pendidikan berjalan dalam empat tahap: pertama, memelihara, merawat dan mengasuh; kedua, membiasakan; ketiga, mengajar; keempat, membina sikap hidup. Jika kita memperhatikan dengan seksama keempat tahapan tersebut maka pendidikan formal di sekolah merupakan tahap ketiga setelah melewati proses pendidikan dalam keluarga.

Sejalan dengan pemikiran di atas, kekeliruan besar menganggap sekolah dapat menjadi keluarga kedua bagi anak. Bahkan dalam situasi ideal sekalipun, sekolah tidak akan sanggup menggantikan peran keluarga. Guru sebagai ujung tombak pendidikan akan mengalami kesulitan memberikan  perhatian sama besarnya bagi setiap siswa. Guru akan cenderung memperhatikan siswa yang berbakat, sopan, dan rajin. Besar kecil perhatian guru terhadap siswa akan mempengaruhi minat belajar siswa yang bersangkutan.  Sebenarnya belajar itu seperi mencintai, baik usaha siswa maupun perhatian guru sama-sama menentukan langgeng tidaknya cinta itu. Semakin besar perhatian guru terhadap siswa, semakin besar cintanya terhadap pelajaran. Banyak siswa yang termotivasi bila guru bersikap terbuka, ramah, dan penuh perhatian.

Masalahnya, di mana si anak pertama kali membentuk perilaku rajin, sopan, dan berbakat? Pastilah dalam keluarga. Permasalahannya, berapa persen orang tua zaman modern sekarang ini yang memiliki perhatian penuh terhadap putra-putrinya. Sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan orang tua berangkat kerja selagi mata mereka masih terpejam dan pulang ketika mereka telah tertidur dengan lelap. Tuntutan kerja menyebabkan pola hubungan orang tua dan anak semakin renggang. Waktu yang tersedia untuk berkomunikasi dibatasi alasan-alasan klise, yaitu sibuk. Harga yang dibayar oleh pola seperti itu adalah meningkatnya kenakalan remaja dari waktu ke waktu seperti tawuran, pergaulan bebas dan penggunaan obat-obat terlarang. Dalam pemahaman seperti inilah penambahan pendidikan budi pekerti dalam kurikulum yang gencar dibicarakan menjadi mubazir. Mengapa? Karena siswa yang baik bukan hasil pendidikan di sekolah tetapi di rumah, dalam keluarganya. Sekolah pada dasarnya menampung siswa yang wataknya telah terbentuk di keluarga. Sekolah hanya berfungsi mengarahkan, selebihnya tergantung pada karakter yang telah tumbuh dalam diri si anak. Orang tualah yang pertama kali bertanggung jawab terhadap perilaku anaknya. Hanya sebuah kekecualian bila ada anak yang menjadi golden boy dalam keluarga tapi menjadi raja tawuran di luar rumah.

Kenyataan seperti ini kian diperburuk oleh perhatian yang minim dari orang tua terhadap pendidikan formal anak. Peran ayah ibu saat ini hanya terbatas pada membayar uang sekolah anak atau memberi uang uang saku saat anak berangkat sekolah. Kenyataan ini kian terasa pahit bila sekolah mengundang orang tua siswa, yang datang ternyata sebagian saja bahkan ada yang mewakilkan pada orang lain, sopir atau pembantu. Orang tua menuntut anak supaya belajar lebih giat, orang tua menuntut sekolah berbuat lebih banyak padahal orang tua sendiri sebetulnya tidak mau berubah. Saat ini yang penting bukan mengajari anak tetapi bagaimana membuat supaya anak percaya bahwa apa yang ia pelajari mempunyai arti. Tetapi bagaimana mungkin menumbuhkan kepercayaan kepada seseorang bapak yang mengatakan bahwa merokok itu merusak kesehatan sementara ia sendiri duduk ongkang kaki dengan kepulan asap rokok.

Sudah saatnya orang tua di negeri ini bertanya, berapa besar perhatian kita pada anak kita? Selamat hari Pendidikan Nasioanal.

 

Penulis: P. Budi Winarto, S.Pd. Guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar