BERITAMAGELANG.ID - Semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya Indonesia mewarnai pergelaran seni tari bertajuk "Karsa Persada Nusantara" yang mengusung tema "Satu Tekad, Satu Jiwa, Menjaga Wibawa Negeri" di Atrium Hall Armada Town Square (Artos), Kabupaten Magelang, Sabtu (1/8/2026). Pergelaran yang digelar Sanggar Pariwisata (Sangpari) bekerja sama dengan Artos ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Acara tersebut menampilkan beragam tari tradisional, tari kreasi, hingga tari kontemporer yang dibawakan para peserta didik Sangpari. Selain menjadi ruang apresiasi seni, kegiatan ini juga merupakan bentuk evaluasi hasil pembelajaran selama satu semester sekaligus upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Nusantara.
Sanggar Pariwisata (Sangpari) yang berpusat di Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, dikenal sebagai wadah pelatihan dan pengembangan seni budaya yang konsisten melestarikan warisan budaya Indonesia. Sanggar ini resmi berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang sejak 2023 melalui Sertifikat Pengesahan Nomor 431.1/1474-P.B/04.5c/2023 dan saat ini membina lebih dari 50 peserta latihan tetap.
Pendiri Sangpari, Rahendhika Ratik Galindra mengatakan, pagelaran ini merupakan bentuk pertanggungjawaban atas proses pembelajaran para peserta sekaligus media untuk memperkenalkan seni budaya kepada masyarakat luas.
"Kegiatan ini dikemas secara modern sebagai bentuk revolusi mental generasi muda, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, serta sebagai wujud pengabdian nyata menjaga warisan budaya tak benda atau intangible cultural heritage," ujar Rahendhika.
Menurutnya, memberikan ruang tampil kepada para peserta merupakan bagian penting dalam proses pembinaan. Selain mengasah kemampuan teknis, pengalaman tampil di hadapan publik diharapkan mampu membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, serta kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Indonesia.
Pergelaran tersebut juga menghadirkan sejumlah seniman muda sebagai dewan penguji dan pengarah artistik, salah satunya Ashallom Daniel Doohan atau Eldo. Ia menilai keberlangsungan seni tari tradisional bergantung pada upaya regenerasi yang dilakukan sejak sekarang.
"Sekarang mungkin seni tari tradisi masih ada, tapi 10 tahun ke depan kita tidak tau apakah seni tari tradisi ini akan tetap eksis dan digandrungi oleh anak muda. Acara ini merupakan kegiatan yang dapat menambah semangat baru dalam pelestarian budaya Indonesia agar tetap lestari," ujar Eldo.
Ia berharap kegiatan serupa terus diselenggarakan agar semakin banyak generasi muda yang mengenal, mempelajari, dan mencintai seni tari tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa.
Di balik penampilan para penari, terdapat dukungan besar dari para orang tua yang setia mendampingi proses latihan hingga hari pertunjukan. Salah satunya adalah Hanaki Restu Putri atau Puput, orang tua salah satu peserta, yang mengaku terharu melihat putrinya tampil untuk pertama kalinya di panggung besar.
Menurut Puput, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan, baik bagi putrinya maupun seluruh keluarga. Ia merasa bangga melihat anaknya mampu tampil percaya diri di hadapan ratusan penonton setelah melalui proses latihan yang tidak singkat.
"Ini menjadi pengalaman pertama bagi putri saya tampil di atas panggung sebesar ini. Sebagai orang tua tentu saya sangat bangga melihat keberaniannya. Terima kasih kepada Sangpari yang sudah memberikan kesempatan, membimbing anak-anak dengan sabar, dan menghadirkan wadah yang luar biasa untuk mengembangkan bakat mereka," ujar Puput.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak anak-anak di Kabupaten Magelang yang memiliki kesempatan mengenal, mencintai, dan melestarikan seni budaya Indonesia sejak usia dini.
Selama pergelaran berlangsung, penonton tampak antusias memberikan tepuk tangan di setiap akhir penampilan. Ragam koreografi yang dipadukan dengan tata busana, musik, dan pencahayaan menghadirkan pertunjukan yang memikat sekaligus memperlihatkan kemampuan para penari dalam menghidupkan nilai-nilai budaya Nusantara di atas panggung modern.
Melalui Karsa Persada Nusantara, Sangpari tidak hanya menghadirkan hiburan berkualitas, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya populer, seni tradisional tetap memiliki ruang untuk tumbuh apabila terus diperkenalkan, dipelajari, dan diberi kesempatan tampil di hadapan masyarakat.
Pergelaran ini menjadi bukti bahwa generasi muda Kabupaten Magelang mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan budaya Indonesia. Dengan kolaborasi antara sanggar, keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak, seni tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dihidupkan sebagai identitas bangsa yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

@kominfomagelang Lebih dari 3000 peserta padati Fun Bike "Gowes Kemerdekaan" dan Senam Bersama HUT ke-81 RI di Kabupaten Magelang. Bukan sekadar olahraga, momen ini jadi ajang perekat keharmonisan antara pemerintah, media, dan warga. Kayuh terus semangatnya🚴 Kamu ikutan juga tadi?
♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar