BERITAMAGELANG.ID - Masalah pertumbuhan gigi bungsu kerap menjadi momok kesehatan yang serba salah bagi masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Hal tersebut diungkapkan drg. Budi Rohman Dokter Gigi RSUD Muntilan Kabupaten Magelang saat menjadi narasumber dalam program Talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang FM, Kamis (3/9/2026).
"Gigi bungsu atau wisdom teeth merupakan gigi geraham ketiga yang tumbuh paling akhir. Benih gigi ini umumnya mulai terbentuk pada usia 14-15 tahun dan baru tumbuh serta menimbulkan keluhan pada rentang usia 17-23 tahun, bahkan hingga usia lanjut," kata drg. Budi.
Masalah timbul lantaran gigi bungsu tumbuh saat kondisi rahang sudah terisi penuh oleh 28 gigi dewasa lainnya. Akibatnya, gigi bungsu sering kekurangan ruang untuk tumbuh secara normal. Gigi ini bisa tumbuh miring, menabrak gigi di sebelahnya, tumbuh sebagian tertutup gusi (impaksi), atau bahkan terpendam sepenuhnya di dalam tulang rahang (embedded).
Fenomena gangguan gigi bungsu ini dicatat semakin sering dialami oleh generasi muda saat ini.
"Salah satu faktor pendorongnya adalah pola konsumsi makanan instan dan lunak sejak dini yang kurang merangsang pertumbuhan tulang rahang secara optimal, sehingga ukuran rahang cenderung tidak cukup menampung pertumbuhan gigi bungsu," tambah drg. Budi.
Gigi bungsu yang tidak tumbuh sempurna bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gusi bengkak, nyeri saat menelan, sulit membuka mulut, hingga terbentuknya kantung nanah (abses) yang dapat meluas dan memerlukan tindakan operasi.
Selain keluhan lokal di area mulut, impaksi atau gigi bungsu yang terpendam juga kerap memicu masalah sistemik yang tidak disadari penderitanya, di antaranya:
1. Migrain dan sakit kepala separuh: Penekanan saraf di area gigi paling belakang dapat menyebarkan rasa nyeri hingga ke kepala.
2. Gangguan pendengaran: Dorongan gigi terpendam ke area saraf belakang dapat memicu telinga berdenging (tinnitus) hingga penurunan fungsi pendengaran
3. Sumber infeksi (Vokal Infeksi): Pembusukan di gigi bungsu yang terselip atau berlubang dapat menjadi pintu masuk bakteri ke aliran darah yang berisiko memperburuk kondisi medis sistemik lainnya.
Tindakan untuk masalah gigi bungsu disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahannya:
"Mengingat banyaknya kasus yang baru terdeteksi saat kondisi sudah parah atau saat menjalani penyeleksian medis, seperti tes masuk TNI/Polri, kedinasan, maupun persyaratan kerja luar negeri," masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan," tegas drg. Budi.
Jadwal praktik drg. Budi Rohman di RSUD Muntilan pada Senin s.d. Sabtu mulai pukul 09.00 WIB s.d. selesai.
Informasi pendaftaran layanan poliklinik gigi dapat datang ke RSUD Muntilan dan mengambil antrean di Poliklinik Gigi.
Pendaftaran online/pasien BPJS: Melalui aplikasi MJKN (H-7 hingga H-1 sebelum periksa).
Pasien Non-BPJS: Melalui laman: pendaftaran.rsudmuntilan.com.
Customer Service/Informasi RSUD Muntilan via WhatsApp: 081229791058.
drg. Budi menambahkan, pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali serta foto rontgen panoramic di usia remaja sekitar 17 tahun sangat disarankan untuk memetakan posisi benih gigi bungsu sejak dini.
"Langkah preventif ini penting dilakukan agar tindakan penanganan, baik pencabutan maupun operasi kecil, dapat dilakukan secara terencana sebelum menimbulkan komplikasi berat," tutup drg. Budi.
@kominfomagelang 👧🧒✨ 1.217 anak dari seluruh Kabupaten Magelang berkumpul dalam Puncak Hari Anak Nasional ke-42 dengan tema “Sayangi Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Bersama, Pemkab Magelang dan seluruh OPD berkolaborasi menghadirkan ruang yang aman, nyaman, sehat, dan ramah anak demi mencetak generasi cerdas, berkarakter, dan siap membangun masa depan daerah. 🇮🇩❤️ Karena masa depan Magelang dimulai dari anak-anak hari ini! 🌟 #HAN2026 #HariAnakNasional #KabupatenMagelang #Magelang #AnakIndonesia ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar