Hari Warisan Dunia, Balai Konservasi Borobudur Gelar Talkshow dan Games Edukatif

Dilihat 1898 kali
Peserta mengikuti game edukasi Peringatan Hari Warisan Dunia di Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (18/4/2019).

BERITAMAGELANG.ID - Puluhan anak muda dari berbagai komunitas di Kabupaten Magelang mengikuti game menarik dalam rangka memperingati Hari Warisan Dunia Tahun 2019. Mereka tampak asyik mencari jawaban dari sebuah misteri di panel stupa Candi Borobudur. Kegiatan penuh edukasi menarik tersebut merupakan salah satu upaya mempertahankan lansekap Cagar Budaya Warisan Dunia Candi Borobudur dari ancaman degradasi pembangunan pemukiman.


Berbekal selembar kertas petunjuk, dengan antusias puluhan pemuda yang terdiri dari pelajar, dan perwakilan komunitas berburu jawaban di bangunan Candi Agung Borobudur Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Kamis (18/4/2019).


Dalam permainan itu, para peserta terbagi dalam beberapa kelompok diskusi untuk bisa menemukan satu jawaban di antara ratusan panel stupa maupun benda lain yang ada di sekitar Candi peninggalan Wangsa Syaelendra tersebut. Tidak hanya berburu petunjuk, para peserta juga diwajibkan mengunggah temuan jawaban itu ke akun media sosial masing masing beserta keterangannya.


"Gamenya sangat seru menantang sekali, karena kita harus teliti dan mencermati bangunan candi di sekitarnya untuk menemukan jawaban," kata salah satu peserta pelajar, David.


Bagi David, dengan mengikuti game atau permainan ini dirinya mendapat pengetahuan baru tentang Candi Borobudur.


"Candi Borobudur sangat besar, ada budaya dan tradisi yang harus dijaga dan dipelajari," ungkapnya.  


Permainan yang diawali dengan talkshow Hari Warisan Dunia atau World Heritage Day 2019 di Lapangan Pos Kenari pelataran Candi Borobudur itu digelar oleh Balai Konservasi Borobudur. 


Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Tri Hartono mengungkapkan Hari Warisan Dunia diperingati setiap 18 April, untuk kali ini ‘Rural Landscape’ atau kawasan pedesaan menjadi tema utama yang diangkat dalam upaya mempertahankan lingkungan sekitar sebuah cagar Budaya Warisan Dunia. 


“Selama berabad-abad lansekap Candi Borobudur telah membentuk perpaduan, dari akumulasi dan adaptasi terhadap kondisi lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi. Kondisi itu harus dipertahankan dari degradasi pembangunan gedung dan pemukiman. Kondisi itu harus dipertahankan," kata Tri saat ditemui BeritaMagelang.id di sela acara.


Menurutnya, lansekap Candi Borobudur membentang dari kawasan Palbapang hingga bangunan Candi Borobudur, Mendut dan Pawon. 


"Kita berharap kawasan Borobudur ini yang berada di kawasan pedesaan bisa dapat dipertahankan. Dengan luasan yang cukup luas, berdasarkan Permendikbud terbaru luasnya mencapai 8.132 ha. Kita harus menjaga kawasan ini harus tetap lestari, dimana persawahan antar Palbapang hingga Borobudur bisa dipertahankan," jelasnya.


Tri menuturkan, dibutuhkan sinergitas bersama untuk mengendalikan degradasi lansekap dari pembangunan yang tak terarah, seperti gedung bertingkat dan menara BTS. Hingga saat BKB masih kesulitan mengendalikan pembangunan di sekitar Candi Borobudur.


"Mempertahankan kawasan-kawasan itu masih menjadi kendala hingga saat ini. Itulah tema yang harus kita kampanyekan ke masyarakat, kalau wilayah wilayah itu terdegradasi atau mengalami penurunan otomatis Borobudur akan mengalami penurunan nilai. Dampaknya jika dibiarkan terus maka Cagar Budaya Borobdur warisan dunia akan dicabut oleh UNESCO," tegasnya.


Lebih lanjut Tri berharap semua element masyarakat terlibat untuk melestarikan kawasan Candi Borobudur agar tetap lestari menjadi simbol peradaban budaya dunia. 


"Candi Borobudur merupakan bukti perpaduan yang kaya dan kompleks dari warisan benda, tak benda, dan tradisi yang masih berjalan, dari berbagai waktu, dimana perubahan, transformasi dan evolusi masih terus berjalan secara dinamis dengan pedesaan yang hidup di sekitar Candi Agung Borobudur," pungkasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar