Saparan Mantran Wetan, Warga Rogoh Jutaan Rupiah Demi Lestarikan Tradisi

Dilihat 23 kali

BERITAMAGELANG.ID - Udara dingin yang menyelimuti lereng Gunung Andong tidak menyurutkan semangat masyarakat Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, untuk menggelar tradisi Saparan atau Merti Dusun, Rabu (29/7/2026). Tradisi turun-temurun tersebut menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diterima sekaligus doa agar keselamatan, keberkahan, dan hasil pertanian warga semakin baik di masa mendatang.

Meski hasil panen komoditas hortikultura, terutama sayuran, tengah mengalami penurunan, masyarakat tetap berkomitmen melaksanakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Bahkan, bagi warga Mantran Wetan, perayaan Saparan dinilai lebih meriah dibandingkan Hari Raya Idulfitri karena menjadi momentum berkumpulnya seluruh keluarga besar, kerabat, hingga sanak saudara dari berbagai daerah.

Rangkaian acara dimulai pukul 08.25 WIB dengan arak-arakan tiga gunungan hasil bumi dari musala menuju panggung utama di depan rumah Kepala Dusun Mantran Wetan yang berjarak sekitar 500 meter. Warga berjalan kaki sambil membawa tumpeng, ingkung, serta aneka lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi dan harapan akan kemakmuran.

Salah seorang warga Dusun Mantran Wetan, Giyanto mengatakan, biaya terbesar dalam pelaksanaan Saparan justru digunakan untuk menjamu tamu yang datang bersilaturahmi ke rumah-rumah warga.

"Anggaran terbesar setiap Saparan ini untuk biaya menjamu para tamu yang berkunjung ke rumah-rumah warga. Saat Saparan seperti ini, kami menerima kunjungan teman dan kerabat untuk bersilaturahmi," kata Giyanto.

Menurutnya, meskipun harga hasil pertanian sedang mengalami penurunan, warga tetap rela mengeluarkan biaya cukup besar demi mempertahankan tradisi leluhur tersebut.

"Walaupun hasil sayuran sedang turun tajam, kami tetap melaksanakan Saparan. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang harus dijaga," ujarnya.

Giyanto mengungkapkan, setiap kepala keluarga sedikitnya mengalokasikan anggaran sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta untuk mempersiapkan perayaan Saparan. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan kenduri, menjamu tamu, hingga membeli berbagai bahan makanan yang harganya meningkat menjelang pelaksanaan tradisi.

Untuk keluarganya sendiri, ia menyembelih lima ekor ayam kampung yang digunakan sebagai ingkung dalam kenduri sekaligus hidangan bagi para tamu.

"Harga ayam kampung menjelang Saparan juga naik. Satu ekor ayam jantan bisa mencapai Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Padahal, rata-rata setiap keluarga minimal menyembelih dua ekor ayam," katanya.

Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko menjelaskan, Saparan merupakan tradisi adat yang secara konsisten dilaksanakan setiap Rabu Pahing pada Sapar dalam penanggalan Jawa.

Menurutnya, tradisi tersebut merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian hortikultura sekaligus doa bersama agar warga selalu diberi keselamatan, kesehatan, dan kelancaran dalam mengolah lahan pertanian.

"Tradisi Saparan ini merupakan ungkapan syukur atas hasil panen tanaman hortikultura masyarakat Dusun Mantran Wetan. Pada Saparan ini kami juga memohon kepada Tuhan agar seluruh warga diberikan keselamatan, kehidupan yang tenteram, serta terus diberi semangat dalam menggarap pertanian," ujar Handoko.

Ia mengatakan, masyarakat juga masih memegang teguh nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Salah satunya adalah keyakinan bahwa pelaksanaan Saparan harus tetap dilaksanakan pada Rabu Pahing.

"Dulu pernah ada pelaksanaan yang tidak dilakukan pada hari Rabu Pahing. Saat itu hampir seluruh nasi untuk kenduri menjadi basi. Sejak itu masyarakat semakin yakin bahwa tradisi ini harus dijalankan sesuai ketentuan yang diwariskan para leluhur," tuturnya.

Selain menjadi ungkapan syukur, Saparan juga mencerminkan semangat masyarakat dalam menjaga sektor pertanian hortikultura sebagai penopang utama perekonomian desa sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Perayaan Saparan tidak hanya diisi dengan prosesi ritual adat, tetapi juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni tradisional. Salah satu yang paling dinantikan adalah pementasan Jaran Papat, tarian tradisional yang selalu menjadi pembuka rangkaian kesenian dalam acara tersebut.

Berbeda dengan pertunjukan kuda lumping pada umumnya, Jaran Papat hanya dimainkan oleh empat orang penari yang seluruhnya merupakan warga lanjut usia. Mereka dipilih karena dinilai masih memahami pakem dan nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Handoko menjelaskan, empat penari dalam Jaran Papat melambangkan empat penjuru mata angin dengan satu pusat kehidupan yang mencerminkan keseimbangan, persatuan, dan keharmonisan hidup masyarakat.

Melalui pelaksanaan Saparan yang terus dijaga setiap tahun, masyarakat Dusun Mantran Wetan berharap tradisi warisan leluhur tetap lestari di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi pengingat pentingnya rasa syukur, kebersamaan, dan semangat menjaga pertanian sebagai sumber kehidupan warga lereng Gunung Andong.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 🚧🇮🇩 TMMD Sengkuyung Tahap III 2026 resmi dimulai di Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Selama 30 hari ke depan, TNI bersama Pemkab Magelang, Pemprov Jateng, dan masyarakat akan bergotong royong membangun jalan cor blok sepanjang 500 meter, talud senderan 70 meter, serta menggelar berbagai penyuluhan mulai dari bela negara, kesehatan, hingga bahaya narkoba. Program ini diharapkan mampu meningkatkan akses warga, mendorong perekonomian desa, sekaligus memperkuat semangat kemanunggalan TNI dan rakyat. 💪 Bagaimana pendapatmu tentang program TMMD untuk pembangunan desa? Tulis di kolom komentar! 👇 #Magelang #TMMD #tniindonesia🇮🇩 ♬ original sound - kominfomagelang