Perempuan dan Empati Terhadap Sesama

Dilihat 4370 kali
Sahabat Evi Hikmah Nurchayati, S.Pd mengasuh Adfaita Haqqi, putra dari Sahabat Murni peserta Latihan Kader Lanjutan (LKL) Fatayat NU Kab.Magelang. MWC NU Sawangan 19-20 Maret 2022

"Boleh banget mbak, silahkan anaknya dibawa. Insyaa Alloh besok banyak yang mengasuh di sana." Itu adalah jawaban Sahabat Evi, Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Magelang menanggapi pertanyaan salah satu peserta LKL (Latihan Kader Lanjutan) yang meminta izin membawa anak. Sahabat Murni diperbolehkan suami mengikuti pelatihan selama dua hari, dengan mengajak serta anak keduanya yang berumur 9 bulan. 


Dari cerita di atas kita menangkap dua hal. Pertama, suami telah menjadi system (tim) yang baik. Mengasuh anak pertama di rumah dan mengizinkan istrinya berorganisasi dengan membawa anak keduanya yang masih bayi. 


Pasangan/ suami memahami nilai sebuah organiasasi, ada mimpi kebaikan yang terus dihidupi, ada hasrat menjadi manusia yang berperan serta kualitas pribadi perempuan/istri yang terus ditumbuhkan. Dukungan penuh pasangan sebagai system dalam keluarga sangat diperlukan untuk melahirkan perempuan organisatoris yang militan sekaligus sosok ibu yang bewawasan intelektual. Keduanya modal penting dalam menghadapi tantangan zaman yang mensyaratkan lahirnya perempuan yang berdaya dan adaptif.


Kedua, respon empati pimpinan organisasi. Meletakkan Fatayat sebagai supporting system, sebagai organisasi ramah anak. Bagi perempuan yang gemar beraktivitas, organisasi adalah dunianya. Anak adalah dunianya. Tidak ada sekat-sekat yang melembagakan, menginstitusikan. Perempuan organisatoris menjadi pribadi yang terdidik dan berdaya. Makin bahagia, sehat mental dan bertumbuh tanpa barrier pengalaman biologis.


Perspektif ini seperti sebelum masa industrialisasi, eyang-eyang kita zaman dulu tidak punya konsep ruang domestik dan ruang publik. Rumah bukan hanya ruang domestik, tapi juga ruang produksi. Demikian pula sawah dan pasar. Bayi zaman dulu diajak ke sawah dan ke pasar. 


Empati Perempuan


Belum lama ini seorang korban kekerasan seksual yang terjadi di tempat kerjanya mengatakan bahwa pada saat ia pertama kali melaporkannya ke polisi, ia malah disalahkan dan dituduh terlalu konservatif dan tidak mengenal friendly gesture. Ini hanya salah satu contoh dimana seorang korban disalahkan karena telah dilecehkan. 


Banyak orang berpikir bahwa mereka sudah berempati pada orang lain, tetapi mungkin saja yang dilakukan hanya sekedar bersimpati kepada mereka. Sebenarnya apa empati itu?


Empati adalah kemampuan seseorang untuk dapat memahami apa yang orang lain rasakan secara emosional atau singkatnya membantu membayangkan jika diri kita ada di posisi orang lain. Mungkin tidak semua orang memiliki tingkat empati yang sama. Mengembangun rasa empati sangat penting untuk hubungan dan berperilaku dengan kasih sayang.

Perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, dan pengalaman-pengalaman ini lebih bisa dirasakan sesama perempuan. Perempuan mengalami tidak enaknya mendapat komentar.


"Kerja mulu. Pantesan belum punya anak. Udahlah mbak, perempuan tuh paling penting punya anak. Nggak perlu segitu ngoyonya cari uang." 

"Eh, dia sibuk banget kerja? Gimana nasib anaknya?" 

"Heran deh sama mbak ini, umur segini masih sendiri. Ngejar dunia banget sampai-sampai diri sendiri nggak dipikirin."

 

Perempuan lebih mudah bersolidaritas untuk pelecehan dan stigma yang menimpa perempuan.


Woman supporting woman adalah sebuah kesadaran bahwa perempuan dapat saling berempati. Kesadaran ini memiliki kepercayaan, bahwa pengalaman tubuh dan pengalaman sosial perempuan lebih mudah dipahami oleh sesama perempuan.


Sekalipun itu tidak mudah. Mengapa? Norma lama mengajarkan sesama perempuan untuk saling berkompetisi. Para perempuan dididik sinetron televisi untuk saling mencurigai, menyalahkan, dan saling menjatuhkan. Woman supporting woman akan membuktikan bahwa sesama perempuan dapat saling bekerja sama dan saling mendukung untuk menguatkan perempuan yang selama ini dianggap lemah. 


Spirit Kartini dalam Fatayat untuk pemberdayaan perempuan


Kartini selamanya jelas bukan tentang kebaya dan parade. Kartini adalah seorang pemikir kemanusiaan, pendidik, seniman, pengusaha, penggerak dan makelar kriya Jawa ke pasar Eropa sekaligus diplomator ulung. Batin Kartini adalah debur ombak kemanusiaan yang ingin menenggelamkan segala bentuk penindasan. 


Kartini adalah kisah perempuan remaja yang berpikir melampaui dinding bangunan yang mengungkungnya. Pendidikan bagi Kartini adalah pencair kebekuan nalar agar mampu mengajukan pertanyaan hingga terbentuk kesadaran untuk mengubah nasib. 


Fatayat sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia mengajak semua perempuan untuk bergerak menuju terpenuhinya keadilan dan kesejahteraan perempuan melalui penguatan hak-hak perempuan. Selaras dengan spirit Kartini yang tetap percaya pada pendidikan. Pendidikan yang serupa ruh. 


Apa yang dapat kita lakukan di lingkungan terkecil kita? 


Perlahan, hapus pandangan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah tunggal dan perempuan bertugas untuk menjadi pengasuh. Keduanya dapat bertukar peran dan perlu berbagi peran. Sehingga terbangun system (tim) yang baik. Ajarkan pada anak laki-laki dan perempuan bahwa mereka semua punya tanggung jawab yang sama dalam pendidikan, ekonomi dan domestik. 


System bukan "hanya", tapi big deal, hal besar yang dapat menentukan apakah seseorang langkahnya bisa maju atau tidak. Sehingga melahirkan perempuan-perempuan terdidik, produktif secara intelektual dan mandiri secara ekonomi. Perempuan berdaya yang tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri, tapi juga akan berperan buat keluarga, masyarakat dan negara.

Selamat Hari Kartini, pe-er kita masih banyak.


(Oleh: Diah Arifika, M.Sc, Korbid LITBANG PC Fatayat NU Kab.Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar