Pertunjukan Seni Tari Bukan Sekadar Aspek Estetika

Dilihat 26 kali
Pementasan koreografi bertajuk Gumregah Jurit di SMA Seminari Mertoyudan Kabupaten Magelang (23/8/2026) dapat menguatkan pendidikan karakter secara utuh dan menyeluruh.

Diiringi bunyi gamelan dengan irama lancaran dan gangsaran, tujuh penari laki-laki masuk ke panggung yang berbentuk open air stage (panggung terbuka). Gerak-gerak dinamis mengacu pada gerak tari putra gagah mendominasi dari perjalanan penyajian pentas tersebut. Gerak murni dan gerak maknawi terpadu dalam bingkai harmoni mewujud dalam suatu kesatuan dengan irama maupun karakter yang dibawakan oleh masing-masing penari.


Berbagai formasi gerak yang dibawakan oleh para penari dalam komposisi kelompok, baik itu formasi serempak, berimbang, terpecah, seling-seling, atau bergantian dapat tervisualisasikan dengan jelas. Potensi penari yang berimbang satu dengan lainnya menjadikan pertunjukan semakin dapat dinikmati oleh penonton.


Adegan tersebut mengawali pementasan koreografi tari bertajuk Gumregah Jurit yang dibawakan oleh para seminaris kelas persiapan pertama di GOR Laudato Si Kompleks SMA Seminari Mertoyudan Magelang, Minggu (23/8/2026). Tari yang mevisualisasikan keperkasaan prajurit Kerajaan Majapahit tersebut dipentaskan dalam acara Hari Orang Tua kelas persiapan pertama angkatan 115. Respon penonton yang didominasi orang tua para seminaris sangat positif. Dalam rentang waktu 40 hari, para seminaris kelas persiapan pertama dapat menyajikaan pertunjukan spektakuler kolaborasi antara seni tari dan karawitan.


Animo Remaja


Di tengah derap gegap gempita digitalisasi saat ini, ternyata masih ada remaja yang saat ini dikatakan generasi alpha yang masih respek pada seni tradisional. Animo remaja di berbagai daerah dalam proses kreatif seni tradisional maupun di ajang-ajang perhelatan festival masih diperhitungkan.


Salah satunya di SMA Seminari Mertoyudan Kabupaten Magelang. Di lembaga pendidikan calon imam ini, para murid diwajibkan mengikuti ekstrakurikuler wajib seni tradisional karawitan dan seni tari mulai kelas persiapan pertama atau kelas nol. Hasil dari proses kreatif tersebut wajib dipentaskan pada acara-acara khusus seperti open house, malam kreativitas, Petrus Kanisius, dan berbagai acara lainnya.


Dengan adanya ruang berekspersi akan menjadikan para murid termotivasi untuk terus melakukan proses kreatif guna manyalurkan semua potensi yang dimiliki. Dari pengalaman mereka selama belajar menari di awal masuk sampai dapat pentas, ternyata dinamikanya sangat beragam. Mereka dapat berkolaborasi dengan sesama teman karena harus menari dalam format tari kelompok. Di samping itu, berlatih rutin dan konsisten, serta mengatur waktu merupakan wujud dari suatu disiplin personal yang harus dimiliki oleh masing-masing pribadi.


Apabila ditelisik lebih mendalam, seni tari juga berfungsi sebagai media edukasi yang efektif. Melalui gerakan tari, nilai-nilai budaya, sejarah, dan budi pekerti dapat ditanamkan kepada generasi muda secara lebih mendalam. Di samping itu, seni tari memiliki peran penting untuk menguatkan aspek motorik halus dan kasar anak, meningkatkan koordinasi, keseimbangan, serta merangsang kreativitas. Dalam konteks pendidikan, tari tidak hanya mengajarkan gerak, tetapi juga disiplin, kerja sama, dan apresiasi terhadap seni budaya.


Di samping itu, seni tari dapat dipakai sebagai media pendidikan untuk menumbuhkan kepribadian atau membentuk karakter dengan menggali karakteristik masing-masing murid. Nilai-nilai karakter tersebut di antaranya, disiplin, bertanggung jawab, kreatif, dan toleransi. Toleransi terlihat saat murid mampu menerima perbedaan pendapat antara sesama dan saling menghargai baik dengan guru maupun sesama mereka. Disiplin terlihat saat mereka mengumpulkan tugas sesuai dengan kesepakatan dan disiplin waktu saat latihan secara berkelompok. Kreatif murid muncul saat mereka mengeksplor gerak, menjawab pertanyaan yang diberikan guru, berani menampilkan ide atau pendapat serta berani mengambil keputusan. Tanggung jawab terlihat saat mereka mampu menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan, memiliki kekuatan pengendalian diri, dan memiliki kemauan keras bekerja selama melakukan proses kreatif  bersama kelompoknya.  


Pada saat komunikasi pada diri murid sering terhambat, karena kemampuan personalnya yang berbeda-beda, seni tari dapat menjadi media komunikasi yang efektif mampu memberikan peluang untuk menyatakan dengan bahasa ragawi, yaitu dapat menyatakan kegembiraannya atau perasaan-perasaan yang dialami, seperti gagasan-gagasan budaya, nilai-nilai dan tema-tema pada cerita-cerita dramatik, imajinatif atau romantik. Di samping itu, seni tari juga dapat mengkomunikasikan segenap cita rasa tertentu yang berada di dalam batin seseorang (Robby Hidayat, 2019).


Lebih jauh lagi seni tari dapat berfungsi sebagai media pengenalan nilai-nilai budaya secara holisitik, karena karena setiap gerakan, busana, dan iringan musik merefleksikan identitas, nilai sosial, serta pandangan hidup suatu masyarakat. Adapun visualisasinya penonton dapat secara langsung melihat bentuk pakaian adat, aksesoris, hingga instrumen musik pengiring spesifik suatu daerah. Sedangkan berbagai ragam seni tari di Indonesia banyak bersumber dari cerita rakyat atau epos historis yang mengandung pesan tentang budi pekerti, kepahlawanan, dan kasih sayang, seperti Sabai Nan Aluih dari Sumatera Barat, Jayaprana Layonsari dari Bali, Rara Mendut Pranacitra dari Jawa Tengah, dan sebagainya.


Ruang Berekspresi


Pada dasarnya, seni tari dapat berperan kompleks dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak hanya sekadar aspek estetika. Di dalamnya memuat nilai kompleks yang dapat membentuk murid menjadi pribadi utuh. Pembelajaran seni tari merupakan media yang dapat digunakan untuk mencapai keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam kehidupan, hingga dapat dipakai sebagai wadah penanaman karakter bagi murid sekaligus untuk mengenali budaya Indonesia.


Pendidikan seni tari selalu berkorelasi dengan pendidikan karakter karena aktivitasnya menyentuh secara substansial dengan nilai-nilai penguatan pendidikan karakter, seperti ekspresi, eksplorasi, kreasi, apresiasi baik melalui aspek bunyi, gerak, rupa, dan peran.  Selebihnya, seni tari dapat memberikan didikan yang dapat membentuk kepribadian karena dalam pembelajaran seni tari murid diharapkan mampu mengolah dirinya sendiri sesuai dengan apa yang mereka rasakan dan hal ini dapat membentuk jiwa serta emosional dalam dirinya.


Untuk itu, kiranya jiwa-jiwa muda yang sedang bertumbuh tersebut perlu diberi ruang berekspresi agar talenta-talenta nilai-nilai budaya yang tertanam dalam dirinya semakin membumi. Lembaga Pendidikan perlu memberikan fasilitas yang memadai dan representatif. Fasilitas berkesenian di lembaga pendidikan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan pokok untuk perkembangan anak secara utuh. Seni merangsang otak kanan, melatih kepekaan emosional, dan membangun karakter yang tidak bisa didapatkan hanya dari pelajaran eksakta.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 👧🧒✨ 1.217 anak dari seluruh Kabupaten Magelang berkumpul dalam Puncak Hari Anak Nasional ke-42 dengan tema “Sayangi Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Bersama, Pemkab Magelang dan seluruh OPD berkolaborasi menghadirkan ruang yang aman, nyaman, sehat, dan ramah anak demi mencetak generasi cerdas, berkarakter, dan siap membangun masa depan daerah. 🇮🇩❤️ Karena masa depan Magelang dimulai dari anak-anak hari ini! 🌟 #HAN2026 #HariAnakNasional #KabupatenMagelang #Magelang #AnakIndonesia ♬ original sound - kominfomagelang