Wayang Orang Sebagai Drama Tari Ritual Kenegaraan

Dilihat 1497 kali
Foto: wargajogja.net

Bila ditelisik lebih jauh, di Yogyakarta pernah berkembang dengan baik sebuah seni pertunjukan berbentuk drama tari berdialog dengan bahasa Jawa yang dikenal dengan wayang orang. Berbeda dengan wayang orang yang dicipta oleh Adipati Mangku Nagara I dari Mangkunegaran Surakarta, wayang orang istana Yogyakarta ini merupakan drama tari ritual kenegaraan yang dicipta oleh  Sultan Hamengku Buwana I pada sekitar tahun 1756.


Konsepsi penciptaan wayang orang di istana Yogyakarta ini merupkan kiat untuk menghidupkan kembali pertunjukan wayang dari masa Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan sebutan wayang wwang. Kiblat Sultan Hamengku Buwana I berorientasi ke Majapahit sangatlah beralasan, karena sebagai raja baru dari kerajaan yang merupakan bagian dari kerajaan Mataram Surakarta, ia ingin tampil sebagai raja yang sah sebagai pewaris tahta dari garis keturunan Majapahit. 


Menjaga keseimbangan


Di dalam tradisi Jawa menurut penelitian R. Von Heine-Geldern dalam Conceptions of State and Kingship in Southeast Asia (1956) terungkap bahwa seseorang yang ingin menjadi raja bukan saja karena ia terbukti  masih merupakan  sosok aristrokrat keturunan raja terdahulu, tetapi ia harus memiliki  wahyu sebagai benda pusaka, serta bisa menjaga keseimbangan dunia dengan berbagai kekuatan alam.


Wayang orang gaya Yogyakarta mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII (1921-1939). Pada masa 18 tahun itu di istana Yogyakarta diproduksi pertunjukan wayang orang sebanyak 15 lakon yang bermacam-macam yang dominasinya bersumber pada wiracarita Mahabharata.


Pergelaran wayang orang di istana Yogyakarta dahulu selalu dimulai dari pukul 06.00 pagi dan berakhir pada sore hari menjelang matahari tenggelam. Pemilihan saat pertunjukan ini hanya bisa dipahami melalui konsepsi kenegaraan Kasultanan Yogyakarta, bahwa dari nama kerajaan Ngayogjakarta dan gelar Hamengku Buwana, jelas mengindikasikan penguasaYogyakarta itu melegetemasikan dirinya dengan Dewa Wisnu. Gelar Hamengku Buwana yang berarti pemelihara dunia adalah gelar yang sama artinya dengan fungsi Dewa Wisnu sebagai pemelihara dunia.

 

Sedangkan nama Ngayogjakarta mengacu kepada nama Ayodya, kerajaan Sri Rama. Tokoh Rama dalam pewayangan adalah inkarnasi Wisnu. Dalam pantheon dewa-dewa di Jawa, Wisnu juga dianggap sebagai dewa pemelihara dunia. Dari data-data tersebut bisa diprediksikan bahwa pertunjukan wayang orang yang dimulai dari pukul 06.00 pagi dan berakhir saat matahari tenggelam merupakan upacara penghormatan kepada Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara dunia (Soedarsono, 1985).


Sebagai seni pertunjukan istana tentunya terdapat tatanan normatif dengan berpedoman pada tata cara dan etika istana sebagai ajaran moral yang di dalamnya juga terkandung nilai edukasi yang berlaku secara general untuk semua pendukung seni pertunjukan spektakuler tersebut.

Nilai etika


Nilai etis atau etika wayang orang gaya Yogyakarta ini, secara praksis dapat diamati misalnya dari tata cara berpakaian saja telah memberikan contoh-contoh yang baik bagi komunitasnya. Tata busananya, meskipun didesain berdasarkan pertimbangan estetis, namun masih konsisten berpijak pada tata susila Jawa yang spesifik. Hal ini tampak jelas pada tata busana untuk pemeran puteri. Para pemeran puteri ini mengenakan kain panjang yang membalut seluruh tubuh penari bagian bawah dari perut sampai  kaki. 


Cara mengenakan kain juga agak kencang, hingga memberikan kesan bahwa seorang wanita Jawa tidak pernah mengangkat kaki tinggi-tinggi, melangkah kaki lebar-lebar, serta membuka kaki. Sampur adalah selendang yang merupakan bagian tata busana yang sangat baku pada tari Jawa, dililitkan melingkari perut, dan kedua ujungnya berjuntai dari pusar sampai hampir menyentuh kaki. 


Sampur yang dikenakan dengan cara sedemikian rupa jelas merupakan pertimbangan etis agar penari puteri waktu memegangnya tidak perlu membuka lengan. Sebab membuka lengan akan mengurangi nilai kewanitaannya.


Sebaliknya untuk pemeran laki-laki cara mengenakan tata busananya lain sekali dengan peranan puteri. Tari Jawa gaya Yogyakarta adalah tari yang memiliki karakterisasi gerak untuk peranan laki-laki yang sangat maskulin, yaitu dengan mengenakan pola gerak yang selalu melebar. Untuk kebutuhan gerak ini penari putera mengenakan celana agak panjang yang menutupi bagian badan bawah dari perut sampai ke bawah lutut. Kainnya pun dipakai dengan cara spesifik, yang menutup perut sampai di atas lutut dengan model supit urang (seperti model supit udang yang berbentuk lancip di tengah).


Selain itu setiap tari pasti didahului oleh gerak sembah yaitu gerak yang mengandung maksud untuk menyampaikan hormat dari seorang bawahan kepada orang yang stratifikasi sosialnya lebih tinggi. Secara teknis kedua telapak tangan ditangkupkan, kemudian digerakkan ke depan wajah, dua ibu jari hampir menyentuh hidung. Gerak sembah ini dilakukan, karena penonton utama adalah sultan, hingga apabila seorang penari akan berdiri ia melakukan gerak sembah terlebih dahulu. Hal ini berpijak pada konsepsi bahwa wayang orang merupakan sebuah karya seni yang dilandasi oleh konsep-konsep estetis dan etika istana.


Di istana Yogyakarta pendidikan tari bagi para putera-puteri sultan dan para kerabat istana bertujuan untuk menanamkan nilai moral dan humaniora. Di samping itu dapat diketahui bahwa istana Yogyakarta memiliki konsep pendidikan yang mengarah pada pembentukan manusia menjadi pribadi yang utuh. Hal ini diketahui dengan adanya kewajiban para putera-puteri  sultan untuk menuntut ilmu dan seni. Tujuan utamanya agar tidak terjadi keterputusan generasi, agar wayang orang tetap eksis di tengah dinamika zaman.


Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar