Simulasi Gladi Ruang Perkuat Pembentukan Desa Tangguh Bencana di Desa Krincing

Dilihat 18 kali
Simulasi di Balai Desa Krincing

BERITAMAGELANG.ID - Puluhan peserta dari berbagai unsur masyarakat tampak serius mengikuti Time Table Exercise (TTX) atau simulasi gladi ruang penanganan bencana di Balai Desa Krincing, Kecamatan Secang, Selasa (21/7/2026). Dalam simulasi tersebut, setiap peserta memerankan tugas dan fungsinya ketika terjadi bencana, mulai dari proses penyampaian informasi, pengambilan keputusan, koordinasi antarlembaga, hingga penanganan masyarakat terdampak. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang difasilitasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang.

Simulasi gladi ruang menjadi salah satu tahapan penting dalam pembentukan Destana karena memberikan gambaran nyata kepada masyarakat mengenai peran masing-masing saat menghadapi situasi darurat. Melalui skenario yang telah disusun, peserta tidak hanya berdiskusi di atas kertas, tetapi juga berlatih membangun koordinasi, memahami alur komunikasi, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Dengan demikian, setiap unsur desa memahami siapa melakukan apa ketika bencana benar-benar terjadi.

Rangkaian pembentukan Destana di Desa Krincing sendiri berlangsung dalam empat kali pertemuan yang dilaksanakan pada 1, 5, 11, dan 21 Juli 2026. Program ini merupakan bagian dari kegiatan penguatan kapasitas kawasan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bencana yang dilaksanakan BPBD Kabupaten Magelang.

Desa Krincing dipilih karena memiliki potensi ancaman bencana, khususnya cuaca ekstrem yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menyebabkan kerusakan rumah, pohon tumbang, hingga terganggunya aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu mengenali risiko, melakukan upaya mitigasi, serta mengambil langkah yang tepat ketika bencana terjadi.

Masyarakat desa merupakan pihak yang pertama kali merasakan dampak bencana sekaligus menjadi garda terdepan dalam melakukan penanganan awal sebelum bantuan dari luar datang. Oleh karena itu, pembentukan Destana bukan sekadar memenuhi program tahunan, melainkan membangun kemampuan masyarakat agar mampu mengurangi risiko bencana secara mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan ini juga sejalan dengan Sapta Cipta Bupati Magelang, khususnya Lestari Alame, yang mendorong terwujudnya masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan sekaligus tangguh menghadapi ancaman bencana.

Pelaksanaan Destana di Desa Krincing mendapat dukungan dari CV Lavanterra Energy sebagai mitra dalam penguatan kapasitas masyarakat. Selama rangkaian kegiatan, peserta mengikuti diskusi kelompok terarah (FGD) dan pelatihan mengenai berbagai aspek pengelolaan risiko bencana. Materi yang diberikan meliputi penilaian ancaman, sejarah kejadian bencana, pemeringkatan ancaman, identifikasi karakter wilayah, penyusunan kajian risiko, pembuatan peta risiko bencana, penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), rencana kontinjensi, sistem peringatan dini, rencana evakuasi, penyusunan prosedur tetap, hingga evaluasi dan post test.

Fasilitator dan tim ahli dari CV Lavanterra Energy, Zela Septikasari menyampaikan, selama beberapa waktu mendampingi banyak Destana di Indonesia, Destana Krincing adalah salah satu yang sangat luar biasa. 

"Dapat kita lihat salah satunya dari tingkat kehadiran peserta dan antusiasme dari pertemuan pertama hingga keempat," ungkapnya.

Salah satu peserta, Ridlo Awaludin, perangkat Desa Krincing, mengaku kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.

"Alhamdulillah kami mendapatkan manfaat yang banyak sekali dari pelaksanaan kegiatan Destana Desa Krincing bersama perwakilan masyarakat. Kami mendapatkan ilmu tentang penanganan tanggap darurat bencana. Kami juga belajar pentingnya kekompakan dalam pelaksanaan kegiatan ini sehingga pada saat simulasi kami bisa menjalankannya dengan baik. Semoga ke depan selalu ada pendampingan dan pelatihan kebencanaan untuk Desa Krincing," ujarnya.

Melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana, BPBD Kabupaten Magelang berharap masyarakat tidak hanya memahami potensi ancaman di wilayahnya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bertindak secara cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika bencana terjadi. Selain itu, program ini diharapkan menghasilkan Dokumen Kajian Risiko Bencana, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta Tim Relawan Penanggulangan Bencana Desa sebagai fondasi pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan di Desa Krincing.

Kepala Seksi Pencegahan pada BPBD Kabupaten Magelang, Agus Rozali menambahkan, antusiasme peserta selama FGD mencerminkan meningkatnya kesadaran dan komitmen masyarakat untuk mengembangkan kapasitas desa serta menyebarluaskan pengetahuan pengurangan risiko bencana kepada seluruh warga. 

"Harapannya bisa benar-benar diterapkan dan BPBD siap mendampingi," kata dia.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, perwakilan dusun, relawan desa, PKK, Karang Taruna, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kelompok tani, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), hingga kelompok pedagang. Keterlibatan berbagai elemen tersebut menjadi modal penting dalam membangun jejaring sosial dan memperkuat koordinasi penanggulangan bencana di tingkat desa.

FGD bersama dengan warga Desa Krincing

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Scan. Bayar. Beres! 📲✨ Tax Gathering Kabupaten Magelang 2026 hadir dengan semangat baru! Diawali apresiasi untuk para wajib pajak terbaik 🏆, dilanjutkan Launching Trisula PAD dan implementasi pembayaran pajak daerah pakai QRIS di aplikasi e-SPTPD. Makin mudah, makin cepat, makin praktis! 🚀 #TaxGathering #Magelang #QRIS ♬ original sound - kominfomagelang