Tingkatkan Hasil Panen Petani, BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim

Dilihat 2167 kali
Para petani di Ngluwar, Kabupaten Magelang ikuti Sekolah Lapang Iklim BMKG

BERITAMAGELANG.ID - Petani di lereng Gunung Merapi Kabupaten Magelang berhasil meningkatkan hasil panen hingga 30 persen meski dalam kondisi iklim ekstrim seperti saat ini. 


"Sehingga Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang diselenggarakan oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi penting guna mendukung program swasembada pangan nasional," demikian disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, usai membuka SLI tahap 3 di Desa Pakunden, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (05/03). 


"Rata-rata hasil produksi biasa ada kenaikan sekiar 30 persen. Tergantung lokasinya, kalau sudah bagus peningkatannya tidak terlalu tinggi, tapi kalau lokasinya marginal bisa cukup tinggi setelah diberi pengetahuan-pengetahuan tentang iklim," jelas Herizal.


Herizal menjelaskan, dalam kegiatan SLI para petani diberi pengetahuan tentang pengelolaan iklim atau musim dalam kurun tiga tahun terakhir. Saat ini para petani dituntut menguasai pengetahuan mengenai iklim guna mendukung keberhasilan proses budidaya pertanian mereka, terutama terkait ketersediaan air dan radiasi matahari yang mencukupi. Termask perubahan iklim, hingga terjadinya iklim ekstrim yang berdampak buruk pada produktivitas pertanian, misalnya akibat bencana banjir dan kekeringan.


"Saat ini, bukan lagi hanya isu perubahan iklim, tapi sudah terasa dampaknya. Iklim semakin sulit diprediksi, makin banyak iklim ekstrim. Jika tidak dikelola dengan baik, petani yang akan merasakan dampaknya, misal ketika kemarau panjang tapi petani tetap tanam maka akan rugi," paparnya.


Herizal menyebut hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah dilaksanakan SLI, meski belum merata di setiap Kabupaten/Kota karena fokus SLI masih pada pertanian tanaman padi dan diharapkan akan berkembang pada tanaman holtikultura.


"Selain di Jawa Tengah, daerah-daerah yang menjadi sampel SLI ada di Serang, Lombok, dan Sulawesi," sambungnya.


Dalam sekolah iklim ini, petani dilatih membaca informasi yang rutin diberikan oleh BMKG, seperti prakiraan musim hujan dan kemarau, evaluasi dan prakiraan hujan bulanan serta ketersediaan air tanah. Info bulanan tersebut kemudian diterapkan dalam menyusun kalender tanam, lanjutnya.


Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, Tuban Wiyoso, memaparkan untuk SLI tahap 3 ini diselenggarakan di Desa Pakunden, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Sekolah ini dalam skala kelompok dilaksanakan selama satu musim tanam pada tahun 2018. Peserta adalah kelompok tani yang berasal dari delapan desa di Kecamatan Ngluwar.


"Petak belajar (demplot) akan dikelola sesuai kebiasaan petani setempat, baik dari segi pemupukan, pengairan dan pengendalian OPT," imbuhnya. 


Uji praktek tanam tersebut akan dilaksanakan di lahan persawahan milik kelompok tani setempat dengan luasan sekitar 2.000 meter persegi. Lahan tersebut dibagi menjadi 30 titik pengamatan pada perpotongan garis diagonal serta lingkungan di sekitarnya, imbuhnya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar