BERITAMAGELANG.ID - Para petani kopi di lereng Gunung Merbabu Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang memperluas perkebunan kopi lewat tradisi manual dan mekanis, Rabu (21/1).
Mereka membuka lahan tanpa membakar. Konservasi itu pula yang membuat kopi Arabika Sawangan berkualitas premium di pasaran.
Lokasi penanaman bibit kopi seluas satu hektar diawali dengan menapaki jalan setapak kecil menuju lokasi di puncak lahan bukit terasering.
Tamu undangan juga turut berjalan kaki menuju lokasi lahan baru yang merupakan milik Pandi, salah satu anggota Kelompok Tani Nongko Jajar Dusun Windusabrang Desa Wonolelo Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang.
"Alhamdulillah di desa kami ada penambahan tanam, yang khusus satu kelompoknya ada 10 hektar. Sedangkan di Desa Wonolelo sudah mencapai 25 hektar," kata Ketua Kelompok Tani Nongko Jajar, Sukimin di acara tersebut.
Latar belakang Gunung Merapi dan panorama indah di sekitar lokasi menambah khidmat lantunan doa selamatan tradisi wiwit tandur (mengawali tanam) kopi ini.
Prosesi itu, menurut Sukimin, merupakan ikhtiar dan harapan para petani di Kelompok Tani Nongko Jajar agar hasil panen kopi melimpah, tanpa kendala sehingga menambah sumber ekonomi.
"Dengan adanya ini, petani menjadi lebih maju dan lebih semangat untuk menanam kopi sehingga harapannya menjadi ikon kopi yang punya ciri khas tersendiri di desa Wonolelo," harapnya.
Dijelaskan Sukimin, dari penambahan luasan di Wonolelo saat ini di kisaran 25 hektar. Namun total luas lahan yang tercacat di Desa Wonolelo mencapai hampir 75 hektar.
Beberapa petani juga menerapkan pola tumpang sari antara tanaman kopi dengan tanaman hortikultura agar mendapat laba berlipat di saat harga kopi meningkat.
Sukimin mencontohkan, pada musim panen raya tahun lalu harga panen kopi Arabika Wonolelo cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Dimana untuk untuk green bean (kopi basah) mencapai Rp160.000, paling rendah Rp140.000-Rp160.000.
Sedangkan harga ceri (biji kopi kering) bisa mencapai Rp14.000-Rp15.000.
"Hasil panen untuk tahun 2025 itu dari seri itu ada kurang lebih 21 ton untuk yang kita olah di kelompok kami," ujar Sukimin.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan mengatakan, keberadaan kopi Arabika di Kabupaten Magelang saat ini mencapai luas 1.075 hektar dan ditargetkan 2026 bertambah seluas 150 hektar.
Sedangkan khusus untuk Desa Wonolelo, di tahun 2025 tercatat sebanyak 75 hektar. Hasil panen kopi robusta permusim di kisaran 2.000 ton dan arabika 141 ton.
"Dimana pada tahun 2025 untuk Desa Wonolelo kita alokasikan bantuan pengembangan Arabica dari dana APBN seluas 25 hektar," kata Romza di lokasi penanaman.
Bagi Romza adat wiwit tandur oleh Kelompok Tani Nongko Jajar, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan ini menjadi salah satu langkah pengembangan kopi Arabika di Kabupaten Magelang.
Upaya lain, menurut Romza, adalah mendorong ekosistem usaha kopi lewat Koperasi Manunggal Sejahtera. Koperasi itu menjadi wadah para petani meningkatkan ekonominya.
Untuk saat ini Distan Pangan Kabupaten Magelang juga gencar mengembangkan kopi Arabika di daerah-daerah dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl, meliputi lereng Gunung Merapi, Merabu, Sindoro, Sumbing, Telomoyo, dan Andong.
"Ini selain untuk tanaman konservasi lahan, juga nantinya konsep kami adalah konservasi yang hasilnya memberikan nilai ekonomi tinggi," jelas Romza.
Sebagai puncak tradisi wiwit tandur kopi, digelar penanaman ratusan bibit kopi oleh para petani, Kepala Desa Wonolelo M. Marpomo, perwakilan Pemerintah Kecamatan Sawangan, Pengelola Teknis Kebijakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Muhsoni, Head PMO Hilirisasi PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN) Tarwo Giyono, petugas penyuluh lapangan Distan Pangan Kabupaten Magelang, dan lainnya.
Rangkaian prosesi kemudian ditutup dengan kembul bujono atau makan bersama nasi tumpeng, ayam ingkung, jenang merah putih, dan jajanan hasil bumi setempat.

0 Komentar