BERITAMAGELANG.ID - Upaya menghidupkan kembali musik keroncong di kalangan generasi muda terus dilakukan. Tidak lagi sekadar pelatihan, kini regenerasi keroncong mulai diarahkan ke panggung kolaboratif lintas generasi melalui konsep residensi dan pertunjukan bersama.
Inisiatif itu terlihat dalam pagelaran keroncong bertajuk "Srawung Rembulan" yang digelar Yayasan Atma Nusvantara Jati (Atsanti Foundation). Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari program Atsanti Music Camp 2024 bertema "Konco Keroncong", yang sebelumnya fokus pada pengenalan dasar musik keroncong kepada pelajar.
Ketua Atsanti Foundation, MF Nilo Wardhani menjelaskan, perubahan pendekatan ini berangkat dari hasil nyata program sebelumnya. Saat itu, peserta yang sebagian besar bukan berlatar belakang keroncong justru menunjukkan respons positif hingga mendorong lahirnya ekstrakurikuler keroncong di sejumlah sekolah.
"Dari situ kami melihat ada dampak. Sekolah yang sebelumnya tidak punya ekskul keroncong akhirnya membuka, bahkan anak-anaknya sudah bisa tampil di beberapa tempat," ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Berangkat dari perkembangan tersebut, kegiatan tahun ini tidak lagi menyasar pemula, melainkan sekolah-sekolah yang sudah memiliki basis keroncong. Mereka kemudian dipertemukan dengan musisi profesional dalam satu panggung kolaborasi.
Sejumlah kelompok musik yang terlibat antara lain Omah Tumpuk dari Magelang dan Orkes Tresnawara, yang selama ini dikenal sebagai pengusung keroncong. Para pelajar juga mendapat pendampingan langsung dari musisi dan mentor seperti Imung Mulyadi dan Heri, yang sebelumnya terlibat dalam program music camp.
Tidak hanya itu, lanjut Nilo, pendekatan lintas genre juga dihadirkan dengan menggandeng musisi Panji Sakti. Dalam kegiatan ini, karya-karya Panji diaransemen ulang menjadi keroncong dan dibawakan bersama orkes.
Selain pertunjukan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan masterclass, diskusi kreatif, serta bedah buku. Topik yang diangkat tidak hanya soal teknik bermain, tetapi juga proses kreatif mencipta dan mengaransemen lagu agar dapat diadaptasi ke dalam format keroncong.
Di sisi lain, konsep residensi menjadi pembeda utama dalam kegiatan ini. Para peserta tidak hanya datang untuk tampil, tetapi tinggal bersama dan menjalani proses latihan intensif selama tiga hari pada 28-30 Mei 2026.
"Kalau hanya datang, tampil, lalu pulang, tidak ada proses srawung-nya. Padahal interaksi itu penting untuk pembelajaran," terangnya.
Peserta residensi berasal dari berbagai sekolah, di antaranya SMP Pangudi Luhur Moyudan, Sleman dan SMA Santo Yosef Solo. Keterlibatan mereka tidak hanya dalam latihan teknis, tetapi juga dalam proses kreatif bersama musisi senior.
Praktisi keroncong sekaligus pengajar ISI Yogyakarta, Imung Mulyadi menilai, pendekatan ini sebagai langkah positif dalam menjaga keberlanjutan musik keroncong. Menurutnya, ruang-ruang pembelajaran seperti ini menjadi kunci agar keroncong tidak terputus dari generasi muda.
"Ini bukan sekadar pelatihan, tapi proses berjenjang yang memberi ruang bagi anak-anak untuk berkembang dan tampil," paparnya.
Dia juga menilai, anggapan keroncong sebagai musik kalangan tua mulai terbantahkan. Antusiasme pelajar dalam kegiatan ini menunjukkan keroncong masih relevan, asalkan diberi ruang dan pendekatan yang tepat.
Namun, dia mengingatkan, regenerasi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang kaku. Menurutnya, generasi muda perlu diberi kebebasan untuk mengeksplorasi keroncong dengan gaya mereka sendiri.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar keroncong tidak sekadar bertahan sebagai warisan, tetapi juga berkembang sebagai bentuk ekspresi yang hidup di tengah perubahan zaman.
@kominfomagelang Acara penyambutan rombongan Biksu Tudong 2026 digelar di tempat ibadah Tri Dharma Hok An Kiong, Muntilan, Rabu, 27 Mei 2026. Sebanyak 50 Biksu dari berbagai negara turut serta dalam perjalanan spiritual ini. Terdiri dari 43 Biksu asal Thailand, 4 dari Malaysia, dan 3 dari Laos. Setelah dari Hok an Kiong untuk melanjutkan perjalanan ke vihara Mendut lalu berakhir ke candi Borobudur untuk acara puncak Waisak. #biksujalankaki #waisak #klenteng #magelang24jam ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar